Riana; Penderita Kanker Nasofaring Damba Bantuan , Pernah Keluar Darah dari Hidung, Sulit untuk Bernapas

Riana; Penderita Kanker Nasofaring Damba Bantuan , Pernah Keluar Darah dari Hidung, Sulit untuk Bernapas

  Kamis, 25 February 2016 09:30
Riana

Berita Terkait

Mungkin tidak banyak yang tahu apa itu kanker nasofaring. Sebab, penyakit yang satu ini merupakan jenis kanker yang tergolong jarang dalam kelompok kanker kepala dan leher. Riana sudah lima tahun menderita penyakit tersebut. Ia berharap ada donatur yang mau membantu pembiayaan pengobatannya. AGUS PUJIANTO, Pontianak

RIANA Toli harus melewati hari-harinya di ranjang pesakitan Rumah Sakit Umum (RSU) Dr. Sutomo Surabaya. Sudah sembilan bulan lamanya, janda satu anak ini mendapat perawatan intensif. Tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali berharap kesembuhan.Sudah lima tahun, Riana menderita kanker nasofaring, sejenis kanker yang menyerang bagian kepala dan leher (head and neck cancer). Kanker ganas jenis ini, mulanya menyerang bagian sistem pernapasan. Sehingga menyebabkan kesulitan bernafas.

Begitupula yang dialami Riana. Wanita 33 tahun ini, semula rasa sakit menyerang bagian hidungnya setelah menghirup debu dan asap. Bahkan pernah terjadi mimisan atau keluar darah dari hidung (epistaksis).Nurkholis, saudara Riana bercerita. “Pernah keluar darah dari hidungnya. Banyak, ada mungkin satu ember cat penuh,” kata Nurkholis lirih.

Wajahnya lesu, bingung, harus ke mana lagi mencari jalan solusi pengobatan adik kandungnya itu.

Berbagai upaya penyembuhan, sudah pernah dilakukan. Tapi tak kunjung ada perubahan. Lima tahun berselang, kondisi Riana tak kunjung membaik. Bahkan timbul benjolan di leher bagian belakang.“Pernah saya coba obat herbal, tapi belum ada perubahan. Sekarang, ada benjolan di lehernya. Kasian saya lihatnya, dia (Riana) menahan sakit,” kata Nurkholis saat mengunjungi Kantor Redaksi Pontianak Post, Selasa (23/2).

Selama lima tahun ini, Nurkholis berjuang mencari dana pengobatan, dibantu oleh keluarga besarnya. Warga Jalan Kebangkitan Nasional, Gang Bintasan ini pun mengaku kesulitan memperoleh biaya. Apalagi, hanya mengandalkan hasil sadapan karet yang harganya sangat rendah. “Tidak mampu kalau cuma dari hasil karet. Perkilo cuma 2.000 yang bulat. Jual tanah juga sudah,” sebutnya.

Nurkholis mengaku pernah hampir putus asa, melihat kenyataan hidup yang dialami saudara kandungnya. Begitu juga dengan anaknya yang masih berusia delapan tahun.“Saya dan keluarga akan tetap berupaya sebaik mungkin, mencari biaya pengobatan. Agar adik saya bisa pulih dan anaknya bisa mendapat kasih sayang ibunya. Saat ini, saya yang merawat anaknya. Kami juga memohon bantuan dari penderma, untuk meringankan beban saudara saya,” harapnya.(*)

 

Berita Terkait