Raih Piala Presiden Saat Usia 12 Tahun

Raih Piala Presiden Saat Usia 12 Tahun

  Rabu, 6 April 2016 09:30
PETINJU CILIK: Ronny Polanco petinju cilik asal Kayong Utara saat bertandang ke Redaksi Pontianak Post, Senin (4/4). SHANDO SAFELA PONTIANAK POST

Berita Terkait

Kaderisasi petinju muda Kalbar tak lepas dari racikan tangan dingin Damianus Jordan yang aktif melatih puluhan petinju di Sasana Kayong Utara. Salah satu yang terbukti berbakat dan menonjol adalah Si Cilik Ronny Polanco. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

BANYAK petinju-petinju hebat lahir dari Sukadana, Kayong Utara. Prestasi mereka sudah terbukti bahkan mampu mendunia. Sebut saja Daud Yordan yang sebelumnya sukses memegang gelar juara dunia mulai dari International Boxing Organization (IBO) hingga World Boxing Organization (WBO). Kemudian ada Iwan Zoda yang pekan lalu baru saja merebut gelar juara dunia IBF Youth kelas terbang. Serta masih banyak lagi petinju-petinju berbakat lainnya. 

Sehari-hari mereka berlatih di Sasana Kayong Utara, sebuah sasana tinju milik Damianus Jordan yang terletak di samping kediamannya di Sukadana, Kayong Utara. Puluhan petinju ditempa di sasana sederhana. Namun kualitas mereka tak bisa dipandang sebelah mata. 

Dari sana regenerasi petinju terus tumbuh. Anak-anak desa yang berbakat dan memiliki tekad untuk menjadi petinju profesional dilatih. Damianus terus mengarahkan bakat tersebut. Salah satunya bocah 13 tahun bernama Ronny Polanco, yang sudah ikut tinggal bersama Damianus sejak lima tahun silam. 

“Pada dasarnya semua anak punya bakat, bisa tinju dan berpotensi, tapi hanya yang mampu bertahan yang bisa terus maju,” ucapnya. 

Pernyataan tersebut mengarah pada Ronny. Sebab ketika memutuskan bergabung di Sasana Kayong Utara, ada belasan bocah seangkatan dengannya. Namun hanya Ronny yang masih bertahan.

Ronny menceritakan, saat memutuskan berlatih di Sasana Kayong Utara usianya masih delapan tahun. Kala itu dia masih tinggal di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang. Jarak antara rumah dan sasana kurang lebih mencapai 300 kilometer. “Waktu itu Bang Damianus buka turnamen di sana dan mengajak anak-anak yang mau bergabung berlatih tinju,” terangnya. 

Bermula dari iseng karena banyak teman yang juga ikut, Ronny akhirnya bergabung. Dia pun memilih pindah rumah dan sekolah, tinggal bersama Damianus di Sukadana. Kini tinju sudah menjadi hobi, dia juga merasa memiliki bakat di bidang tersebut. “Senang bisa ikut tinggal di rumah Bang Damianus banyak belajar hidup,” ucapnya. 

Prestasi Ronny juga sudah terbilang banyak, baik skala daerah hingga nasional. Dia mengaku, pertama kali bertanding saat ada even tinju Cornelis Cup. Masih berusia sembilan tahun, dia sukses menjadi juara mewakili daerahnya. “Padahal lawan saya waktu itu lebih tua, hanya berat badan yang sama, tapi saya bisa menang angka,” terangnya.

Puncak prestasinya di umur 13 tahun adalah ketika menjuarai Kejuaraan Tinju Piala Presiden 2015 lalu. Ronny sukses menang angka melawan petinju asal Kulon Progo, Yogyakarta.

Dia berharap ke depan dirinya bisa menjadi petinju profesional. Tekadnya semakin kuat untuk giat berlatih. Di Sasana Kayong Utara Ronny rutin berlatih sebanyak dua kali per hari. Mulai dari hari Senin sampai Sabtu, pagi jam 07.00-08.30 dan sore jam 15.00-17.30.

Selain fokus berlatih tinju, dia merasa dunia pendidikan juga sangat penting. Untuk itu dia meyakinkan akan terus mengenyam pendidikan sampai jenjang paling tinggi. “Pendidikan tetap wajib, keduanya harus dijalani, sejauh ini orang tua saya sangat mendukung,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait