RI Berubah Melunak di Gedung Putih

RI Berubah Melunak di Gedung Putih

  Rabu, 28 Oktober 2015 11:36

WASHINGTON – Kunjungan singkat Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Amerika Serikat (AS) membuat hubungan Indonesia dengan negeri Paman Sam itu kian mesra. Sikap keras Indonesia yang menentang kerja sama blok perdagangan bebas Trans-Pasifik pun berubah melunak.Presiden Jokowi menyatakan, Indonesia siap untuk terus meningkatkan kerja sama strategis dengan AS di bidang politik dan ekonomi. Predikat sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan negara demokrasi terbesar ketiga sejagat membuat Indonesia memiliki peran strategis dalam geopolitik internasional. Terutama di tengah isu radikalisme dan terorisme.
”Kami yakin Islam di Indonesia mampu berperan penting dalam menjaga demokrasi dan juga pluralisme serta menentang radikalisme dan terorisme,” ujar Jokowi dalam keterangan pers bersama Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih, Washington DC, Senin waktu setempat (26/10) atau Selasa dini hari WIB (27/10).
Selain isu politik, Jokowi banyak membahas isu ekonomi dalam pertemuan yang berlangsung 1 jam 10 menit itu. Dia menyebutkan, Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN dan masuk kelompok G20 memiliki potensi besar untuk terus tumbuh. Bahkan, Jokowi memberikan sinyal kesediaan Indonesia untuk bergabung dalam skema kerja sama perdagangan bebas Trans-Pacific Partnership (TPP) yang dimotori AS. ”Ekonomi Indonesia terbuka untuk perdagangan dan investasi,” katanya.
Sinyal masuknya Indonesia dalam TPP menjadi perhatian banyak media internasional. Sebab, selama ini Indonesia terus menolak ajakan AS meskipun beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia sudah menyatakan bergabung.  Keberadaan TPP yang dimotori AS dan Jepang tersebut memang menjadi pembahasan hangat di dunia internasional karena dibumbui isu bahwa TPP merupakan langkah AS untuk membendung meluasnya pengaruh Tiongkok di kawasan Pasifik.
Mesranya hubungan Indonesia dengan AS juga tampak ketika Presiden Barack Obama menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki arti spesial. Sebab, ayah tirinya adalah orang Indonesia dan dia sempat menghabiskan masa kecil di Indonesia saat tinggal di Menteng, Jakarta Pusat. Obama juga menyempatkan mengucap belasungkawa atas meninggalnya eyang Presiden Jokowi di Solo Sabtu lalu (24/10).
Kedekatan dengan Obama juga tampak ketika presiden kulit hitam pertama di AS itu mengajak Jokowi berjalan di lorong sepanjang Rose Garden atau Kebun Mawar sampai masuk ke residence, tempat kediaman Obama. Setelah itu, dari kediaman Obama, Jokowi diajak lagi masuk ke lorong yang menghubungkan kediaman Obama dengan Oval Office atau ruang kerja presiden. Selain itu, Obama sendiri yang langsung mengantar Jokowi dan rombongan sampai ke depan pintu sebelum masuk ke mobil.
Menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, perlakuan mengajak pemimpin negara lain mengunjungi kediaman presiden AS tersebut sangat istimewa. Sebab, hal itu tidak pernah dilakukan sebelumnya terhadap pemimpin negara lainnya. ”Ini menunjukkan kedekatan Presiden Obama dengan Indonesia,” ujarnya.
Saat berkunjung ke Gedung Putih tersebut, Jokowi didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang PMK Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Turut pula mendampingi presiden, Menteri ESDM Sudirman Said, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Duta Besar LBPP RI untuk AS Budi Bowoleksono, serta Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Dian Triansyah Djani.
Dalam kunjungan yang dipersingkat karena Jokowi harus segera kembali ke Indonesia untuk memimpin upaya penanganan kebakaran hutan itu, presiden juga hadir di kantor US Chamber of Commerce (Kamar Dagang AS) untuk menyaksikan kesepakatan bisnis para pengusaha Indonesia dan AS. Dalam acara yang dihadiri sekitar 250 pengusaha dari AS dan Indonesia tersebut, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menyatakan, pada pertemuan itu dicapai kesepakatan kerja sama atau deal bisnis senilai USD 20,075 miliar atau sekitar Rp 270 triliun. ”Ini terdiri atas perjanjian jual beli maupun investasi,” katanya.
Beberapa kesepakatan bisnis yang dicapai antara lain adalah perjanjian jual beli gas alam cair (LNG) antara Pertamina dan Corpus Christi Liquefaction senilai USD 13 miliar. Untuk pengiriman LNG ke FSRU Lampung bagi kebutuhan gas di wilayah barat Indonesia dan LNG Terminal untuk Indonesia Timur.
Lalu, ada rencana ekspansi Philip Morris selaku pemegang saham mayoritas produsen rokok Sampoerna sebesar USD 1,9 miliar untuk perluasan pabrik dan perkantoran serta investasi yang dilakukan dalam kurun waktu 2016–2020. Ada pula rencana investasi USD 500 juta dari Coca-Cola untuk perluasan dan penambahan produksi, pergudangan, distribusi, serta infrastruktur minuman ringan selama 2015–2018. (owi/c9/sof)