Rencana Ubah SD 01 Jadi Gedung Parkir

Rencana Ubah SD 01 Jadi Gedung Parkir

  Senin, 9 January 2017 09:30
LAHAN PARKIR: Bangunan Sekolah Dasar 01 di Jalan Letjen Suprapto yang kondisinya mulai terhimpit oleh sejumlah bangunan tinggi, Minggu (8/1). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Tunggu Kepastian Pemkot

PONTIANAK - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak untuk membangun gedung parkir yang berlokasi di lahan SD 01, Jalan Letjen Suprapto, Pontianak Selatan sempat santer diperbincangkan. Namun sampai saat ini pihak sekolah masih belum mendapatkan kepastian, karena belum ada surat resmi dari pihak terkait.  Wacana ini muncul dari pernyataan Wali Kota Pontianak Sutarmidji yang mengatakan, tahun 2017, Pemkot akan membangun satu gedung parkir di kawasan Gajah Mada. Lokasinya persisi di belakang Hotel Neo yang baru saja dibangun, yakni di lahan SD 01. 

Bahkan orang nomor satu di Pemkot Pontianak ini sempat melakukan berbagai perhitungan. Menurutnya dengan membangun gedung parkir enam lantai di lokasi tersebut, bisa menanggulangi masalah parkir di kawasan Jalan Gajah Mada dan hotel-hotel sekitar. Daya tampung gedung parkir yang rencananya akan dilengkapi foodcourt ini, perkiraan bisa untuk sekitar 300 mobil dan 1.500 sepeda motor. Dengan anggaran pembangunan kira-kira mencapai Rp8 miliar hingga Rp9 miliar. "Tapi dari hasil pengelolaan gedung parkir ini tiap tahun Pemkot bisa mendapat Rp7 miliar hingga Rp9 miliar," tandasnya.

Pontianak Post sempat menyambangi sekolah yang sempat mendapat penghargaan Adiwiyata tingkat kota dan provinsi itu. Kepala SDN 01, Sunarti menyatakan hanya tahu wacana ini dari omongan orang dan surat kabar. Hingga kini dia mengaku belum mendapat pemberitahun resmi. “Masih belum ada pemberitahuan dari Diknas atau lainnya, saya tidak berani, jika sudah ada surat resmi baru bisa saja jelaskan karena ada dasarnya," katanya awal minggu lalu.

Ia menjelaskan, SDN 01 Pontianak Selatan memiliki enam lokal kelas dengan 10 orang pengajar. Selain 10 orang guru, ada lima pegawai lain yang mengurus administrasi. Sekolah ini memang kelihatan bersih dan rapi. Pohon-pohon besar masih terawat, lapangannya masih berupa rumput-rumput hijau.   

Sekolah ini pertama kali didirikan tahun 1982. Luas tanah sekolah ini sekitar 292,25 meter persegi dengan luas bangunan 274,5 meter persegi. Status tanahnya adalah milik Pemerintah Kota. Hingga kini status akreditasnya kategori B.  Menurut Sunarti, selain sekolahnya yang meraih penghargaan Adiwiyata dalam dua tahun terakhir, ia juga sempat terpilih sebagai Kepala Sekolah berprestasi peringkat dua se-Kota Pontianak tahun 2014.

Dengan adanya wacana tersebut, Sunarti tak memungkiri banyak orangtua siswa yang bertanya-tanya. Karena hampir semua mengaku hanya tahu dari media massa. Menanggapi hal tersebut, ia tidak mempermasalahkan jika memang sekolah harus digusur dan siswanya harus pindah. Demikian pula dengan jabatannya, sebagai abdi negara ia siap ditugaskan di manapun.

“Kami yakin Pak Wali pasti lebih bijaksana memutuskannya, yang penting anak bisa sekolah. Kalau bisa, jika memang jadi pindah, tunggu samapi selesai pembagian rapor, tahun ajaran baru. Kasihan juga anak kelas 6 masih mau ujian, kalau pindah mungkin susah adaptasi lagi,” harapnya.

Sejumlah orangtua murid mengaku bingung dengan nasib anak mereka. Karena mereka belum mendapat kepastian, sejak wacana ini muncul mereka berusaha menanyakan ke pihak sekolah, namun sekolah juga belum bisa memberikan kejelasan pasti. Seperti yang diungkapkan salah satu orang tua, Minarti (37) yang mengatakan wacana itu sudah diketahuinya dari media massa. Jika memang jadi, anaknya yang masih duduk di kelas dua bingung akan dipindah ke mana. Ibu rumah tangga ini juga mengaku khawatir sistem belajar anak bisa ikut berubah.

“Ada yang mau tetap SDN 01, atau pindah ke tempat lain, kan tidak tahu juga. Belum tahu pasti tidak, alasannya tempat parkir, untuk apa tujuannya. Kan tidak tahu juga. Cuma di sini tempatnya sudah enak, adem,” ucapnya. Dia mengatakan alasan menyekolahkan anaknya di sana karena memang satu jalur dengan anak yang lain. “Anak saya satu lagi di SMP 10, satu arah kalau antarnya bersamaan. Terus kalau di sini kan kelas 1-6 masuk pagi, kalau di sekolah lainnyakan siang. Anak kalau masuk pagi kan masih segar, kalau siang kasihan, ngantuk,” jelas warga Tanjungraya 2 itu. 

Hal serupa diungkapkan, Magdalena (41) orang tua siswa lainnya. Dia ingin anaknya tetap bersekolah di sana lantaran lokasinya yang strategis. Selain itu, anaknya yang lain bersekolah di SMA 3, sehingga satu arah dengan lokasi kerja suaminya yang megantar jemput.  "Saya sempat bertanya ke pihak sekolah, belum ada pemberitahuan, dari kepala sekolah sama wali kelas bilang belum ada surat kalau sekolah ini pindah, jadi tetap jak belajar karena belum ada surat edaran,” katanya menceritakan. 

Jika memang harus pindah, dia ingin anaknya tetap sekolah di lokasi yang tak jauh dari sana. Memang Wali Kota sempat mewacanakan memindahkan murid-murid di sekolah itu ke sekolah terdekat. Seperti di SDN 20 yang ada di depan sekolah atau ke SDN 06 yang lokasinya tak jauh.

“Kalau dipindah susah lagi nantikan, tapi mau gimana lagi kalau pemerintah mau, kita orang tua tinggal nurut saja. Maunya kalau memang dipindah pun, jangan sekolah yang jauh-jauh," harap warga Tanjungraya 2 ini.

Anggota DPRD Kota Pontianak, Herman Hofi Munawar menilai, pembangunan gedung parkir merupakan hal yang sangat baik. Ia memberikan apresiasi kepada Pemkot Pontianak dalam hal ini, karena akan segera membangun gedung parkir di kawasan Jalan Gajah Mada. “Saya fikir ini tidak cukup satu, yang rencananya di Jalan Letjen Suprapto itu, harusnya di Pontianak butuh dua atau tiga gedung parkir,” katanya. 

Dengan banyaknya gedung parkir, kendaraan yang berada di pinggir-pinggir jalan bisa lebih ditertibkan. Tapi masalahnya tidak hanya sesederhana itu, ada beberapa hal penting yang juga harus diperhatikan. Pertama berkaitan dengan persoalan tenaga kerja. Mereka yang menjadi juru parkir selama ini yang sudah menggantungkan hidup di sana, harus mendapatkan solusi. “Tidak boleh mereka dibiarkan begitu saja, karena itu nafkah mereka,” ucapnya.

Karena jika sudah jadi gedung parkir tentu pengelolaannya akan berbeda. Ia berharap jika sudah demikian seluruh juru parkir yang tercatat oleh dinas tekait harus bisa diberdayakan. “Jangan mematikan pekerjaan mereka, karena bisa berdampak meningkatnya penangguran dan bahkan kriminalitas,” paparnya. 

Terkait lokasi pembangunan, yang otomatis menggusur bangunan SD 01, Pontianak Selatan, menurut Herman tidak akan menjadi masalah. Alasannya baik tenaga pengajar dan murid di sekolah tersebut bisa digabung ke sekolah terdekat. Apalagi jumlahnya yang tidak terlalu banyak. “Di situkan ada dua sekolah SD berdekatan, digabung saja, tidak efektif juga banyak-banyak sekolah di sana,” tambahnya. 

Hanya dia berharap secara penataan tetap dengan baik. Gedung sekolah yang awalnya juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tidak kehilangan fungsinya. “Kan bisa saja didesain, misalnya 25 persen dari lahan yang dibuat gedung parkir itu dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau,” pungkasnya.(bar) 

   

Berita Terkait