Rasakan Kehadiran Mahkluk Halus, Bekerja Sendiri di Kuburan

Rasakan Kehadiran Mahkluk Halus, Bekerja Sendiri di Kuburan

  Sabtu, 6 Agustus 2016 09:48
UKIR : Batu nisan dalam tahapan penyelesaian.

Batu nisan merupakan batu yang diletakkan sebagai penanda di pusara orang yang telah meninggal dunia. Di Pulau Nunukan, tak banyak yang menekuni pekerjaan ini. Tapi, untuk soal peminatnya, lumayan banyak. 

 

SYAMSUL BAHRI, Nunukan  

 

EDI Ibrahim, pria kelahiran Makassar 5 Januari 1965 ini mengaku telah membuat batu nisan sejak 2008. Awalnya, hanya ukuran kecil yang diperuntukan bagi pusara anak-anak. Lama kelamaan, mulai membuat untuk orang dewasa.

 

Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan waktu itu membuat pria tiga anak ini mencoba peruntungan melalui kerajinan batu nisan. Hasil buatannya hanya dipajang di pinggir Jalan Hasanuddin, Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan. Harganya juga masih berkisar Rp 100 hingga 300 ribu per unit.

 

Kini jalan tersebut sudah sepi dilalui kendaraan masyarakat lagi. Sebab, jalan yang merupakan satu-satunya penghubung antara Kecamatan Nunukan dengan Nunukan Selatan itu telah ditutup akibat adanya proyek penambahan landasan pacu Bandar Udara (Bandara) Nunukan.

 

“Sebenarnya gampang saja buatnya karena tidak menggunakan batu gunung. Makanya harganya juga terbilang murah dibanding batu nisan batu gunung. Apalagi di Nunukan ini tidak mudah temukan batu gunung ukuran besar,” ungkapnya.

 

Suami dari Sitti Malaya ini menceritakan sejumlah pengalamannya selama menekuni bisnis yang berbau dengan kematian ini. Menurutnya, selama tujuh tahun menjalani bisnisnya, pengalaman mistis juga ikut dialami. Utamanya ketika ada pesanan dari keluarga pemilik pusara yang ingin dibuatkan di kuburan.

 

“Kalau saya buatnya di rumah, Alhamdulillah tidak pernah ada yang aneh atau hal-hal yang mistis. Semuanya biasanya saja. Seperti saya membangun sebuah bangunan rumah. Tapi, yang menyeramkan itu ketika dikerjakan di kuburan. Banyak kejadian yang saya alami,” aku Edi.

 

Salah satunya ketika batu nisan lama yang terbuat dari kayu tidak ingin tercabut. Padahal, dirinya telah menggali dan ujung kayu yang tertanam telah terlihat dan bergoyang. Anehnya, selama 5 jam tidak bisa dipindahkan. “Saya heran juga. Sempat termenung melihatnya. Tapi, karena saya perbaiki niat awal saya, akhirnya tercabut juga. Yang punya kuburan katanya preman dan mati terbunuh,” ceritanya.

 

Belum lagi ketika mengerjakan pesanan pelanggan hingga malam hari di kuburan. Dengan ditemani penerangan seadanya pekerjaan tetap dilanjutkan. Ia mengaku, ketika membuatkan batu nisan di salah satu pemakaman kuburan yang ada di Kecamatan Nunukan, dirinya sempat melihat mahkluk halus melintas di depannya. Bahkan, terasa ada yang mengawasinya sejak awal mengerjakan batu nisan. Apalagi batu nisan untuk kuburan yang dikerjakan itu baru sepekan ditempati. Sehingga suasananya menyeramkan. Bahkan, terkadang mencium aroma tidak sedap di sekitar kuburan.