Radikalisme

Radikalisme

Minggu, 31 January 2016 14:11   821

ADA tiga pucuk pesan singkat elektronik terkait dengan isu radikalisme dan terorisme yang sedang ramai dibicarakan baik di media massa maupun media sosial belakangan ini. Salah satu pesan itu adalah: “Negara kita dikenal sebagai negara agamis. Yang membuat saya bingung adalah bagaimana mungkin seseorang atau kelompok warga negara yang agamis ini dapat berubah menjadi seorang pembunuh? Tolong bahas di kolom Anda!”

Terima kasih atas kiriman pesan singkat ini. Sudah lama tidak menerima pesan semacam. Walaupun tidak sesuai dengan seri tulisan pada periode ini, kiranya tanpa mengurangi hak pembaca yang lain ada baiknya pesan tersebut direspons.

Dalam Wikipedia dituliskan bahwa istilah ‘radikal’ mempunyai akar kata ‘radix’ dalam bahasa Latin. Arti kata ‘radix’ adalah ‘akar’. Gerakan radikal pertama muncul pada abad ke-16, pada saat ada gesekan antara Kerajaan Inggris Raya dengan koloninya di benua Amerika. Gerakan ini menuntut keterwakilan negara koloni ini di parlemen.

Pada abad ke-18, istilah ‘radikal’ digunakan sebagai  label sebuah gerakan reformasi pada sistem elektoral di Kerajaan Inggris. Secara historis, radikalisme di Inggris mengarah kepada gerakan liberalisme di bidang politik.

Pada abad ke-19, radikalisme merujuk pada gerakan liberal progresif yang berkembang di daratan Eropa. Di banyak negara kaum radikal cenderung merupakan varian dari liberalis. Di beberapa negara gerakan radikal lebih berwajah moderat dan di sejumlah negara yang lain lebih tampak ekstrim.

Tidak hanya di bidang sosial, ekonomi, dan politik kelompok radikal terbentuk. Dalam bidang keagamaan pun tumbuh ‘subur’ kelompok radikal bahkan terkadang berwajah gerakan teroris.

Haryatmoko, 2010, menganalisis radikalisme di bidang agama di bawah judul, “Dominasi agama: dari imajiner sosial ke diskriminasi dan kekerasan”.

Bermula dari permikiran bahwa ada jarak antara cita-cita agama dan realita kehidupan beragama. “Agama sering tampil dalam dua wajah yang bertentangan” tulisnya. Di satu sisi agama merupakan tempat manusia mencari kedamaian dan memahami makna hidup, di sisi yang lain agama digunakan sebagai pembenaran bagi suatu tindak kekerasan.

Wajah konkrit dari agama terpampang pada wajah para pemuka agama, sistem ajaran, norma moral, institusi, ritus serta simbol-simbol keagamaan. Sebagai sistem ajaran, agama memiliki ruang penafsiran. Penafsiran-penafsiran itu memberi landasan ideologis dan pembenaran simbolis kepada pengikutnya. Pembenaran simbolis memberikan peneguhan tekad untuk membela iman yang diyakininya, yaitu ‘Demi Tuhan harus dilakukan suatu tindakan’. Pada titik ini, sering terjadi pencampuradukan antara kepentingan manusia dan kehendak Tuhan.

Dalam setiap agama, ada mekanisme untuk menumbuhkan rasa kepemilikan pengikutnya. Rasa kepemilikan ini menciptakan konsep ‘kelompok’ dan ‘bukan kelompok’. Dengan menggunakan logika biner, muncul anggapan ‘kelompokku yang benar dan bukan kelompokku yang salah’. Anggapan ini menciptakan konflik antar pengikut agama karena masing-masing akan mempertahankan identitasnya.

Penafsiran ajaran agama beserta simbol-simbol kegamaannya semakin meneguhkan motivasi pengikutnya karena penafsiran itu memperjelas tujuan akhir, menumbuhkan keyakinan pencarian makna, dan tentu saja memberi identitas. Dalam menghadapi dunia yang gelisah karena ketidakpastian dan ketidakberdayaan munculah aliran teologi yang menekankan kekerasan Tuhan. Ada tiga ciri khas teologi ini. Pertama, pencarian kebenaran sangat diwarnai dengan kekerasan. Kedua, perlawanan dengan kekerasan dibenarkan oleh Kitab Suci bahkan dianggap sebagai bagian dari keimanan. Ketiga, keberhasilan dimaknai sebagai anugerah dan sebaliknya, kegagalan dimaknai sebagai hukuman Tuhan.

Kelompok radikal menggunakan teologi yang menekaankan kekerasan ini  sebagai ideologinya. Teror menjadi salah satu alat yang utama untuk menunjukkan dan mewujudkan identitasnya. Tindakan menteror yang bukan kelompoknya dipahami sebagai bagian dari proses pencarian pengikut. Bagi anggota, membunuh orang lain yang bukan kelompoknya merupakan tindakan yang benar karena membela Tuhan. Itu, berarti akan menjamin kehidupannya di kemudian hari, bahkan kehidupan di ‘seberang sana’ setelah meninggal. Inilah, mungkin yang dapat menjelaskan mengapa seorang yang agamis dapat berubah menjadi seorang pembunuh sesama.                                                                                                           

 

Apa yang dapat dilakukan?

Omer Tasnipas, Profesor Ketanahan Nasional dari Universitas John Hopkin, AS, 2009, mengingatkan kita semua sembari mencari akar utama tindak terorisme strategi dan metode baru mesti diadopsi untuk menangkal ancaman radikalisme ini. Ia menyarankan, “Fighting radicalism with human development”.

Dalam “Pluralisme Pendidikan Pembelajaran dalam Tradisi Konstruktivisme” dalam Th. Sumartana, dkk., Pluralisme Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia, Yogyakarta: Interfidei dan Pustaka Pelajar, 2001, saya (LS) menyarankan agar pembelajaran dalam tradisi kontruktivisme sedini mungkin diadopsi di persekolahan Indonesia. Pembelajaran dalam tradisi konstruktivisme memungkinkan para siswa mengembangkan paradigma berpikir dan bersikap pluralis dan kritis. Sehingga, mereka tidak akan mudah ‘diindoktrinasi’ sekalipun berhadapan dengan para pemuka dan tokoh agama. Dengan begitu, mereka akan memiliki kemandirian dan keberanian moral. Dua nilai ini merupakan bagian dari kepribadian moral yang kuat. Semoga!

Leo Sutrisno