Rahmad Pastikan Persiwah Bermain Fair Play

Rahmad Pastikan Persiwah Bermain Fair Play

  Kamis, 13 Oktober 2016 09:30
KOORDINASI : Rahmad Satria didampingi pengurus hingga pemain Persiwah saat koordinasi di Rumah Dinas Ketua DPRD Mempawah.

Berita Terkait

Hasil Investigasi Pasca Kalah 7-0

MEMPAWAH- Jajaran pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Mempawah tidak tinggal diam menyikapi informasi yang beredar, hingga pemberitaan kekalahan 7-0 atas Bengkayang pada laga terakhir Liga Nusantara (Linus) 2016 di Sintang. Askab telah melakukan investigasi terhadap manager, pelatih hingga pemain Persiwah.

Ketua Askab PSSI Mempawah, DR. H Rahmad Satria, SH, MH mengungkapkan hasil investigasi pihaknya pasca kekalahan tersebut. Terungkap, tidak maksimalnya taktik permainan tim Persiwah dikarenakan kondisi pemain yang dihantam badai cidera. Termasuk pula ada sejumlah pemain yang mendapatkan sanksi kartu merah maupun akumulasi kartu kuning hingga tidak bisa diturunkan pada laga akhir tersebut.

“Ada 10 pemain inti Persiwah yang tidak bisa bermain ketika menghadapi Bengkayang. Dua pemain terkena sanksi kartu dan delapan pemain mengalami cidera berat dan ringan. Kondisi tim yang sudah tidak stabil inilah yang membuat taktik permainan Persiwah tidak maksimal dilapangan. Jadi tim Persiwah saya pastikan sudah menjunjung tinggi sportivitas dan bermain Fair Play,” ungkap Rahmad Satria didampingi pengurus hingga pemain Persiwah dalam konfrensi pers sekaligus sukuran di Rumah Dinas Ketua DPRD Mempawah, Selasa (11/10) malam.

Delapan pemain inti Persiwah yang mengalami cidera berat dan ringan yakni Kardiman, Hadiman, Andi Prahara, Ikhsan, Rianto, Deni Andani, Roby Handika dan Dedi Wahyudi. Sedangkan dua pemain lainnya mendapatkan sanksi akumulasi kartu yakni Syahril (kartu merah) dan Mawan Darmawan (dua kali kartu kuning).

“Kami tetap menjunjung tinggi pair play. Meski 10 pemain inti kami tidak bisa bermain, namun tetap kami paksakan. Pemain yang cidera dengan rasa sakit tetap bertanding. Hingga permainan tim pun tidak maksimal dan hasilnya, kita kalah 7-0,”  tuturnya.

Karenanya, Rahmad Satria yang juga Ketua DPRD Mempawah ini membantah keras tudingan pihak luar yang menilai Persiwah ‘bermain sabun’ dalam laga melawan Bengkayang. Apalagi pada pertandingan pamungkas itu, Persiwah memiliki peluang besar untuk lolos ke partai final.

“Hasil pertandingan draw saja, Persiwah akan lolos ke final. Jadi, tidak mungkin kami membiarkan gawang kebobolan hingga 7-0. Sekali lagi, kami menolak tudingan ‘bermain sabun’ yang ditujukan kepada Persiwah. Inilah kondisi yang sebenarnya hingga Persiwah menyebabkan mengalami kekalahan,” tegasnya.

Jika skor 7-0 menjadi tolak ukur penilaian pair play dalam sepakbola, Rahmad Satria lantas mencontohkan hasil pertandingan Bengkayang versus Pontianak pada Porsema yang berakhir dengan skor 6-0 untuk kekalahan Bengkayang. Kenapa laga tersebut tidak diberikan sanksi pair play dan tidak dikatakan ‘bermain sabun’.

“Kalah 6-0 atau 7-0 dalam sepakbola itu hal yang biasa. Karena tidak ada hasil yang pasti dalam bermain sepakbola. Tim kuat bisa saja dikalahka tim lemah, begitu pun sebaliknya. Dalam sepakbola juga ada faktor keberuntungan yang akan mempengaruhi hasil akhir pertandingan,” pendapatnya.

“Sekali lagi kami tegaskan, menolak tudingan-tudingan yang mengatakan Persiwah ‘bermain sabun’ dalam laga melawan Bengkayang. Bahkan, kami menantang fakta hukum dari pihak-pihak yang menuding Persiwah tidak bermain pair play melawan Bengkayang,” tutupnya. 

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi PSSI Mempawah, Ismayuda menyampaikan ucapan permintaan maaf kepada seluruh pengurus Askab PSSI dan masyarakat Kabupaten Mempawah atas kegagalan Persiwah berprestasi pada Linus 2016 di Sintang. Dia pun mengaku kecewa dengan hasil tersebut, namun dirinya memastikan seluruh pemain telah berjuang maksimal diatas lapangan.

“Apa dasar orang-orang menuduh Persiwah ‘bermain sabun’. Kalau bicara uang, memangnya berapa Bengkayang mampu membayar. Untuk operasional, konsumsi dan transportasi tim saja mereka sudah kesulitan. Jadi, tudingan ‘bermain sabun’ itu sangat tidak benar. Kekalahan telak ini semata-mata akibat ketidakstabilan tim akibat 10 pemain inti mengalami cidera dan akumulasi kartu,” tegas Yuda.

Dia pun menuturkan, kondisi cidera pemain Persiwah andil dari kepemimpinan wasit ketika menghadapi tuang rumah Sintang. Meski berhasil menang 2-1, namun banyak pemain inti Persiwah yang mendapatkan tekel keras hingga mengalami cidera berat dan ringan. Namun, sayangnya wasit tidak memberikan sanksi kartu kepada pemain Sintang.

“Ketika pemain Persiwah ditekel keras, wasit hanya memberikan teguran kepada pemain Sintang. Harusnya diberikan kartu kuning bahkan merah. Akibatnya, banyak pemain Persiwah yang cidera dan tidak dapat bermain ketika melawang Bengkayang,” sesalnya.

Terkait sanksi, Yudi menyebut Komdis Panpel Linus di Sintang memberikan skorsing selama dua tahun kepada Persiwah. Terhadap sanksi itu, Persiwah pun diberikan waktu 14 hari untuk melakukan upaya banding.

“Kita akan mengenyampingkan keputusan tersebut. Karena, selain tidak tepat sasaran, banyak juga titik lemah yang bisa membantah tudingan-tudingan tidak Fair Play dalam pertandingan tersebut,” harapnya mengakhiri.(wah)

Berita Terkait