Ratusan Hektar Padi Gagal Panen

Ratusan Hektar Padi Gagal Panen

  Senin, 11 April 2016 09:44
KERING: hamparan lahan pertanian di Desa Sungai Limau Kecamatan Sungai Kunyit tampak. ISTIMEWA

Berita Terkait

MEMPAWAH- Musim kemarau yang melanda wilayah pesisir Kalimantan Barat berdampak buruk terhadap sektor pertanian di Kabupaten Mempawah. Ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Sungai Kunyit kekeringan. Tanah merekah dan tanaman padi milik petani mati akibat layu.

“Untuk wilayah Sungai Kunyit saja diperkirakan ada 100-150 hektare lahan pertanian yang kekeringan. Hampir diseluruh desa yang memiliki kawasan pertanian mengalami kerusakan. Tanah-tanah merekah dan tanaman padi semuanya kering,” terang Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Sungai Kunyit, Julianto kepada Pontianak Post, Jumat (8/4) sore. Uli begitu dia akrab disapa menceritakan, kekeringan yang melanda wilayah itu sudah berlangsung sejak Januari 2016 lalu. Sejak itu pula tanaman padi milik para petani yang sudah tumbuh subuh, mulai mengalami kekeringan hingga layu. “Banyak petani yang tidak sempat panen terhadap tanaman padi nya. Lihat saja, tanah sawah sampai merekah, sudah pasti tanamannya ikut layu dan gagal panen. Namun, ada juga beberapa lahan yang sudah sempat dipanen,” ujarnya.

Akibat kekeringan itu, sambung Uli, para petani di Kecamatan Sungai Kunyit menderita

kerugian yang tidak sedikit. Jika dikalkulasikan, dia memperkirakan kerugian materi yang diderita para petani mencapai ratusan juta rupiah.

“Saat ini para petani hanya bisa pasrah saja melihat tanaman padi kering dan mati. Sebab, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi kekeringan itu. Namun, ada juga petani yang memanfaatkan musim kemarau ini untuk membersihkan lahan sebagai persiapan musim tanam nanti,” tuturnya.

Terkait kekeringan itu, Uli menyebut tidak adanya inovasi dari instansi terkait untuk menyediakan suatu sistem pengairan di lahan-lahan pertanian milik masyarakat. Padahal,

kebutuhan air bersih menjadi faktor penentu dalam mensukseskan kemajuan sektor pertanian di wilayah itu.

“Makanya, kami mendorong agar dinas pertanian dapat menyediakan fasilitas-fasilitas sumber air bersih sesuai potensi lahan pertanian masing-masing. Baik itu sistem irigasi, embung maupun sistem lain yang dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi lahan pertanian masyarakat,” tegasnya.

Anggota DPRD Mempawah, Syarif Saleh mendesak agar Dinas Pertanian, Peternakan,

Perkebunan dan Kehutanan (DP3K) segera menyusun langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kekeringan dimasa mendatang. Mengingat, musim kemarau terjadi setiap tahunnya.

“Musim kemarau seperti ini pasti terjadi setiap tahun. Harusnya dinas sudah bisa mengantisipasi sejak awal. Walau tidak bisa mengantisipasi secara keseluruhan, paling tidak meminimalisir dampak kerugian petani,” tuturnya.

Selama ini, sambung Legislator Dapil Sungai Kunyit, Toho dan Sadaniang itu, para petani hanya mengandalkan sistem tadah hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di lahan-lahan pertanian. Sistem itu sangat tidak efektif ketika menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan.

·  “Mungkin jika kemarau hanya satu bulan, tidak terlalu berdampak untuk padi. Namun, kalau sudah berbulan-bulan seperti ini maka akan akan menyebabkan tanaman padi layu dan mati. Akibatnya petani yang merugi lantaran gagal panen,” ujarnya.

Kedepan, Legislator Partai Golkar itu mendesak agar DP3K segera menyusun langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kemarau dimusim mendatang. Agar, tidak ada lagi lahan-lahan pertanian di Kabupaten Mempawah yang mengalami kekeringan.

“Dinas teknis pasti lebih tahu sistem seperti apa yang efektif dan efisien dalam menanggulangi dampak kemarau panjang. Kami di DPRD siap mendukung anggaran untuk pengelolaan system pengairan tersebut. Asalkan realisasinya tepat sasaran dan bermanfaat bagi petani,” sebutnya.

Dilain pihak, Pengamat Ekonomi Sosial Kabupaten Mempawah, Susanto, SE, ME menyarankan agar pemerintah daerah memanfaatkan sistem sungai bawah tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih lahan-lahan pertanian diwilayah itu. Dia optimis sistem tersebut mampu mengatasi permasalahan kekeringan.

“Namun, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu untuk mengetahui titik-titik aliran sungai bawah tanah tersebut. Harus dilakukan pengeboran hingga kedalam ratusan meter dibawah permukaan tanah untuk mendapatkan aliran sungai itu,” terang Susanto.

Pada beberapa daerah di Pulau Jawa, sambung Susanto, sistem sungai bawah tanah itu sangat efektif mengatasi persoalan kekeringan lahan pertanian. Sebab, mutu dan kualitas air pun sangat baik untuk tanaman padi.

“Kualitas air sungai bawah tanah bagus. Tidak mengandung zat besi atau pun kandungan air laut seperti air permukaan yang dihasilkan sumur bor. Kami siap membantu pemerintah daerah untuk merealisasikan sistem sungai bawah tanah itu,” pungkasnya.(wah)

Berita Terkait