Raih Laba Besar dari Usaha Percetakan

Raih Laba Besar dari Usaha Percetakan

  Rabu, 28 Oktober 2015 09:07
HARYADI/PONTIANAK POST

Oleh : Ramses L Tobing, Pontianak

Andre terlihat,sibuk mendesain gambar pesanan dari konsumennya ketika ditemui wartawan koran ini. Dia merupakan salah satu pengusaha di bidang percetakan dan konveksi sablon.  Usaha ini bukan dunia baru bagi pria berusia 30 tahun ini. Sektor jasa itu sudah digelutinya ketika belum memiliki usaha sendiri. “Dulunya saya kerja dengan orang lain. Sekarang sudah punya usaha sendiri. Masih dengan sektor yang sama di percetakan dan konveksi sablon,” kata Andre.

Dia mulai merintis usaha ini di tahun 2013, ketika ia memutuskan berhenti bekerja dengan orang lain. Berbekal relasi, kemampuan desain yang baik serta memberikan pelayanan dan kualitas produksi yang baik, Andre mulai mencari pelanggan tetap. Itulah yang menjadi modal awalnya. Tanpa harus membeli mesin cetak, usaha itu bisa tetap berjalan. Berbagai jenis jasa ditawarkannya seperti cetak brosur, baliho, pamflet, spanduk, kartu nama, undangan, yasin dan lain-lain.  “Jika dulunya harus berdua mengerjakannya. Alhamdulillah sekarang sudah ada empat karyawan,” kata pemilik Percetakan Raya Printing ini.

Usaha yang dibangunnya sudah tiga tahun berjalan. Tak hanya karyawan yang bertambah. Berkat kerja kerasnya, Andre sekarang sudah memiliki mesin cetak sendiri. Jumlah konsumen yang mengorder kian bertambah, meskipun bersifat relatif. Setidaknya dalam sehari ada 20 hingga 30 orang yang mengorder produk.

Untuk memudahkan, konsumen tidak harus datang langsung untuk mengorder. Bisa via online, apakah itu media sosial seperti facebook, BBM atau email. “Asalkan desain yang diinginkan jelas, pesanan bisa dikerjakan dengan baik. Meski orderan diterima secara online,” kata pria yang tinggal di Pal 9, Kabupaten Kubu Raya ini.

Menurut Andre, momen yang paling ramai saat pilkada atau pemilihan legislatif. Tahun lalu, orderan yang masuk lumayan besar. Bayangkan saja, dia menerima 800 lembaran spanduk berbagai ukuran. Hanya saja dalam momen itu Andre mesti waspada jangan sampai pengorder malah tidak membayar. Agar aman, dia selalu meminta uang panjar 50 persen dari total harga yang dipesan klien. Menurutnya, sistem itu lumrah. Tak hanya dirinya, sebagian besar pengusaha seperti dirinya juga memberlakukan sistem pembayaran demikian.Bahkan tak hanya pilkada atau pileg saja. “Sistem itu juga berlaku untuk hari-hari biasa,” kata dia. Sayangnya Andre belum mau membuka omset yang diperolehnya setiap bulan.

 

Andalkan Relasi

Selain Andre, ada juga Novan yang tertarik menggeluti usaha ini. Namun usahanya belum terlalu besar. Dia bahkan tidak memiliki tempat khusus untuk menjalankan usahanya. Modal yang dimilikinya, hanya laptop yang kerap dibawa setiap pergi. Kemampuan mendesain gambar menjadi andalannya dalam mencari pelanggan.

“Saya lebih promosi via online. Dibantu kawan juga, dari mulut ke mulut untuk mendapatkan pelanggan,” kata dia.

Menurutnya, keuntungan yang diperoleh itu didapat dari potongan harga orderan yang masuk. Dicontohkannya, ada orderan spanduk. Karena ada kedekatan dengan pemilik percetakan, dia pun mendapatkan potongan dari harga permeter. Sementara harga yang dijualnya ke konsumen sesuai dengan harga pasaran. Karena itu jelas dia, keuntungan setiap bulan besarannya relatif. Tergantung dari ramai atau tidaknya pesanan. Jika sedang ramai, maka keuntungan yang diperolehnya lumayan besar. Hanya saja dia belum mau membuka berapa omzetnya sebulan. “Setidaknya lumayanlah, bisa membiayai kehidupan selama satu bulan,” kata dia. *