Rela Jual Perusahaan agar Bisa Fokus, Alex Ong, Warga Malaysia yang Peduli Tenaga Kerja Indonesia

Rela Jual Perusahaan agar Bisa Fokus, Alex Ong, Warga Malaysia yang Peduli Tenaga Kerja Indonesia

  Selasa, 1 December 2015 10:24
TKI: ALEX ONG, berdiri (Tiga kiri) dan Wahyu Susilo ( dua kiri) bersama TKI di Malaysia menghadiri acara di KBRI Kuala Lumpur

Berita Terkait

Alex Ong terjun mengurusi TKI berkat perkawanannya dengan dua aktivis buruh migran Indonesia. Pernah ditangkap, diancam, dan dituduh tidak nasionalis.ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta

TANGIS pilu orang tua Adi bin Asnawi itu tak akan pernah dilupakan Alex Ong. Tangis itu pula yang menguatkan tekadnya untuk membawa pulang Adi ke kampung halamannya di Lombok Tengah.”Baik hidup maupun sudah meninggal,” kenang Alex tentang peristiwa di Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sekitar sembilan tahun silam tersebut.

Dua tahun sebelumnya, Alex bersama Wahyu Susilo mendirikan Migrant Care, lembaga swadaya masyarakat yang peduli tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Turut bergabung di sana Anis Hidayah yang sudah aktif bersama Wahyu sejak sebelum berdirinya Migrant Care.Adi adalah kasus pertama yang dia tangani yang kemudian kian membulatkan komitmennya untuk mengurusi TKI. Dan, karena janjinya kepada orang tua Adi tersebut, sepulang dari Lombok Tengah, bersama rekan-rekannya di Migrant Care, dia pun mengerahkan seluruh tenaga.

Tujuannya: mengembuskan ke istana kabar tentang Adi yang divonis mati dalam kasus pembunuhan majikannya, Acin, pada 2002 di Malaysia. Upaya itu tak sia-sia. Pemerintah bergerak. Selain menyediakan pengacara, pemerintah memboyong keluarga menuju Malaysia untuk bertemu dengan Adi.

Adi pun akhirnya berhasil lolos dari hukuman mati pada 2008. Sebab, tim pembela mengajukan banding dan membuka fakta gangguan jiwa yang diidapnya. Dua tahun berselang, dia dipulangkan ke kampung halaman setelah menjalani pengobatan di RS jiwa di Malaysia.Sejak itulah, Alex yang kini berusia 56 tahun tersebut semakin total memberikan perhatian kepada masalah TKI. Sebuah pilihan yang tentu tak lazim bagi seorang warga Malaysia, negeri tempat banyak pelanggaran hak kepada TKI terjadi. Juga, negeri yang kerap berselisih paham dalam banyak hal dengan Indonesia.

Buntutnya, ancaman dan penangkapan pernah dialaminya. Bahkan, keluarga besar lulusan magister di University of Oklahoma, Amerika Serikat, itu sejatinya tidak mendukung langkah berisiko tersebut.Apalagi, dengan maksud agar bisa fokus membantu TKI, Alex berencana melepas sebagian besar perusahaan yang dimiliki. ”Mertua, lalu mama saya (menolak, Red). Ini juga tidak mudah untuk saya karena saya memiliki ribuan karyawan yang harus dipikirkan,” ujarnya.

Bisnis Alex bergerak di sektor trading, tambang, green energy, dan software. Akhirnya dia memantapkan hati untuk hanya mempertahankan tiga perusahaan. ”Lima lainnya saya lepas, tapi dengan lebih dahulu memastikan karyawan saya bisa terus hidup dengan pemilik yang baru,” paparnya.Pengorbanan itu rela dilakukan karena bagi dia, membantu TKI sama dengan membantu Indonesia, ”negeri keduanya”.  Indonesia diakrabi Alex sejak 1990, ketika dia menjadi konsultan bagi beberapa perusahaan di sini. Tugas itu membuatnya bisa berkeliling ke banyak wilayah negeri ini.

Pada 2000 atau setahun setelah menetap di Surabaya, pertautannya dengan Indonesia kian kental. Alex mempersunting Sandra Herawati, 44, warga Jakarta. Kebahagiaan keduanya semakin lengkap kala dianugerahi dua buah hati.”Kami tinggal di daerah Embong Malang, Surabaya. Banyak kenangan manis di sana. Apalagi, kulinernya seperti sate kambing dan ayam penyet enak sekali,” kenangnya.

Dua tahun setelah pernikahannya, Alex mendapat kabar bahwa sang ayah meninggal dunia. Dia sangat terpukul karena tak bisa mendampingi di detik-detik terakhir.Peristiwa itulah yang lantas memicu pergolakan batin. Dia mulai mengkaji apa tujuan hidup ini. ”Yang saya pikirkan sebelumnya hanya masalah untung rugi. Tapi, bagaimana dengan tanggung jawab sosial dan dosa besar lain,” tuturnya.Sampai akhirnya, dua rekan lamanya, Wahyu Susilo dan Anis Hidayah, mengontaknya pada Juni 2002. Mereka meminta Alex menjadi ”mata” mereka di sana. Maksudnya, turut mengawasi nasib TKI di Malaysia.

Alex langsung menyanggupi permintaan itu. Dia memang mengenal baik Wahyu dan Anis sejak diundang di sebuah acara Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada 1999.Ketika itu Alex yang bekerja sebagai konsultan ekonomi dihadirkan sebagai pembicara seminar singkat tentang dunia kerja. Dia diminta menjelaskan aturan-aturan dalam dunia kerja yang bisa menjadi bekal bagi para calon TKI.

”Saya ingat betul, acaranya di Hotel Sofyan Betawi yang di dekat masjid. Saya datang rapi pakai jas, eh yang lain hanya pakai T-shirt dan sandal hahaha,” ujar pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.Oleh Wahyu dan Anis, Alex lantas diminta memantau TKI ilegal yang akan dideportasi dari Sabah. Alex mengaku terguncang saat melihat kondisi memprihatinkan di sana.Tapi, ketika itu dia mengaku tidak mengerti apa pun soal urusan buruh migran. Dia hanya bertugas melaporkan kondisi mereka, perlakuan seperti apa yang diterima para TKI, dan pantauan pandangan mata lainnya saja.

Selesai dengan tugas mengawasi pemulangan para TKI ilegal, Alex pun kembali bertemu Wahyu. Mereka mulai membahas permasalahan-permasalahan buruh migran di negara asing.Mulai dijual, disiksa, tidak dibayar sesuai ketentuan, tidak mendapat kontrak yang jelas, hingga lemahnya pantauan pemerintah asal buruh migran.Trenyuh dengan penuturan tersebut, Alex tergerak untuk sepenuhnya bergabung dengan perjuangan Wahyu. Keteguhan keduanya untuk membantu buruh migran pun berujung kepada pembentukan Migrant Care.

Kedekatannya dengan Wahyu dan Anis pun tak hanya sebatas hubungan kerja. Tapi, sudah seperti saudara. ”Rumah saya sudah seperti markas. Setiap kali mengawal kasus di sini, pasti menginap di rumah saya,” katanya.Tapi, risikonya, Alex pernah menghadapi berbagai ancaman. Juga, tudingan tidak nasionalis. Kerap saking khawatirnya, sang istri sampai menangis. Apalagi ketika dia sempat diciduk aparat Malaysia.

Namun, Alex bergeming. Kepada istrinya, dia meyakinkan bahwa apa yang dikerjakannya bukan sekadar coba-coba. ”Saya betul-betul pelajari tentang migran ini, soal masalah hukumnya dan lain-lain. Saya juga belajar banyak dari Wahyu,” ungkapnya.Berkaca dari kasus-kasus yang terjadi, Alex berharap kerja sama yang baik untuk pengawasan buruh migran dapat dilakukan dengan pihak KBRI. Dengan begitu, tidak akan terjadi lagi TKI yang tak mendapat perlindungan menyeluruh.

Selain itu, untuk memantau kondisi TKI di Malaysia, dia membuat grup WhatsApp dan SMS bernama Wira Devisa bersama mereka. Ada pula laman Facebook dan website. Semua platform itu dibuat untuk memudahkan bertukar kabar.”Kami juga ada paguyuban untuk menjaga komunikasi. Juga, ada kegiatan sosialisasi aturan-aturan tenaga kerja melalui paguyuban,” ungkapnya. (*/c10/ttg)

 

Berita Terkait