Rezeki Kami Datang Ketika ada Kapal Bersandar

Rezeki Kami Datang Ketika ada Kapal Bersandar

  Selasa, 21 June 2016 09:30
PORTER: Mengangkut barang berat sudah menjadi rutinitas pekerjaan seorang porter di pelabuhan. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

​Memanggul puluhan kilogram barang bawaan penumpang, sudah menjadi rutinitasnya. Kejar sana sini menawarkan jasa diri, hingga terkadang mengesampingkan keselamatan diri. 

AGUS PUJIANTO, Pontianak

DERAP langkah kaki laki-laki bertubuh kekar berpakaian seragam terlihat cepat, kadang sedikit berlari kecil membuntuti penumpang dari belakang menuju kapal agar tidak tertinggal. 

Setiap langkah gerombolan itu terlihat berat. Puluhan kilogram beban bertumpu di badan para buruh panggul. Tak cukup hanya dengan dijinjing. Bobot itu kadang dipanggul, digendong, bahkan dibopong. 

Selain memastikan barang bawaan aman dan sampai tujuan, mereka bahkan merelakan keselamatan badan; bisa saja sewaktu memboyong barang bawaan penumpang, tiba-tiba tersungkur akibat beban terlalu berat atau bahkan terpeleset saat menapaki anak tangga menuju kapal.  

“Saya pernah terduduk waktu angkut barang. Waktu itu sakit, ndak mampu rasanya,” kata Syawal lirih. Nafasnya terasa berat. 

Duduk menekuk kaki, Syawal sejenak menenangkan ketegangan saraf di gerbang Pelabuhan Dwikora Pontianak. Peluh masih membahasi pria 42 tahun itu. Nafasnya masih terdengar berat. 

“Lumayan kalau penumpang banyak,” sebut Syawal menunduk. Sementara tangannya sibuk memilah lembaran rupiah sesuai nilai mata uang. Mulutnya juga sesekali komat kamit, menghitung uang jerih payahnya hari ini. 

Syawal adalah satu dari puluhan buruh panggul (porter) di Pelabuhan Dwikora Pontianak. Rezeki mereka, didapat dari setiap ada kapal yang bersandar. 

Sumber rezeki para porter: melihat peluang barang bawaan penumpang, lalu kemudian menawarkan jasa angkut. Harganya, bisa dinego. 

“Rezeki kami, tidak setiap hari. Kalau ada kapal bersandar saja,” ungkap Syawal. 

Syawal baru lima tahun menekuni porter pelabuhan. Sebelumnya, dia juga pernah di bidang yang sama. Tapi buruh angkut barang kapal, bukan bagian dari barang penumpang. Bisa dibilang, dia sudah 20 tahun membebani badannya dengan puluhan kilogram barang.

Pola angkut barang penumpang, tergantung penawaran dan permintaan. Jika dirasa barang bawaan berat dan banyak, porter akan mengajukan bentuk borongan, harganya bisa diantara Rp100 hingga 200 ribu; kembali lagi ke hasil perundingan.

Apabila mampu sendiri, barang bawaan seperti koper, tas, kardus dan lainnya sebagainya itu akan diborong sendiri oleh porter. Namun apabila merasa tidak mampu, maka akan meminta bantuan porter lain. 

“Nanti uang hasil perjanjian itu ya dibagi dua kalau minta bantu sama porter lain,” kata ayah lima anak ini.

Dalam satu minggu, ada tiga buah kapal yang berlabuh dan menambatkannya di Pelabuhan, tiga kali itu pula ada rezeki yang bisa didapat para porter. 

Dari puluhan penumpang yang turun maupun calon penumpang yang akan menaiki kapal, tak banyak jumlah penumpang yang bersedia mempercayakan barangnya diangkut oleh porter. “Kadang dapat 10 orang, kadang sama sekali tak dapat kalau pas penumpang sepi,” ujarnya.

Momentum Ramadan, sangat dinanti-nanti oleh sejumlah porter. Peluang mendapatkan rezeki dari angkut barang penumpang terbuka lebar, mengingat momentum arus mudik dan balik kampung ramai penumpang.

“Kalau pas ramai, dapat lumayan lah. Kalau sepi, sebulan kadang 400-an. Yang ramai kalau Ramadan. Tapi di hari biasa, banyak tak dapatnya,” ungkap warga Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya ini.

Meski tak dapat sebanyak apa yang diharapkan, dia mengaku bersyukur masih diberikan kesehatan dalam mencari nafkah untuk kelima anak dan istrinya. 

“Yang penting badan sehat. Mudah-mudahan ada rezeki untuk Idulfitri,” harapnya. (*)

Berita Terkait