Rakyat Menagih Janji

Rakyat Menagih Janji

  Rabu, 10 February 2016 08:39

Berita Terkait

Oleh : Mikael Chip, S.S  PEMBERITAAN tentang pelantikan para bupati terpilih mulai bergaung keras di media massa. Suatu tanda bahwa tampuk kepemimpinan akan segera dimulai. Bersamaan dengan momentum itu pula, bupati terpilih harus sudah siap menjalankan seluruh tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai abdi negara dalam pelayanan kepada publik (rakyat).  Pelayanan publik adalah prioritas utama bagi seorang pemimpin yang zuhud dan tawadduk. Mereka adalah pengemban amanah rakyat dan harus mewujudkan nurani rakyat. Sebab, legalitas kepemimpinan para birokrat ini pun lahir karena adanya kerjasama antara rakyat dan calon pemimpinnya.

Landasan kejasama itu menuntut adanya sikap saling percaya di antara keduanya, sehingga terjadi kepemimpinan yang efektif, cerdas, tangguh, adil, jujur dan bijaksana. Inilah kepemimpinan yang bermutu dan bersifat simbiosis mutualisme di antara pemimpin dan yang dipimpin, sehingga muncul rasa saling membutuhkan.

Bagaimana menciptakan atmosfer kepemimpinan yang bermutu dan bersifat simbiosis mutualisme itu? Penulis berpendapat bahwa seorang pemimpin harus bijaksana dan menguasai persoalan sosial kerakyatan yang berkaitan dengan peta pembangunan, memahami sistem sosial, budaya, nilai hidup rakyat serta harus mengerti betul kebutuhan rakyat.

Dengan demikian, diharapkan pengambilan keputusan untuk melakukan vonis kebijakan dalam pelayanan kepada rakyat tepat sasaran. Sebab kepemimpinan yang baik harus mengedepankan kepentingan rakyat. Sesuai dengan paradigma perpolitikan demokrasi Indonesia yang mengutamakan pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat.  

Lebih dari itu peran serta masyarakat diperlukan untuk melakukan controling kepada kinerja birokasi pemerintah secara “ajeg” atau secara terus-menerus melalui media massa(cetak ataupun elektronik). Bahkan bisa juga dengan cara musyawarah tatap muka. Fungsi kontroling yang dilakukan oleh masyarakat ini bertujuan untuk membantu proses pelaksanaan visi misi yang telah dijanjikan oleh para calon pemimpin pada saat kampanye sebelumnya.   

Rakyat adalah penguasa sebenarnya dalam suatu negara. Mereka memiliki kekuatan dan pengaruh yang bersifat “piramida”(lebih besar) dibandingkan dengan para penguasa. Rakyat adalah sponsor utama pemerintahan, jadi sudah sewajarnya pelayan publik harus berpihak pada masyarakat. Pelayanan publik akan berjalan baik jika diawali dulu dari paradigma pelayanan yang sungguh-sungguh. Terutama berkaitan dengan pembangunan kesejahteraan, pendidikan, kesehatan dan pemberian rasa aman bagi segenap masyarakat.

Berkaitan dengan rasa aman, penulis secara gamblang berkata bahwa negara Indonesia saat ini sedang tidak aman. Teror dan pembunuhan jamak terjadi di mana-mana. Hal ini, menunjukan bahwa salah satu tugas pelayanan publik yang dijalankan oleh instansi atau lembaga terkait memang belum berjalan maksimal seperti yang diharapkan oleh rakyat.

Terlepas dari satu persoalan itu, masih banyak bidang lain seperti bidang pendidikan. Kualitas pendidikan kita masih jauh dari kata berhasil. Demikian juga dengan kesehatan. Selain itu, penulis mengharapkan kepada para pemimpin terpilih agar mau belajar untuk mendengar keluh kesah rakyatnya. Ingat “Suara rakyat adalah suara anak bangsa” dan lebih dari itu, meminjam istilah filosofi Thomas Aquinas mengatakan bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Ini menunjukan adanya makna kebenaran dari suara rakyat yang harus dihormati oleh para pemegang tampuk kekuasaan, maka perlu diperhatikan.

Jangan menjadikan rakyat objek pembodohan oleh para pemimpin terpilih hanya demi kepentingan pribadi dan golongan. Sebab pemimpin harus membela dan menjaga kepentingan rakyatnya.  Menjadi keprihatinan penulis bahwa pada saat ini banyak para pemimpin kita “gagal” dalam memimpin bangsa dan rakyatnya. Bukan karena mereka tidak berpotensi, melainkan karena mereka tidak memiliki komitmen dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah diembannya. Ingat sekali lagi! Kepada para pemimpin khususnya para bupati terpilih, janji selalu menuntut sebuah tanggungjawab! Semoga dapat ditepati. (*)

 

*) Tenaga pendidik YPK Fatima Agustinian Ketapang

Alumnus STFT Widyasasana Malang

Berita Terkait