Refleksi 1 Desember 2017

Refleksi 1 Desember 2017

  Senin, 4 December 2017 09:27   42

Oleh: Santriadi Rizani Umar

TANGGAL 1 Desember diperingati Hari AIDS sedunia. Berbagai aktivis menggelar aksi dalam rangka “perang terhadap AIDS”, ada juga yang melakukan aksi simpatik dengan membagikan pita merah, bunga, dan lain-lain. HIV/AIDS memang menjadi perhatian dunia saat ini, bahkan menjadi salah satu penyakit yang menjadi momok menakutkan bagi seluruh lapisan masyarakat. Betapa tidak, penyakit yang satu ini bisa membawa kematian. Tahun 2017 ini, tanggal 1 Desember bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awal 1439 Hijriyah yang oleh umat Islam diperingati hari lahirnya manusia agung dan mulia Muhammad Saw. atau yang biasa dikenal dengan istilah maulid nabi.

Jika dikait-kaitkan, antara penyakit AIDS dengan maulid nabi memiliki kaitan. Lho, apa kaitannya? Berdasarkan sejarah, sebelum lahirnya Muhammad, masyarakat Arab dikenal dengan zaman jahiliyah atau kebodohan. Bodoh di sini dalam artian rusak dan bobroknya akhlak masyarakat Arab. Salah satu yang mencerminkan buruknya akhlak bangsa Arab pada waktu itu adalah pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap kaum wanita. Sampai-sampai seorang ibu yang melahirkan anak perempuan dengan sangat terpaksa untuk dibunuh hidup-hidup dengan cara dikubur dalam pasir yang sangat panas. Bahkan Umar bin Khattab Ra. juga pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orangtua rela anak perempuannya yang baru lahir dibunuh hidup-hidup? Jawabannya adalah karena jika sudah besar nanti anak perempuan hanya dijadikan pemuas nafsu laki-laki hidung belang (kalau istilah zaman now). Jika seorang wanita melakukan hubungan dengan banyak laki-laki tanpa ikatan pernikahan, tentu hal itu menjadi aib bagi keluarga dan sangat memalukan. Oleh karena wanita yang digauli oleh laki-laki lebih dari satu, maka itulah yang berpotensi mengundang penyakit kelamin, salah satunya adalah AIDS.

Lahirnya Muhammad di kota Makkah pada Senin 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah menjadi titik awal (starting point) untuk merubah masyarakat Arab yang jahiliyah menjadi masyarakat yang memiliki peradaban yang baik, minadz-dzulumaati ilannuur (dari kegelapan menuju cahaya). Ketika Muhammad lahir di muka bumi ini, seketika itu pula api yang disembah oleh kaum Majusi padam, sedangkan cahaya terang benderang menerangi kota Makkah.

Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. menjadi kabar gembira bagi kaum wanita. Islam mengangkat derajat, harkat, dan martabat para wanita. Bahkan di dalam Al-Qur’an Allah SWT. khususkan satu surah yaitu An-Nisa’ yang artinya wanita, tidak ada nama surah Ar-Rijal (laki-laki) atau Asy-Syabab (pemuda). Nama surah lain Al-Baqarah (sapi betina), Maryam (ibu nabi Isa As.).

Tidak ada lagi pemerkosaan terhadap perempuan setelah Islam datang di tanah Arab. Jika hal ini terjadi, maka itu disebut melakukan zina. Zina dalam Islam hukumnya haram, mendekati zina saja dilarang, apalagi sampai melakukannya, sebagaimana firman Allah SWT.: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Zina ada dua macam, yaitu zina muhsan dan ghairu muhsan. Zina muhsan adalah zina yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Sedangkan zina ghairu muhsan adalah zina yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Dalam Islam, pelaku zina muhsan dihukum dera seratus kali dan diasingkan dari kampung halaman selama setahun. Keduanya harus disaksikan oleh orang-orang mukmin dan dilarang untuk mengasihaninya. Sedangkan pelaku zina ghairu muhsan dihukum dengan rajam. Rajam adalah anggota badan dikubur sampai leher dan dilempar dengan batu sampai mati. Jika seperti itu hukuman bagi pezina, penulis yakin tidak akan terjadi lagi zina di mana-mana.

Perhatikan firman Allah SWT. dalam Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 2: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

Salah satu penyakit kelamin seperti AIDS adalah akibat dari hubungan seksual di luar nikah (berzina) dan gonta-ganti pasangan. Penyakit berbahaya yang tidak ada obatnya itu merupakan azab dari Allah SWT. yang telah melanggar syari’at yang telah ditentukan. na’udzubillaahi min dzaalik.

Menurut M. Irwan Ariefyanto (2012), dari sekian banyaknya kasus di Indonesia, 95% penderita AIDS disebabkan oleh hubungan seksual. Dari semua ini, kita harus mengambil hikmahnya seakan-akan kita diingatkan untuk kembali kepada ajaran-ajaran agama Islam. Wallahu a’lam.

Penulis: pemerhati masalah sosial kemasyarakatan