Ribuan Anak Muda Terancam Jika Sabu 10,75 Kg Lolos Dipasarkan

Ribuan Anak Muda Terancam Jika Sabu 10,75 Kg Lolos Dipasarkan

  Sabtu, 7 November 2015 08:32
TERSANGKA: Kurir narkoba seberat 10,75 Kg, Dwi Kuswoyo (37) saat digelandang polisi di Mapolda Kalbar, Kamis (5/11). SHANDO SAFELA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK – Tangkapan sabu seberat 10,75 kilogram tidak boleh dianggap enteng. Jika sampai lolos dan terjual di Kalbar, sabu tersebut dapat menghancurkan generasi bangsa. Demikian disampaikan Kepala Bidang Pemberantasan BNN Provinsi Kalimantan Barat, Sriyono, Jumat (6/11).“Jika itu lolos dan dapat terjual di pasaran maka akan banyak korban-korban baru narkoba. Sabu sebanyak itu bisa menghancurkan ribuan anak muda. Ini baru satu temuan, bayangkan jika banyak narkoba yang lolos,” ucapnya kemarin.

Ia mengapresiasi pihak kepolisian atas penangkapan Sabu hampir mencapai 11 kilogram tersebut. Dalam hal ini, perlu kerjasama untuk mengatasi masuknya barang haram itu. Barang haram ini masuk melalui jalur-jalur tikus. Ke depan diperlukan banyak petugas untuk memeriksa dan memperketat wilayah rawan, sehingga kejadian ini tidak terulang lagi.Ia mengungkapkan, jalur peredaran narkoba dibawa penyelundup melalui jalan-jalan tikus. Jalan tikus itu terdapat di beberapa kabupaten di Kalbar. Di antaranya, Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Bengkayang, Sanggau dan Sambas.

“Khusus jalur tikus di Sambas kurir juga melalui jalur perairan. Pengawan di jalur tikus harus diperketat,” ungkapnya.Menurut Sriyono, temuan narkoba sebanyak itu sudah pasti ada bandar besar di baliknya. Namun ia memanfaatkan kurir agar barang haram itu dapat lolos dan dipasarkan di Kalbar.Hal senada dikemukakan Irnova Suryani, dokter di Puskesmas Pontianak Timur. Menurut Irnova, sabu sebanyak itu apabila sampai lolos dan terpasarkan di Kalbar dapat merusak ribuan generasi muda.Banyak dampak negatif penggunaan narkoba. Terutama dampak panjang bagi si pemakai. Untuk melepaskan belenggu narkoba, terutama bagi pemakai berat tentu akan terasa sulit, apabila kemauan berhenti menggunakan narkoba tidak datang dari diri sendiri.

“Pengguna napza sulit keluar dari perubah struktur di otaknya,” ungkapnya.Itupun lanjut dia, tergantung besar kecil dosis narkoba yang digunakan. Apabila dosis kecil dapat menyebabkan intosikasi atau keracunan. Intokasi dapat terjadi tidak hanya penggunaan narkoba saja, tetapi mengkonsumsi alcohol terlalu banyak dapat menyebabkan hal sama.Apabila digunakan secara berkepanjangan narkoba dapat memutuskan saraf-saraf di otak. Jika sebagian saraf otak rusak, maka akan sulit untuk mengembalikan si pengguna normal kembali.“Banyak yang berpikir, pecandu dapat sembuh apabila masuk rehabilitasi. Hal tersebut perlu diagnosa dulu. apabila telah parah, maka sulit untuk menyembuhkannya. Penanganan narkoba paling tepat adalah melakukan pencegahan,” terangnya.

Jika saraf otak telah putus, maka akan ada perubahan pada mental dan prilaku pengguna narkoba itu sendiri. Ia menjelaskan, apabila mental dan perilaku rusak maka akan sulit untuk diberdayakan kembali, meskipun mereka telah direhabilitasi.Pengguna narkoba terbagi menjadi tiga. Yaitu pengguna rekreasional, pemakai sedang, dan berat. Rekreasional merupakan pengguna ringan. Biasanya mereka menggunakan barang haram ini karena ikut-ikutan teman. Tetapi tidak dikonsumsi secara terus menerus, tetapi apabila si pengguna merasa ketagihan, bukan tidak mungkin ia bisa masuk ke taraf pengguna sedang.Pengguna sedang, kata dia, merupakan pemakai cukup. Artinya ia menggunakan narkoba tidak sering, tidak seperti pengguna berat. “Jika pengguna berat, ia akan mengkonsumsi terus secara rutin. Ini yang dapat mengakibatkan putusnya saraf otak, dan membuat prilaku mental berubah. Jalan terbaiknya adalah pencegahan,” tuturnya.

Gangguan Jiwa

Tak hanya mengganggu keuangan saja, sudah menjadi rahasia umum Napza dapat merusak fisik maupun mental penggunanya, terutama mereka yang sudah kecanduan.Pada tingkatan yang lebih parah, seseorang bisa mengalami gangguan jiwa, mulai dari yang ringan hingga berat.Demikian disampaikan dr. Jojor Putrini, SpKj. “Napza itu kan ada beberapa golongan. Setiap golongan itu memiliki efek yang berbeda-beda. Ada yang merasakan euphoria atau kesenangan yang berlebihan, ada yang menimbulkan halusinasi,” ujarnya.Biasanya lanjut dia muncul kegelisahan dalam diri pengguna. Dia merasakan paranoid atau kecurigaan yang berlebihan. Pada akhirnya bisa sampai pada tingkatan yang lebih parah. Terutama merusak senyawa kimia dalam tubuh atau dikenal dengan endorfin.

“Endorfin merupakan senyawa kimia yang membuat seseorang merasa bahagia. Kalau sudah rusak, maka ini akan mempengaruhi perasaannya,” bebernya.Endorfin juga berfungsi sebagai penahan rasa sakit yang di alami seseorang, termasuk mengurangi stress. “Kalau endorfinnya sudah rusak, seseorang mulai mengalami depresi, sedih. Akibatnya dia merasa yang dapat membuatnya bahagia itu hanya napza, sehingga dia mencarinya. Muncul ketagihan. Ketika memakainya, menimbulkan rasa nyaman,” paparnya yang menambahkan proses penyembuhan tidaklah mudah.

Harus melewati proses terapi, baik terapi pengobatan maupun terapi perilaku. Kepolisian Daerah Kalimantan Barat berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sabu seberat 10,75 kilogram, Kamis (5/11) dinihari. Sabu tersebut dibawa dari Malaysia dan diselundupkan melewati Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Sanggau. Ini tangkapan narkoba terbesar yang ditangani Polda Kalbar dalam beberapa tahun belakangan. Untuk mengelabui petugas, pelaku mengemas sabu tersebut seperti kemasan susu bubuk.

Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto mengatakan, sabu yang terbungkus dalam 10 plastik alumunium foil itu disita dari seorang pria bernama Dwi Kuswoyo (37), warga Dusun Keta Desa Losari Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas. Dia diduga merupakan kurir jaringan internasional. Dwi ditangkap di Jalan Trans Kalimantan dalam sebuah mobil berwarna silver yang hendak menuju Pontianak.  (iza/mrd)

Berita Terkait