Refleksi 244 Tahun Hari Jadi Kota Saatnya Cetak Biru Penyelamatan Peninggalan Bersejarah di Pontianak

Refleksi 244 Tahun Hari Jadi Kota Saatnya Cetak Biru Penyelamatan Peninggalan Bersejarah di Pontianak

  Kamis, 29 Oktober 2015 09:41   1

 Oleh: Ahmad Sofian dZ

Dentuman meriam ke arah delta sungai mungkin sebagai upaya mengusir  binatang-binatang buas, kuntilanak atau sebagai upaya mengusir kelompok ‘lanun’.  Setelah cukup aman, pagi, di mulai oleh beberapa kelompok lelaki berbadan tegap, berdada lebar mulailah menebang pohon, membersihkan, membuka areal di persimpangan Sungai Landak dan Sungai Kapuas. Berdasarkan beberapa sumber, hari itu adalah hari Rabu, tanggal 23 Oktober 1771 bertepatan dengan tanggal 14 Rajab 1185 Hijriah.

DUA RATUS empat puluh empat  tahun yang lalu dentuman itu mengelegar membuka ruang, memulai masa.  Tempat itu pun disebut ‘Negeri’ Pontianak. Waktu demi waktu berlalu, masa berganti, generasi bertumbuh. Pontianak, Negeri di Simpang Besiku berkembang pesat, dengan posisi penting dan strategisnya.  Kemudian kini kita mengenang peristiwa hampir dua setengah abad yang lalu itu. Sebagai hari jadi kota tercinta.
Keberadaan peninggalan bersejarahnya lengkap juga berciri khas. Dari keadaan geografis, pusat pemerintahan, tempat ibadah, bangunan perkantoran, pasar, rumah tinggal, sarana umum, sarana transportasi , tugu hingga warung-warung kopinya. Dari yang umumnya ada disetiap daerah hingga yang hanya ada di Pontianak.
Untuk bangunan pusat pemerintahan baik kesultanan maupun kolonial, Pontianak masih memiliki Istana Kadriah, serta sisa-sisa kawasan perkantoran Residen. Beberapa tempat ibadah, seperti Mesjid Jami Sultan Abdurrahman, Surau Bait Annur, Mesjid Baitul Makmur, Mesjid Jihad, Gereja Katedral, Kelenteng Tiga masih difungsikan. Bangunan budaya, berupa replika Rumah Betang, Rumah Melayu, Rumah Yayasan Kuning seolah memberi citra interaksi budaya yang dinamis. Bangunan perkantoran, Kantor Pos Lama, gedung Bank Indonesia (De Javasche Bank), gedung Bappeda Kota dan beberapa lainnya walau tertatih masih mampu bercerita untuk menyiratkan masa-masa jayanya.
Kawasan Pasar Kapuas Besar walau sudah ada berubah disana-sini namun masih bergeliat menjaga arsitektur dan dinamika sejarahnya. Rumah-rumah tinggal, rumah panggung di tepian Sungai Kapuas Kecil, Kampong Beting, Kampong Saigon, Kampong Kamboja, Kampung Bangka, Kampong Arab, Kampong Tengah, dan beberapa lainnya seolah menunggu untuk disapa dan diperhatikan.
Sarana-sarana umum yang berciri khas, seperti Taman Alun Kapuas (Larive Park), Lapangan Sepak Bola Kebun Sajoek (PSP), Parit di dalam dan disekitar wilayah kota, Geretak tepian Sungai Kapuas, Tugu Khatulistiwa, Tugu Nol Kilometer, Tugu 40 tahun Sultan Muhamad bertahta dan lainnya  hingga warung-warung kopi. …..
Tempat, kawasan, bangunan-bangunan tersebut menjadi satu bagian utuh yang tidak hanya sekedar lembaran masa lalu di masa sekarang. Namun yang paling penting ia mencerminkan setiap tahapan dan bagian sejarah berkembangnya kota ini. Begitu banyak manfaat yang diperoleh dari menjaga dan melestarikannya, selain untuk mempertegas identitas kota, memperkaya khasanah sejarah dan budaya, sarana pendidikan dan ilmu pengetahuan, hingga  menambah pendapatan daerah. Yang paling penting adalah ia adalah tanggung jawab yang diberikan oleh orang-orang tua dan titipan yang dipercayakan oleh anak cucu. Untuk selalu di jaga. Agar dapat bermanfaat dan dinikmati dari generasi ke generasi.   
Lalu bagaimana keadaan peninggalan-peninggalan sejarah di kota Pontianak saat ini? Setiap kota harus berkembang. Pembangunan menjadi salah satu kunci agar hari esok lebih baik lagi. Pembangunan yang memperhatikan aspek sejarah, sosial dan budaya menjadi penting dan ‘semestinya’ menjadi dasar pijakan. Tidak hanya aspek fisik semata. Catatan panjang hilangnya peninggalan-peninggalan sejarah telah kita saksikan dan menjadi intropeksi bersama.
Sudah begitu banyak lembar sejarah yang hilang. Generasi sekarang sudah tak dapat melihat lagi beberapa peninggalan itu. Bahkan narasi yang semestinya diceritakan seperti terhapus atau masih tercecer entah dimana. Siapa diantara kita yang pernah mendengar cerita tentang  Pagar benteng batu istana Kadriah? yang kini nyaris tak lagi dapat kita saksikan keberadaannya.
Keberadaan Benteng  (fort) Du Bus, kini hanya tinggal cerita saja.  Gereja Katedral Pontianak,  yang sudah masuk sebagai benda cagar budaya, bahkan sudah berganti menjadi bangunan gereja megah dan mewah bernuansa roma. Europe Largere School (ELS)  dirobohkan tanpa bekas, rata dengan tanah, dan diatasnya kini berdiri bangunan BNI tanjung pura. Geretak  kayu di sepanjang tepian Sungai Kapuas Kecil kini semakin terancam keberadaannya, karena ditutup dengan coran semen dan pasir. Barau-barau Parit yang mengelilingi kota, kini nyaris tak bersisa.
Gedung Arena Remaja, sebagai tempat untuk  para remaja dan pemuda berkreatifitas tidak ada lagi, diganti dengan Pontianak Convention Center. Prasasti Tragedi Mandor di bundaran Pelabuhan Pontianak diubah hilang entah bagaimana. Bangunan Penjara, saksi bisu sejarah  perjuangan daerah ini tak ada lagi rupanya, diganti rumah sakit. Rumah-rumah panggung di tepian Sungai Kapuas satu persatu menghilang, nyaris tak tersentuh dan seperti tak diikut sertakan dalam  roda pembangunan. Masih banyak lagi yang lainnya.
Semoga lembaran itu tidak bertambah lagi. Semoga refleksi hari jadi tahun yang ke 244, dapat mengubah sikap dan strategi kebudayaan kita semua untuk melestarikan peninggalan bersejarah di kota Pontianak. Agar kota kita, kota Pontianak tidak menuju menjadi kota yang lupa akan ingatannya. Seperti apa yang dikatakan oleh Prof Eko Budiarjo, Kota tanpa bangunan lama, ibarat manusia tanpa ingatan.
Pada posisi strategis, pemerintah sebagai pemangku kepentingan mutlak diperlukan dan didorong untuk segera  secara konfrehensif melaksanakan undang-undang No 11 tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Karena jelas disebutkan bahwa ini sebagai amanat dan tanggung jawab. Seperti yang termaktub, Menimbang (b) bahwa untuk melestarikan cagar budaya, Negara  bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya.
Lebih lanjut,  Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan tingkatannya mempunyai tugas: mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan, serta meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab akan hak dan kewajiban masyarakat dalam pengelolaan Cagar Budaya. Mengembangkan dan menerapkan kebijakan yang dapat menjamin terlindunginya dan termanfaatkannya Cagar Budaya. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan Cagar Budaya. Serta menyediakan informasi Cagar Budaya untuk masyarakat.
Apa yang dimaksud dengan benda cagar budaya? Di dalam Pasal 5 Undang-Undang No 11 Tahun 2010 jelas dikatakan,  Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih,  mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Peninggalan-peninggalan bersejarah berupa benda, bangunan, struktur jika memenuhi kriteria dapat dijadikan sebagai benda cagar budaya. Khusus untuk keberadaan gedung atau bangunan tua, ia adalah sebagai pusaka kota. Jika Mengacu pada Undang-Undang No 11 Tahun 2010, Bangunan yang berusia di atas 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah bisa dimasukkan sebagai cagar budaya yang keberadaannya harus dilindungi dan dilestarikan.
Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah nyata  dalam upaya melestarikan peninggalan bersejarah yang ada di kota Pontianak. Menjadikannya sebagai Rencana Strategis. Dalam jangka pendek  pertama-tama, yang harus dilakukan adalah pendataaan dan pencatatan semua peninggalan sejarah. Kedua,  mencari dan mengali sumber-sumber yang berkenaan dengan peninggalan bersejarah secara konfrehensif. Ketiga,  menyebarluaskan informasi mengenai peninggalan sejarah yang ada.
Untuk Jangka menengah, menetapkan peninggalan-peninggalan sejarah tersebut  sebagai benda cagar budaya daerah, melalui proses-proses yang menyertainya seperti yang diamanatkan Undang-undang Cagar Budaya  “Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat kabupaten/kota apabila memenuhi syarat: ebagai Cagar Budaya yang diutamakan untuk dilestarikan dalam wilayah kabupaten/kota, mewakili masa gaya yang khas, tingkat keterancamannya tinggi, jenisnya sedikit,  jumlahnya terbatas” (pasal 44).
Selamat Hari jadi Kota yang ke 244 tahun. Semoga Moment ini mengingatkan kita semua untuk selalu menjaga peninggalan sejarah, merawat bangunan-bangunan lama. Sekali lagi, agar kota kita, kota Pontianak tidak menuju menjadi kota yang lupa akan ingatannya.  Akhir kata, semoga kita senantiasa mampu menjaga amanat anak cucu. Agar mereka senantiasa menghargai kita. Karena  “Mereka yang tidak menghargai masa lalu, juga tidak berharga untuk masa depan”.

Bekayoh sampan kekota lama, Ingin menari serta berdendang, Pontianak ini kota lama, Banyak bangsa tumbuh berkembang.
Bukan gigi putih waktu tertawa, Namun pipi merona merah, Bukan hanya tugu khatulistiwa, Setiap sudut kota bernilai sejarah.

*) Penulis buku, baik sastra maupun buku berdasarkan kajian/ penelitian. Diantaranya Kumpulan Cerita Pendek ‘ Dan AKu Dan Aku Yang lainnya’ (2002, 2008). Kumpulan Puisi ’Hitam Putih Cinta Dalam Jiwa’ (2003).  Kumpulan Puisi ’ Ruang Dan Waktu” Sebuah Rangkaian Potret Dalam Kata Tentang Kehidupan, Cinta, Perjalanan Dan Rasa Syukur (2006, 2008).  Mencari Ruang Publik di Warung Kopi, Fenomena Warung Kopi dan Es Teler di Kota Pontianak (2008,2012), Pontianak Kota Khatulistiwa, Panduan Wisata ke Kota Pontianak (2010,2012,2014). Pontianak Heritage(2013). Pontianakopiology (2015), Meriam Ke(a)rbit  2014,2015.