Respons Alami Tubuh terhadap Ancaman

Respons Alami Tubuh terhadap Ancaman

  Jumat, 11 December 2015 08:07

Berita Terkait

ZAMAN sekarang ini, tampaknya, nggak ada orang yang hidup tanpa menghadapi deadline. Ya nggak? Apalagi remaja kayak kita-kita nih. Ada deadline tugas-tugas sekolah, ujian, sampai deadline menuhi tuntutan si pacar atau gebetan. Duh, semuanya bikin pusing! Makanya, jangan kaget kalau istilah stress makin sering terdengar. Dikit-dikit ngeluh, “Duh, gue stres,” di hadapan siapa pun, bahkan di media sosial. Emang kamu tahu arti stres sebenarnya?

Kata “stress” nggak selalu punya konotasi negative loh. Kamu juga bisa mengalami stres dari hal-hal positif yang terjadi secara tiba-tiba. Misalnya, kamu baru aja ditunjuk jadi ketua kelas atau…. Kamu baru aja dapat pacar! Hal-hal seperti itu kan pasti bikin perasaanmu tegang. Nah, perasaan seperti itulah yang dikenal sebagai stres.

Stres juga bisa kamu alami saat berada di situasi yang menantang atau ada ancaman yang nggak bisa dihindari. Tubuhmu langsung merespons secara alami tuh dengan cara meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan seluruh otot tubuh. Hal-hal seperti itu bisa kamu alami saat lagi joging santai pagi-pagi di sekitar kompleks rumah. Eh, tiba-tiba ada anjing yang menyalak ke arahmu dan mengejarmu. Di saat itulah, tubuhmu memberikan reaksi stres dengan mendapat energi biar kamu bisa lari sekencang-kencangnya. Kok bisa?

Waktu kamu menghadapi sebuah kondisi yang menimbulkan stres, tubuhmu dibanjiri hormone stres seperti norepinephrine dan cortisol yang menimbulkan berbagai reaksi istimewa yang disebut respons fight or flight. Misalnya, meningkatnya detak jantung, berhentinya sistem pencernaan, penurunan sistem imun, serta meningkatnya kesadaran dan reaksi otot. Hal itu terjadi karena tubuh menyalurkan seluruh energi yang tersedia untuk mengatasi reaksi bahaya yang ditimbulkan sehingga mematikan berbagai sistem lain.

Sayangnya, kalau terjadi dalam waktu yang lama, reaksi fight or flight bisa menimbulkan masalah seperti menurunnya daya tahan tubuh hingga perasaan depresi. Gimana nggak, tubuhmu kan terus-menerus dipacu dalam tingat kewaspadaan tinggi. Akhirnya, penyakit seperti hipertensi, stroke, dan serangan jantung jadi menyerang deh. Seram ya? (*/det)

 

Berita Terkait