Restoran Melayu Diminta Sajikan Saprahan

Restoran Melayu Diminta Sajikan Saprahan

  Rabu, 12 Oktober 2016 09:30
SAPRAHAN: Wali Kota Pontianak Sutarmidji menikmati sajian yang dihidangkan di Festival Saprahan dalam rangka Hari Jadi ke-245 Kota Pontianak, kemarin (11/10).

Berita Terkait

PONTIANAK—Berbagai sajian hidangan makanan khas Kota Pontianak membentang panjang di Gedung Pontianak Convention Centre (PCC), Selasa (11/10). Barisan hidangan yang terdiri dari nasi dan lauk-pauk ini merupakan bagian dari Festival Saprahan yang digelar Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pontianak dalam rangka Hari Jadi (Harjad) ke-245 Kota Pontianak. 

Festival atau lomba ini diikuti 29 kelompok peserta berasal dari seluruh kelurahan se-Kota Pontianak. Kelurahan Benua Melayu Laut meraih juara pertama dalam lomba ini. Seperti diketahui saprahan dalam adat istiadat Melayu berasal dari kata “saprah” yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai dengan bentangan memanjang.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji berharap, memasuki tahun ketiga digelarnya Festival Saprahan ini, restoran-restoran bernuansa Melayu sudah ada yang memulai menyajikan hidangan bergaya saprahan. “Dan ini bisa jadi sajian khas kuliner untuk Kota Pontianak. Kami akan kembangkan lagi jenis-jenis makanan dan cara penyajiannya khas Melayu Pontianak,” ujarnya.

Tahun depan, lanjutnya, jumlah peserta Festival Saprahan akan lebih ditingkatkan lagi dari tahun ini dengan membuka kesempatan kepada masyarakat umum. Sutarmidji menilai, dari sisi lauk-pauknya memang sepintas sama, tetapi kalau melihat dari warnanya saja, sudah bisa diketahui bagaimana rasa makanan itu. 

Semestinya, lanjut dia, aspek penilaian tidak hanya dari sisi cara penyajiannya saja, tetapi rasa juga harus menjadi pertimbangan dalam penilaian. Misalnya, dalca warnanya kuning. Kalau terlihat agak putih, itu berarti ada yang kurang dari rempahnya. “Jadi, penilaian tidak hanya lebih memperhatikan estetikanya saja tanpa memperhatikan rasa hidangan. Jangan sampai rasa makanannya asal saja,” ucapnya.

Dirinya juga meminta panitia melakukan evaluasi beberapa kelemahan yang membingungkan peserta. Sebab, menurutnya, pada lomba saat ini ada beberapa hal yang membingungkan peserta. “Ke depan, ini harus diperhatikan panitia karena kaitannya dengan penilaian sehingga komponen itu harus dihilangkan sebab kesalahan bukan terletak pada peserta,” sebutnya.

Sutarmidji menuturkan, dalam rangka Harjad ke-245 Pontianak ini pihaknya terus berupaya menggali dan melestarikan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi, adat istiadat maupun budaya masyarakat Kota Pontianak. “Mulai dari kuliner, budaya, adat istiadat dan lainnya,” imbuhnya.

Ketua TP PKK Kota Pontianak, Lismaryani Sutarmidji menerangkan, tahun ini ada peningkatan jumlah peserta, dari tahun sebelumnya hanya 18 kelompok, sekarang 29 peserta berasal dari seluruh kelurahan se-Kota Pontianak. “Saprahan ini bertujuan untuk melestarikan dan mempertahankan adat budaya Melayu,” katanya.

Dijelaskannya, tradisi saprahan antara Kota Pontianak dengan daerah lainnya di Kalbar ada perbedaan. Kalau di Kota Pontianak makan saprahan dengan sajian hidangan memanjang, di Sambas, sajian diletakkan di dalam wadah atau baki dan peserta atau tamu yang menikmati hidangan terdiri dari 4 – 6 orang tiap-tiap hidangan. “Kalau kita makan saprahan sekitar 9 hingga 10 orang,” terangnya. 

Menurutnya, budaya makan saprahan tidak hanya di kalangan orang dewasa saja, tetapi juga sudah mulai merambah generasi muda. Seperti Festival Saprahan tingkat SMA/SMK sederajat yang telah digelar baru-baru ini. Bahkan, ke depan, Pemerintah Kota Pontianak juga berencana menggelar saprahan tingkat SMP sederajat supaya tradisi makan bersama secara lesehan ini lebih dikenal generasi muda.

Sebagai Ketua TP-PKK Kota Pontianak, dirinya meminta kepada seluruh TP PKK, baik di kecamatan maupun kelurahan, untuk menjadikan saprahan ini sebagai program kerja PKK. “Budaya ini harus dilestarikan dan dipertahankan supaya tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya. (bar)

Berita Terkait