Rasio Guru Besar Rendah

Rasio Guru Besar Rendah

  Rabu, 11 May 2016 09:30
Thamrin Usman

Berita Terkait

RASIO Guru Besar di Indonesia masih tergolong rendah. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menyebut dari 280-an ribu dosen yang ada di Indonesia, hanya 5000-an orang saja yang sudah berstatus guru besar alias profesor. “Padahal standar minimal untuk profesor kita adalah 22.000 orang. Ini sesuai jumlah program studi yang ada. Idealnya, 1 disiplin ilmu memiliki 1 guru besar,” ujarnya kepada Pontianak Post usai mengusu seminar keprofesian dosen di Rektorat Untan, kemarin (10/5).

Hal ini, kata dia, akan berdampak pada sistem pendidikan di perguruan tinggi. Karena pada dasarnya profesor adalah pencapaian tertinggi dan paripurna dalam perjalanan karier seorang dosen. Selain itu, dia adalah pemimpin di bidang disiplin keilmuannya. Dia adalah sumber ilmu bagi dosen-dosen juniornya atau yang belum bergelar profesor.  “Ini akan berpengaruh kepada pengembangan riset dan akademik di perguruan tinggi. Karena negara lain profesor sudah sangat banyak,” ungkap dia.

Disebutkan dia, proses birokrasi yang berbelit kerap dijadikan alasan bagi seorang doktor untuk mengambil gelar profesor. Namun sejak tahun lalu, sistem disederhakan dan di-online-kan sehingga pengajuan dan proses verifikasi jauh lebih cepat. Hanya saja, masih banyak yang enggan mengurusnya.

“Padahal kita sudah jauh lebih mudah dari sebelumnya dan dari negara tetangga. Jurnal ilmiah internasional yang diakui misalnya, cukup satu saja. Bandingkan dengan syarat untuk jadi profeseor di Malaysia yang wajib bikin dua artikel ilmiah di jurnal internasional dua kali setahun,” jelasnya.

Keadaan Universitas Tanjungpura setidaknya menggambarkan kondisi nasional. Rektor Untan Thamrin Usman mengatakan saat ini dari 900-an dosen yang mengajar di Untan, hanya 30-an orang saja yang sudah bergelar profesor (aktif). “Tentu saja kami akan terus mendorong para dosen untuk menggapai gelar guru besar, karena ini sangat penting. Kami terus dorong terutama untuk penelitian dan penerbitan jurnal ilmiah,” sebut dia.

Menurutnya, dosen punya tanggung jawab keilmuan dan terus mengembangkan dirinya. Pasalnya dia memiliki tugas sebagai pendidik bagi para mahasiswanya. Dosen juga punya tanggung jawab untuk melakukan penelitian dan menghasilkan hal bermanfaat untuk masyarakat. 

“Sekarang tidak ada alasan untuk kesulitan dalam menggapai gelar profesor. Dikti sudah memberikan banyak kelonggaran dan kemudahan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Untan sendiri siap untuk membantu dosen dalam melakukan penelitian, baik dalam hal pendanaan maupun lainnya, kendati jumlahnya terbatas. Peluang dari beasiswa luar juga besar sekarang. Ambil peluang itu,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait