Refleksi Akhir Tahun Perkembangan Perfilman Kalbar

Refleksi Akhir Tahun Perkembangan Perfilman Kalbar

  Rabu, 30 December 2015 10:04
FILM LOKAL : Kru dan pemain film Iklan Gadungan, film lokal yang diproduksi Kitara Film ini adalah salah satu pemenang pitching forum Anti-Corruption Film Festival 2015 yang diadakan KPK. KITARA FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sepanjang tahun 2015 geliat perfilman lokal di Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami perkembangan yang cukup pesat. Selain penggiat film terdahulu yang tetap aktif, banyak pula sutradara muda yang baru muncul dan menggarap filmnya secara serius. Media apresiasi juga semakin terbuka, antusias masyarakat pun meningkat. IDIL AQSA AKBARY,

Pontianak Tahun ini bisa menjadi momentum yang sangat baik bagi perkembangan perfilman di Kalbar untuk lebih maju di tahun-tahun mendatang. Banyak rumah produksi, komunitas dan penggiat-penggiat film lainnya terus aktif berkarya secara serius. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitas terus berkembang ke arah yang positif.

Salah satu sutradara muda yang juga Owner Kitara Film Akilbudi Patriawan melihat perkembangan perfilman di Kalbar cukupt mengejutkan. Tahun ini sineas-sineas muda baru terus bertambah beserta karya filmnya. Bukti nyatanya adalah ketika even tahunan Kitara Film kembali dihelat, yaitu Kitara Short Movies Screening 2015.

Dalam even pemutaran film Agustus lalu itu, menyuguhkan tujuh film pendek dengan gaya dan kreator yang berbeda-beda. Diantaranya film berjudul Sleep Paralyze sutradara Akilbudi Patriawan, Suratan sutradara Hatta Budi Kurniawan, Empat Angke sutradara Eriz Yunan, Vampire sutradara Fitro Dizianto, Not For Sale sutradara Fietra Rey Pratama Herman, Angel sutradara Hendra dan Rantai sutradara Pieter Andas Kacamata.

Selain itu, menurut Akil juga bisa dilihat dari nominasi di beberapa ajang festival film tingkat nasional. Dimana terdapat judul film dan nama-nama kreator yang sudah tidak asing lagi didengar di telinga masyarakat Kalbar dan Pontianak pada khususnya. “Animo masyarakat untuk mengapresiasi film-film tersebut juga bagus. Bisa dilihat selalu ramainya penonton ketika ada pemutaran film independen, meskipun dikenakan biaya tiket,” katanya.

Jumlah rumah produksi film yang ada di Kalbar pun dinilainya meningkat. Terbukti para penggiat film ini aktif di forum diskusi pada grup facebook, Masyarakat Film Kalbar dan Forum Film Indonesia (FFI) Kalbar di grup Line. "Meningkatnya jumlah generasi muda yang baru lulus sekolah menengah untuk masuk di perguruan tinggi ke fakultas film dan televisi di Pulau Jawa juga mempengaruh minat di dunia perfilman Kalbar," katanya lagi.

Selain itu, Juni 2015 lalu, KPK atau Anti-Corruption Film Festival (ACFFest) juga telah mengadakan pitching forum atau program bikin film bareng KPK yang bertemakan antikorupsi di Kota Pontianak. Dihadiri peserta yang sangat ramai, dimana mereka wajib mengirimkan berbagai ide cerita yang sangat menarik. Mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas dan umum ikut serta.

Hingga akhirnya untuk Pontianak, dimenangkan oleh ide cerita yang berjudul Iklan Gadungan karya Akilbudi Patriawan. Hadiahnya pihak KPK ataupun panitia membantu perihal pendanaan produksi film dari hasil ide cerita yang diajukan. Produksi film itu pun berjalan dengan lancar. Proses pemutaran dan diskusi filmnya sudah diselenggarakan 19 Desember lalu, diputar secara gratis untuk umum. "Melihat kemajuan itu harusnya ada dukungan penuh dari pemerintah di daerah ini. Ini demi perkembangan SDM perfilman di Kalbar," terangya.

Dia berharap ada bantuan, baik dari segi pendanaan mulai dari keperluan pra-produksi, produksi, paska produksi, dan pemutaran tunggal filmnya hingga pemutaran keliling kota. Serta disediakan pula fasilitas gedung pemutaran film di pusat kota maupun di semua kabupaten yang ada di Kalbar.

Kalbar juga perlu membuat ajang festival film agar para sineas-sineas bisa berkompetisi demi kemajuan SDM itu sendiri. Selain membantu dari segi finansial dan fasilitas, menurut Akil pemerintah juga harus selalu memberikan rekomendasi atau sponsor Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD) bagi pelajar yang berada di bangku sekolah menengah. Sehingga bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar proses masuk ke kampus yang diinginkan berjalan dengan lancar.

Hal serupa juga disampaikan sutradara muda lainnya Andas. Dia menilai para penggiat film di Kalbar tahun ini sangat bersemangat. Banyak produksi film yang berkualitas dan tarafnya nasional. "Taraf nasional artinya sudah berhasil menang kontes dalam kompetisi nasional," katanya.

Dia mengatakan, tahun ini juga ada sutradara Kalbar yang berhasil menggarap film bioskop skala nasional. Film berjudul Pontianak Untold Story (Pontien) yang bertema horor itu digarap sineas muda asal Pontianak Agung Trihatmodjo. Mengangkat tentang sejarah dan asal mula Kota Pontianak, serta melibatkan tiga artis jaminan box office ibukota. "Semoga film ini bisa segera tayang," harap Andas.

Intinya banyak hal baru sudah dimulai tahun ini. Dia pun berharap agar tahun depan semakin banyak lagi karya film yang dihasilkan sineas Kalbar. "Tahun depan semoga bibit-bibit film maker makin tumbuh, yang sudah tumbuh makin berbuah karya," pungkasnya.

Dari catatan pemberitaan di Pontianak Post sendiri, cukup banyak film yang sudah diproduksi selama 2015 ini. Pada Januari 2015 lalu, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak mengadakan acara pemutaran film karya mahasiswa di gedung UPT IAIN Pontianak. Ada empat film fiksi maupun non fiksi yang diputar dalam acara tersebut. Dua film disutradarai oleh Haris Supiandi, berjudul Bu dan Demi Buah Hatiku. Kemudian Celengan Ikan Uncak Kapuas disutradarai Agus KPI serta Pontianak On The Way yang disutradarai Agustian. Dimana film dokumenter berjudul Demi Buah Hatiku dikatakan telah berhasil memenangkan kompetisi di tingkat nasional.

Lalu, ada pula film lokal yang berjudul Mira. Film ini diangkat dari kisah nyata seorang wanita yang bernama Mirani Mauliza. Disutradari oleh Pawadi Jihad, film Mira merupakan episode awal dari buku yang bertajuk Mustahil Miskin (Lepas dari Kemiskinan Dalam 30 Hari) yang ditulis oleh Luqmanulhakim dan Abdul Qodir Jaelani.

Tidak hanya di Pontianak, di Kota Singkawang juga diproduksi beberapa film. Ada rumah produksi KRESS Studio Production yang aktif membuat film dengan ide cerita mengangkat kearifan lokal melayu Sambas. Lalu ada film Matamu Adalah Duniaku The Movie yang ide ceritanya ditulis oleh Alfarizi. Dalam penggarapannya 95 persen pelakon merupakan siswa-siswi dari SMK Negeri 2 Singkawang.

Dari Kabupaten Sambas, sekitar dua ribu keping DVD film lokal berjudul Puake Batu laris terjual di pasaran Kalbar dan Malaysia. Film komedi yang diproduseri oleh Helmi ini dirilis pada Hari Raya Idul Fitri 2015 lalu. Film lokal karya putra daerah yang berdurasikan sembilan puluh menit itu sukses mengeduk tawa dan menarik minat masyarakat.**

Berita Terkait