REORIENTASI BPJS

REORIENTASI BPJS

  Senin, 15 February 2016 07:47   822

Oleh Dr. Nurmainah, MM., Apt*

           

BIAYA klaim Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) yang dikeluarkan untuk penyakit kronik sangat tinggi.  Di tahun 2014, total biaya yang dibebankan kepada BPJS untuk mengatasi delapan (8) penyakit kronik sebesar Rp. 14.318 triliun. Delapan penyakit tersebut diantaranya penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, thalesemia, sirosis hati, leukimia, dan hemofilia. Biaya pengobatan tertinggi terutama terjadi pada penyakit jantung sebesar Rp. 8.189 triliun dan penyakit gagal ginjal mencapai Rp. 2 triliun (untuk hemodialisis/cuci darah) (Kompas, 29 Desember 2015). Bila diperhatikan lagi penyakit jantung dan gagal ginjal lebih dominan terjadi di masyarakat.

Jantung dan gagal ginjal disebabkan salah satunya karena faktor gaya hidup yang tidak sehat. Berdasarkan survei konsumsi makanan individu Indonesia Tahun 2014 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) bahwa masih ditemukan konsumsi makanan yang tinggi gula, natrium, dan lemak. Persentase rata-rata nasional penduduk Indonesia yang mengkonsumsi gula di atas 50 gram per orang per hari sebanyak 4,8%. Persentase penduduk Kalimantan Barat (Kalbar) yang mengkonsumsi gula berlebih masih berada di atas rata-rata nasional. Namun konsumsi gula berlebih tertinggi terdapat Yogyakarta, yaitu mencapai 16,9%. Rata-rata nasional penduduk yang menggunakan natrium di atas 2000 miligram (mg) sebesar 18,3%. Persentase penduduk Kalbar dalam mengggunakan natrium berlebih berada di atas rata-rata nasional. Provinsi Jawa Barat (Jabar) berada di posisi paling tinggi penggunaan natrium di atas 2000 mg per orang per hari, yaitu mencapai 28,7%. Berbeda halnya dalam konsumsi lemak berlebih (di atas 67 gram) per orang per hari di Kalbar. Penduduk kalbar berada di bawah rata–rata nasional, yaitu di bawah 26,5%.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, Dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Siap Saji menyebutkan sebaiknya maksimal konsumsi gula, natrium, dan lemak per orang per hari tidak boleh lebih dari 50  gram untuk gula, 2000 miligram (mg) untuk natrium, dan 67 gram untuk lemak. Dilihat dari usia, proporsi penduduk yang mengkonsumsi gula pada usia dewasa, yaitu rentang 19-55 tahun (5,7%) dan di atas 55 tahun (6,9%) cenderung lebih tinggi dibandingkan balita, anak-anak, dan remaja. Untuk konsumsi natrium berlebih banyak terjadi pada usia anak (5-12 tahun) dan remaja (13-18 tahun) secara berturut 24,6% dan 25,9% lebih tinggi dibandingkan dewasa sebesar 18,0%. Hal yang sama terjadi pada konsumsi lemak berlebih dimana usia anak (5-12 tahun) dan remaja (13-18 tahun) cenderung lebih tinggi 30,3% dibandingkan dengan dewasa.

Sementara itu, dari data survei tersebut juga diperoleh bahwa usia anak-anak dan remaja cenderung lebih tinggi mengkonsumsi natrium dan lemak berlebih dibandingkan orang dewasa. Konsumsi natrium dan lemak berlebih dalam jangka waktu yang lama akan menjadi faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi, diabetes, jantung, stroke, serangan jantung yang berujung pada kematian. Adapun awal dari terjadi penyakit bermula dari pembentukan “kerak lemak” dalam pembuluh darah, yang dikenal dengan aterosklerosis. Pembentukan “kerak lemak” terjadi akibat kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan dari sejak kecil. Sejak kecil, anak-anak sudah dibiasakan makan makanan yang mengandung lemak tinggi, sehingga ketika dewasa pembentukan lemak pada pembuluh darah semakin menebal dan mengeras. Seandainya sejak kecil anak-anak sudah memiliki investasi “kerak lemak” sebanyak 2%, diperkirakan pada usia 25 tahun “kerak lemak” yang terbentuk dapat menyumbat separuh lumen pipa pembuluh darah. Sumbatan yang terjadi berisiko untuk terjadi penyakit kardiovaskular yang dapat berujung pada risiko kematian (Nadesul, 2007).

Biang utama dari penyebab penyakit di atas terutama pada anak-anak dan remaja berasal dari makanan. Makanan-makanan yang memiliki kadar lemak tinggi dapat dengan mudah diperoleh secara instan. Contoh makanan junk food, fast food, dan cemilan yang cenderung mengandung banyak gula, garam, pewarna, dan pengawet berkontribusi untuk meningkatkan kadar lemak pada tubuh anak-anak dan terus meningkat pada saat mereka remaja hingga dewasa.  Disisi lain, makanan tersebut dapat merusak sel-sel dalam tubuh. Anak-anak yang mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi cenderung memiliki tubuh yang gemuk. Kegemukan yang terjadi di masa anak-anak membuat ukuran dan jumlah selnya melebihi batas normal sehingga terjadi kerusakan atau degenerasi sel-sel dalam tubuh terjadi lebih cepat. Ditambah lagi aktivitas fisik yang dibutuhkan untuk pembakaran kalori kurang dilakukan. Tidak heran di masa sekarang ini, usia muda atau usia produktif sudah banyak terkena penyakit degeneratif. Secara normal, penyakit degeneratif dapat terjadi di usia tua dimana fungsi sel-sel organ dalam tubuh dan elastisitas pembuluh darah mulai mengalami penurunan. 

Sehubungan dengan itu, perlu dilakukan upaya promosi kesehatan melalui edukasi dini tentang bahaya penyakit kardiovaskular sejak dini kepada anak-anak. Dengan memperhatikan pola hidup sehat dengan tidak jajan makanan yang mengandung tinggi gula, natrium, lemak, bahan pewarna, pengawet yang berbahaya bagi kesehatan anak, serta jauhi merokok, dan tingkatkan aktivitas fisik dengan berolahraga secara teratur. Jika kegiatan ini sudah diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak kedepan risiko morbiditas (kerusakan organ) dan mortalitas (kematian) akibat penyakit kardiovaskular dapat ditekan.

Pada sisi yang lain, keberhasilan edukasi kesehatan sejak dini berdampak terkendalinya biaya pengobatan dalam mengatasi penyakit kronik. Selama ini pendekatan penanganan kesehatan berfokus pada pengobatan (kuratif). Tindakan promotif dalam mencegah prevalensi dan insidensi penyakit kronik sukar untuk dilakukan.  Sebagai perbandingan di Amerika Serikat sudah melakukan kegiatan edukasi sejak dini kepada anak-anak untuk menjaga dan mengatur pola hidup sehat dalam mencegah penyakit hipertensi. Kegiatan ini telah menghemat biaya pengobatan hipertensi sebesar 10 miliar dolar AS. Sudah saatnya pemerintah dan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) berfokus pada promotif kesehatan tidak pada pendekatan kuratif (pengobatan). Jika pendekatan kuratif yang terus dipertahankan maka biaya kesehatan akan meningkat. Sebaliknya  untuk mengatasi meningkatnya biaya kesehatan maka pemerintah akan menaikkan kenaikan premi peserta BPJS yang akhirnya beban bagi masyarakat.

 

*Dosen Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan