Rela Mengantri dari Subuh untuk Kamar

Rela Mengantri dari Subuh untuk Kamar

  Minggu, 13 December 2015 06:57
Siti Khotimah

Berita Terkait

MUNGKIN Anda bertanya-tanya, mengapa kanker bisa terjadi pada anak? Beberapa mama dengan anak penyandang kanker mengaku telah menjaga pola makan anak dengan baik. Hal ini pula yang menjadi pertanyaan besar dari Siti Khotimah. Beberapa bulan yang lalu, ada benjolan di leher anaknya, Annisa. Ia pun membawa anaknya berobat ke dokter THT-KL. Saat itu bulan puasa. “Orang Pontianak itu bilang penyakit apa saya lupa, disarankan untuk ngasih belau. Tapi benjolannya tidak mau hilang,  akhirnya saya bawalah ke dokter THT,” jelasnya.

Setelah diambil sampel untuk dicek di laboratorium, akhirnya diketahui bahwa  anaknya yang saat itu duduk di kelas 3 SMA menderita gejala kanker. Dia bersyukur cepat mengetahui jenis penyakit yang diderita anaknya, meskipun merasakan pedihan yang dalam. “Saat itu saya habis buka puasa syawal. Saya ke dokter dan diberi tahu kondisi anak. Saya menangis. Suami mendengar itu langsung keringat dingin. Saya pikir salah apa saya sampai diberi cobaan seperti ini,” jelasnya yang terus memikirkan kondisi anak semata wayangnya itu.

Dia disarankan untuk membawa anaknya ke Rumah Sakit Dharmais Jakarta. Tapi, jalan tak semulus yang diharapkan. Ia harus mengambil nomor antrian. Beberapa kali mengantri, selalu mendapat nomor dengan angka ratusan. “Saya beberapa kali ngantri dapat nomor tinggi,  400-an. Bahkan dari subuh saya sudah mengantri. Akhirnya saya coba terus sampai anak saya itu dapat nomor antrian pertama,” ujarnya yang mengatakan bahwa anaknya terkena kanker nasofaring.

Disela ikhtiarnya, Siti terus berdoa pada Allah agar sang anak dimudahkan pengobatannya. Baginya, doa menjadi kekuatan untuk tegar menjalani ujian hidup tersebut. “Anak saya di CT Scan, saya bersyukur sekali sama Allah, sebab benjolannya langsung hilang,”paparnya. Tapi, masih ada tahapan lain yang harus anaknya jalani. Itu artinya dia belum boleh membawa anaknya pulang. Sementara itu, dia harus bersaing dengan ribuan orang untuk mendapatkan kamar rawat inap anaknya. “Anak saya masih di UGD. Sementara saya sendiri belum bisa mendapatkan kamar untuknya. Di UGD itu banyak orang yang meninggal disana. Apalagi dicampur dengan orang-orang tua.  Saya sedih sekali.” jelasnya.

Perjuangannya selama merawat  anaknya itu sangatlah berat. Belum lagi ketika dia mendapati anaknya mengalami kekurangan trombosit. “Anak saya itu mengalami 17 kali tusukan jarum suntikan, tetapi tidak ada darahnya. Bekas-bekas tusukan jarum suntik masih ada. Saya terus berdoa pada Allah. Apalagi jenis darah anak saya itu sulit dicari,” paparnya.

Kini, sang buah hati telah melewati proses pengobatan. Meskipun usai dilakukan kemoterapi, anaknya harus mengikhlaskan rambutnya. “Kemoterapi ini membuat rambutnya rontok karena panasnya alat tersebut. Tapi sekarang mulai tumbuh meskipun warnanya agak kekuning-kuningan,” ulasnya.

Annisa terlihat sangat tegar. Tak tampak kesedihan di wajahnya dengan kondisi penyakitnya itu. Bahkan kata ibunya, dia sempat mengurus sendiri proses administrasi pengobatannya, dari BPJS hingga hal lainnya. Dia pula yang membukakan pintu saat di temui For Her di rumahnya di Jalan Pak Benceng. “Saat ini ia dilarang makan ikan asin, minum yang bersoda, mie instan, juga yang jenis bakar-bakaran. Menurut dokter makanan bisa jadi salah satu penyebabnya,” ungkap dia.

Tak hanya itu saja, Annisa juga harus merelakan mengulang ujian nasional. Terpenting adalah kesehatannya. “Sebenarnya bisa diperjuangkan agar dia bisa ikut ujian saja. Tetapi khan khawatir dengan kondisi kesehatannya. Jadi memilih mengulang saja,” pungkasnya yang berharap kesembuhan total pada putri kesayangannya itu. (mrd)

 

 

Berita Terkait