Rachmat Gobel tentang Daya Saing Global

Rachmat Gobel tentang Daya Saing Global

  Selasa, 9 February 2016 08:50
Rachmat Gobel

Ketegasan pemerintah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) membuat industri elektronik bergairah. Itu menjadi kesempatan emas bagi para produsen untuk bersaing dengan barang tiruan dan impor ilegal.

”Sudah sejak beberapa tahun lalu, kebutuhan elektronik Indonesia 50 persennya dari impor,” terang Rachmat Gobel, chairman Panasonic Gobel Group. Persaingan menjadi tidak fair karena 80 persen dari total impor merupakan barang ilegal. Bahkan, banyak barang elektronik yang masuk ke tanah air yang berkualitas di bawah standar.

Fakta itu membuat produsen elektronik gundah. Impor ilegal dengan kualitas rendah membuat industri kembang kempis. Harga yang terlalu murah tidak bisa begitu saja dikalahkan kualitas. ”Yang masuk KW 4 dan 5. Bagaimana kami bisa melawan mereka? Makanya perlu penerapan SNI,” tuturnya.

Lebih lanjut, Gobel menjelaskan bahwa komoditas yang berhadapan dengan impor ilegal bukan hanya elektronik. Tetapi, bukan itu yang menjadi titik tekan. Gobel melihat pembiaran terhadap proses tersebut membuat industri tidak bisa tumbuh dengan baik. Ujung-ujungnya bisa berdampak pada efisiensi pekerja.

Gobel pun berharap pemerintah bisa tegas menerapkan SNI. Sebab, itu menjadi salah satu kunci agar industri Indonesia bisa tumbuh dengan baik. Apalagi jika pemerintah mampu memberangus praktik impor ilegal. ”Ekonomi Indonesia katanya lesu. Tapi, kondisi itu tidak hanya di sini. Harus jadi momen kebangkitan industri kita,” tegasnya.

Pengusaha kelahiran Jakarta, 3 September 1962, tersebut juga menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Para pengusaha punya peran penting agar para pegawainya menjadi lebih berkualitas. Namun, pekerja juga harus punya kemauan untuk menjadi lebih baik.

”Sukses menghadapi globalisasi ya dari SDM itu. Makanya perlu hubungan yang harmonis (antara pengusaha dan pekerja, Red). Pekerja juga jangan hanya bisa menuntut. Berikan yang terbaik,” tuturnya.

Gobel mencontohkan Panasonic Gobel Group yang dipimpinnya saat ini. Dia menyebutkan, Panasonic tidak hanya ada untuk berbisnis, tetapi juga untuk membangun SDM Indonesia. Itulah penyebab dia berusaha keras agar tidak ada penutupan pabrik yang berakibat pada tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK). Para pekerjanya yang saat ini mencapai 15 ribu orang disebutnya punya peran vital. ”Penting membentuk SDM yang lebih berdaya saing. Sebab, mereka yang memberikan keuntungan bagi perusahaan,” tekannya.

Mantan menteri perdagangan itu optimistis SDM yang kuat membuat investor berbondong-bondong menanamkan uangnya di Indonesia. Malah, perusahaan yang sudah ada jadi enggan beranjak dari tanah air. ”Makanya, serikat pekerja jangan cuma menuntut. Skill angkatan kerjanya juga harus terus diperbaiki,” ujarnya.

Lulusan Chuo University, Tokyo, Jepang, tersebut menilai industri saat ini sarat dengan teknologi. Hal itu membuat perusahaan yang memiliki pekerja dengan kualitas kurang bisa dengan mudah pergi. Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing SDM adalah transfer teknologi.

Namun, Gobel buru-buru menggarisbawahi bahwa proses itu membutuhkan waktu yang tidak instan. Caranya juga banyak. Tidak melulu harus di kelas yang diikuti dengan praktik. ”Misalnya, produk yang dibuat di Jepang atau Korea dibawa ke sini. Dikerjakan di sini,” ucapnya. Dari proses awal itu nanti bisa muncul transfer teknologi yang tidak kalah bagusnya.

Gobel juga menyoroti potensi industri lain yang perlu digenjot keberadaannya. Misalnya sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan. Dia menganggap tiga industri itu mampu menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang sangat besar. Gobel juga menyinggung perhatian dunia terhadap makanan halal yang makin tinggi sebagai peluang. ”Banyak tema besar. Misalnya krisis pangan. Industri elektronik, dibanding pangan, itu kecil,” terangnya.

Selain itu, sebut Gobel, industri yang berbasis budaya punya masa depan cerah kalau digarap dengan serius. Industri itu misalnya terkait dengan batik, songket, sampai produk herbal. Untuk menggairahkan, pemerintah diharapkan bisa lebih bijak terhadap impor barang industri tersebut. (dim/c9/sof)