Puting Beliung Mengamuk, Bayi 13 Bulan Selamat dari Terjangan Angin

Puting Beliung Mengamuk, Bayi 13 Bulan Selamat dari Terjangan Angin

  Kamis, 11 February 2016 09:57

Berita Terkait

PONTIANAK - Tohir (43), warga Jalan Purnama II, Kecamatan Pontianak Selatan, tak henti-henti mengucap syukur. Jessica, bayi umur 13 bulan, yang tak lain adalah anak bungsunya  selamat dari reruntuhan bangunan saat puting beliung menerjang warung kelontong miliknya, Selasa (9/2) sore.

Tohir bercerita, ketika hujan deras disertai angin kencang mendera, Jessica sedang bersama ibunya, Jubaedah. Angin kencang yang datang secara tiba-tiba itu menghantam warung mereka. Akibatnya, warung yang sebagian besar terdiri dari papan kayu beratapkan seng itu rata dengan tanah. Beruntung saat itu, Jessica sedang berada di gendongan ibunya. Padahal biasanya dia diletakkan dalam ayunan. “Istri saya langsung membawa keluar Jessica sehingga tak tertimpa reruntuhan bangunan. Alhamdulillah mereka selamat. Anak saya hanya luka kecil di kepala. Terkena kayu," cerita Tohir.

Selain merobohkan warung kelontong milik Tohir, angin kencang juga memorak-porandakan belasan bangunan milik warga. Di antaranya gudang penyimpanan barang bekas dan bangunan pembuatan batako.

Tampak dari luar, bangunan pembuatan batako tersebut rusak parah.Tidak hanya atap yang berterbangan, pagar beton pun ikut roboh. Bagian terparah lain dialami gudang penyimpanan barang bekas. Usai musibah, puluhan pekerja terlihat sibuk menata seng di atas atap. Mereka bekerja secara bergotong royong.

Selain bangunan, sejumlah tiang listrik serta pohon juga roboh. Akibatnya, kabel penghantar listrik putus sehingga semalaman warga tidak mendapatkan pasokan listrik. "Tadi malam kami gelap-gelapan. Tiang listrik banyak yang tumbang. Beruntung tidak ada korban jiwa," terangnya.

Lurah Parit Tokaya, Winda Hernita, menyatakan, setidaknya ada enam bangunan yang rusak akibat puting beliung. Keenam bangunan itu satu di antaranya Pondok Pesantren Mutashim Billah dengan kerusakan empat kamar di kompleks santriwati, dan lima bangunan rumah milik warga. "Kerusakan rata-rata pada atap. Atap seng berikut kayu beterbangan," kata Winda.

Saat ini, lanjut Winda, pemerintah kota dan instansi lainnya, seperti BPBD, Dinas Sosial sudah menyalurkan bantuan berupa terpal, seng bahkan logistik. Menurutnya, masing-masing rumah yang terkena musibah mendapatkan satu terpal berukuran 6x12 meter.

"Sedangkan untuk pesantren mendapatkan sebanyak enam terpal. Nanti dari BPBD juga akan menyumbang seng gelombang. Sudah dilakukan pendataan berapa kebutuhan masing-masing rumah. Kami juga diminta untuk melakukan pendataan dari kantor ketahanan pangan, untuk bantuan logistik. Tapi alhamdulillah tidak ada korban jiwa," katanya.

Sementara itu, Lurah Kota Baru, Jamilah mengatakan, setidaknya ada 12 bangunan yang rusak akibat terjangan puting beliung di wilayahnya. Di antaranya dua buah gudang, warung dan rumah milik warga.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar, Anton P Wijaya mengatakan, puting beling yang belakangan terjadi merupakan dampak dari perubahan iklim yang membawa perubahan cuaca secara ekstrem.

Menurutnya, perubahan iklim terjadi karena pengelola alam yang tidak arif sehingga memicu munculnya bencana ekologis. "Bicara soal banjir, kebakaran hutan, tanah longsor, puting beliung dan lain-lain, itu adalah bencana ekologis, bukan bencana alam," katanya.

Sementara bencana alam sendiri adalah bencana yang terjadi karena kehendak, putaran dan pergeseran alam (landscape) secara alami, tidak ada campur tangan manusia, seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan lain-lain. "Nah bencana ekologis itu bencana yang terjadi karena kita tidak merawat alam dengan baik. Bencana yang terjadi karena alam kehilangan daya dukung dan data tampungnya," terangnya.

Jika bicara jalan keluar, sambung Anton, emergency response tetap menjadi prioritas untuk jangka pendek dan menengah. Jangka pendek misalnya menyangkut tentang bagaimana penanganan terhadap korban. Jalan keluar dalam jangka panjang menurutnya perlu pula diperhatikan.  Jika tidak, bencana seperti ini akan selalu datang setiap ada perubahan musim. "Pasti masyarakatlah yang selalu menjadi korbannya," tegas dia.

Bicara soal penanganan jangka panjang, kata Anton, kondisi sekarang sudah bisa ditetapkan sebagai situasi yang emergency (darurat). Bentuk penanganannya yaitu dengan melakukan penyelamatan sumber daya alam tersisa, recovery kerentanan kawasan ekologi genting, sembari menumbuhkan dan menghidupkan kembali daya dukung dan daya tampung lingkungan agar mampu menjadi safeguard, membantu menurunkan potensi bencana ekologis bagi masyarakat.

"Singkatnya, review seluruh perizinan konversi lahan di wilayah-wilayah rentan harus segera dilakukan. Bila lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya harus dilakukan pencabutan izin. Demikian juga penegakan hukum harus dilakukan dengan serius," pungkasnya.

 

Beri Bantuan

 

Pemerintah Kota Pontianak memberi bantuan seng berjumlah 300 keping kepada pemilik 15 unit rumah yang dihantam angin puting beliung. Bantuan diserahkan Kepala BPBD Kota Pontianak Aswin Taufik di lokasi kejadian, Jalan Purnama Dua, Kecamatan Pontianak Selatan.

“Setelah kami cek, jumlah rumah yang terkena angin puting beliung berjumlah 15 unit. Belasan rumah itu berada di Jalan Purnama Dua. Hantaman puting beliung ini lebih kuat dibanding dengan puting beliung beberapa waktu lalu,” terangnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk waspada dengan cuaca ekstrem ini. Tanda puting beliung dapat dilihat apabila kondisi panas, awan terang, di bawah gelap kemudian angin bertiup kencang kemungkinan potensi puting beliung dapat terjadi. Meski tidak bisa diprediksi, ia meminta masyarakat menguatkan pondasi rumah masing-masing, seperti seng, dan bangunan yang berbahan kayu, dikarenakan ke dua bahan ini yang jadi santapan ketika angina puting beliung terjadi.

Ketika ditanya berapa besaran kerugian belasan rumah warga ia mengatakan tidak begitu tahu. Namun perkiraan secara materi, tentu satu rumah bisa mengalami rugi hingga jutaan. Pantauan BMKG, Pontianak tidak termasuk kategori banjir. Namun ada beberapa kawasan yang terkena dampak genangan air. 

Ahmad, warga Paritokaya, Jalan Purnama Dua menuturkan, kejadian diperkirakan pukul 16.00. Dalam kejadian itu, rumahnya juga terhantam puting beliung, dengan kerusakan mayoritas di bagian atap. “Saat kejadian saya di dalam rumah. Sempat terdengar bunyi keras, karena hujan disertai angin kencang,” terangnya.

Angin itu ikut menumbangkan beberapa tiang listrik di Jalan Purnama Dua. Ia melihat detik-detik ketika angin kuat menumbangkan tiang listrik di daerahnya. Akibat tumbangnya tiang listrik, listrik di daerahnya padam seketika. Dikabarkan dia, hingga Rabu kemarin aliran listrik juga belum menyala, dikarenakan masih diperbaiki petugas PLN.

 

Bersifat Insidentil

Prakirawan BMKG Supadio, Giri Darmoko mengungkapkan, bencana puting beliung bisa terjadi dimana saja karena sifatnya yang insidentil. Untuk di wilayah Kota Pontianak, menurutnya ada beberapa faktor yang menjadi penyebab.

Pertama karena wilayahnya yang berada di pesisir pantai barat Kalbar, sehingga rentan dipengaruhi cuaca laut. Kedua dikarenakan kota ini tepat berada di garis ekuator yang dipengaruhi oleh dua masa angin yaitu masa angin dari arah utara dan selatan. “Ini bisa membentuk awan yang aktif sehingga menyebabkan terjadinya pembentukan awan cumulonimbus,” jelasnya kepada Pontianak Post, Rabu (10/2).

Angin puting beliung dikatakan bisa terjadi kapan dan dimana saja karena bersifat insidentil. Artinya di mana ada awan-awan yang dapat menyebabkan hujan dalam hal ini awan cumulonimbus baik dengan intensitas sedang hingga tinggi maka berpotensi tejadi angin puting beliung. Karena di dalam awan ini ada istilah arus angin yang berputar serta arus angin naik dan turun. “Di situlah peristiwa cuaca ekstrem terjadi yang sering kali menyebabakan terjadinya angin puting beliung,” jelasnya. (arf/iza/bar)

Berita Terkait