Relawan di Balik Terjaganya Kebersihan Sepanjang Sail

Relawan di Balik Terjaganya Kebersihan Sepanjang Sail

  Selasa, 18 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

INDIKATOR keberhasilan tersebut bisa dilihat dari sepanjang pelaksanaan rangkaian kegiatan  acara puncak Sail Selat Karimata yang dihadiri  tidak kurang dari 10 ribu orang. Dalam jumlah pengunjung sebanyak itu, baik pengunjung maupun tamu undangan dipuaskan dengan pemandangan pantai Pulau Datok yang begitu terlihat bersih. Tanpa diganggu sampah, para pengunjung tentu saja benar-benar bisa menikmati keeksotisan pantai, sambil melihat atraksi-antraksi yang diperagakan selama acara berlangsung.

Ketua EKU, Supriandi, mengungkapkan bagaimana dirinya merasa senang dan memberikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah bersama-sama dan penuh rasa tanggungjawab, dalam menjaga kebersihan lingkungan pantai selama kegiatan Sail berlangsung. Walaupun, menurut dia, tugas utama dari relawan sebenarnya hanya memberikan edukasi kepada para pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan di areal pantai Pulau Datok.

“Sebenarnya tugas kami hanya memberikan edukasi kepada para pengunjung agar lebih bijak memperlakukan sampah yang dibawa ke tempat acara. Namun karena beban moral yang kami emban sebagai anak daerah yang harus memberikan kenyamanan dan keindahan kepada para tamu yang datang ke daerah kami, secara bersama-sama kami membersihkan lokasi pantai hingga terlihat bersih,” terang Supriandi, Senin (17/10) di Sukadana.

Sementara itu, mengenai hal ini, dirinya tidak memungkiri jika masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan program GBBS  saat kegiatan Sail tersebut. Akses untuk memantau lokasi yang dianggap banyak menghasilkan sampah, diakui dia, sangat sulit dijangkau mereka.

“Relawan GBBS  hanya bisa memantau pergerakan sampah sebelah timur pantai, sedangkan  di sebelah barat lokasi  yang dihadiri oleh Presiden Jokowi  dan tamu undangan tidak bisa kita pantau, dikarenakan lokasi tersebut relawan dilarang masuk. Alhasil lokasi VIP dan VVIP banyak sampah makanan dan minuman berserakan, sedangkan  di lokasi yang tidak sterilkan terlihat bersih dan enak dipandang,” terangnya.

Lebih lanjut, dirinya sangat berharap banyak agar program GBBS bisa diterapkan di Kabupaten Kayong Utara, terutama pada even-even besar pemerintah. Tujuannya agar sampah yang dihasilkan di setiap even dapat dikurangi. “Sail Selat karimata adalah pilot project program GBBS, seperti harapan Kemenkomaritim yang menginginkan, agar GBBS  terus dilanjutkan dan selalu diselipkan program ini pada even-even besar pemerintah,” sambungnya.

Tidak lupa dirinya mengucapkan terima kasih  banyak kepada Kemenkomaritim, yang telah mendukung EKU untuk menyukseskan program GBBS, serta  pemerintah daerah, yang juga berusaha memfasilitas kegiatan relawan EKU pada acara puncak Sail Selat Karimata. “Terima kasih kepada Pak Luhut, juga Pak Deputi IV Safri Burhanuddin beserta istrinya yang bela-bela ikut memberikan edukasi kepada pedagang di tempat acara, dan tidak lupa juga Pak Edi Susilo dan Kakak Debby yang telah menemani dan membimbing kami sampai acara selesai,” ujar pria berambut gondrong ini.

Salah seorang relawan dari Kecamatan Simpang Hilir, Sinta, menuturkan, begitu banyak pelajaran yang bisa diambil selama dirinya menjadi relawan. Terutama bagaimana  perasaan takut bercampur kesal dia, saat   menegur pengunjung pantai  dan pemilik toko yang membuang sampah tidak pada tempatnya.

“Apa yang disampaikan oleh panitia di mana kita harus memberikan masukan kepada pengunjung dan pemilik toko dengan senyuman dan sabar. Ada satu warung kuliner yang buat saya jengkel benar, dengan nada kasar pemilik warung tersebut menyuruh kami untuk memungut sampah di sekitar warungnya, padahal kan tugas relawan kan hanya memberikan contoh, bukan memungut sampah,” cetusnya. (*)

Berita Terkait