Puskesmas Keliling Rongsokan

Puskesmas Keliling Rongsokan

  Kamis, 31 March 2016 09:01

Berita Terkait

Perahu motor cepat itu penuh lumpur. Sebagian besar badan perahu sudah terendam di sebuah sungai di Jalan Kota Karang, Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat. Sebagian besar bagian perahu telah hancur. Kaca-kaca jendelanya sudah pecah. Begitu pula dengan pintunya. Bahkan isinya kini telah hilang entah ke mana. 

Perahu motor cepat itu semestinya difungsikan sebagai puskesmas keliling. Melayani ribuan warga di Kepulauan Maya dan Karimata yang hidup terpencil dan terisolasi. Namun bukannya bisa dioperasikan, dua perahu itu malah jadi barang rongsokan. 

Awalnya warga menaruh harapan saat mendengar pemerintah akan memberikan bantuan perahu cepat bagi warga pulau. Dengan adanya bantuan itu seyogyanya warga tak akan kesulitan untuk membawa pasien ke rumah sakit. Namun warga merasa kecewa sebab kapal yang kemudian tiba ternyata tak bisa difungsikan. 

“Di sini kalau ada keperluan mendesak, untuk merujuk masyarakat ke Sukadana, atau Ketapang sangat sulit. Yang ada pun speed penumpang. Tapi itukan sulit kita gunakan,” kata Plt Kades Desa Satai Lestari, Kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, Abdul Halim.

Abdul Halim sangat menyayangkan bantuan dari  pemerintah pusat berupa speedboat untuk pelayanan puskesmas keliling kini jadi barang rongsokan. “Pelayanan kesehatan di puskesmasnya sebenarnya cukup baik. Tetapi, untuk merujuk cepat ke rumah sakit besar kami sering kesusahan. Entah harus sampai kapan. Di Pulau Maya ini memang harus ada speed khusus, berupa puskesmas keliling yang selalu siap jika ada pasien yang harus dirujuk,” saran Abdul Halim.
***
Cuaca siang itu cukup cerah ketika Pontianak Post menyambangi Puskesmas Pembantu di Desa Padang, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Bangunannya sederhana. Warnanya tak jauh berbeda dengan fasilitas kesehatan pada umumnya. Seluruh tembok bercat putih bersih.

Namun tempat yang sering disebut warga sebagai puskesdes ini hanya memiliki satu ruang praktek plus ruang perawatan sekaligus ruang rawat inap. Di sinilah sekitar 1500 lebih jumlah penduduk Desa Padang menggantungkan kesehatan mereka. 

Seorang bidan bernama Riza Umami menyambut dengan ramah. Dia merupakan satu di antara lima orang tenaga kesehatan di puskesdes itu. “Ada tiga orang perawat dan dua orang bidan yang tugas di sini. Kebetulan tiga orang lainnya sedang pulang kampung. Satu perawat lagi keluar,” kata wanita asal Pekalongan Jawa Tengah itu. 

Sejak lolos tes CPNS, dia langsung ditugaskan di pulau terpencil ini. Sebelumnya dia sempat bertugas di Desa Pelapis, Pulau Pelapis. Baru awal 2014 pindah ke Desa Padang sebab di sana kekurangan tenaga bidan. “Awalnya saya pikir dapat tugas di sekitaran Sukadana saja. Ternyata saya ditugaskan di pulau-pulau ini,” ucapnya. 

Sambil mendata obat-obatan, Riza bercerita tentang pengalamannya selama bertugas di sana. Menurut Riza, selain kurangnya sarana dan prasarana, sulitnya akses menuju pulau juga jadi penghambat pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Kesulitan yang paling sering dirasakan adalah ketika ada kasus rujukan. 

Dengan fasilitas seadanya membuat tenaga kesehatan harus bekerja ekstra. Apalagi jika menghadapi penyakit-penyakit berat. “Tahu sendiri di sini alatnya belum terlalu lengkap. Paling mentok infus. Alat injeksi juga masih standar. Sementara pasien mesti segera dibawa. Tak sedikit warga di sini yang meninggal karena tak sempat dirujuk ke rumah sakit.” 

Saat ada warga yang sakit parah tak bisa serta merta dirujuk ke rumah sakit. Susahnya transportasi jadi kendala utama. Untuk membawa pasien ke rumah sakit bukan main beratnya. Rumah sakit terdekat ada di Ibu Kota Kabupaten Ketapang. Butuh waktu belasan jam agar bisa sampai ke kota. Dari Ibu Kota KKU Sukadana, waktu tempuh ke pulau di pesisir barat daya Kalbar ini mencapai 8 hingga 12 jam. Tergantung jenis kapal yang digunakan dan akan lebih sulit jika musim gelombang tinggi. 

Ada satu peristiwa yang tak akan terlupakan olehnya. Tatkala dia harus menangani seorang ibu hamil yang terserang malaria. Dia pun mengaku sempat kewalahan dalam bertindak. Dengan pengobatan paling sederhana dia menggunakan obat jenis kina. “Kita pakai pil kina karena itu yang paling aman untuk ibu mengandung,” terangnya. 

Pasien dengan usia kandungan tujuh bulan itu sempat menggigil dan hanya diberi obat oral saja. Kondisi perempuan itu terus memburuk. Perempuan yang sedang mengandung tujuh bulan itu harus segera dibawa ke rumah sakit. Peralatan di puskesdes tak memadai. Berbahaya jika sanga pasien tak segera ditangani. Masalahnya, saat tak ada kapal yang bisa membawa pasien ke rumah sakit. Kondisi ombak laut sedang tinggi. Kalau pakai kapal nelayan, bisa-bisa membahayakan sang pasien. 

Sadar kondisi tak memungkinkan membawa pasien dirujuk ke rumah sakit, Bidan Riza berusaha semampunya melakukan pertolongan. “Saya lakukan saja seperti biasanya. Saya hanya pasrah, semoga pasien bisa tertolong.”  

Bersyukur pasiennya bisa tertolong. Si pasien melahirkan sang bayi dengan selamat. Saat melahirkan kendalanya hanya air ketuban berwarna hijau. “Ini berbahaya jika sampai terhirup oleh bayi, bayi juga sempat tidak menangis beberapa saat, tapi akhirnya semua baik-baik saja, bayi pun selamat,” ceritanya.

Meski merasa bersyukur pasiennya selamat, Riza sangat sulitnya membawa pasien untuk dirujuk ke rumah sakit. “Seandainya ada kapal khusus yang bisa membawa pasien ke rumah sakit tentu akan sangat membantu,” lanjutnya.   

Biasanya, warga di Pulau Maya dan Karimata harus menyewa kapal demi mengantar pasien ke rumah sakit rujukan. “Perawat atau bidan hanya mendampingi. Keluarga yang harus keluar ongkos perjalanan ke Ketapang atau Pontianak,” ungkapnya. 

Salah satu warga, Andi Sopian menyatakan, faktor utama yang membuat wilayah tersebut terisolir memang karena sulitnya transportasi. Jika menggunakan kapal penumpang KM Karimata menuju Sukadana, waktu tempuh bisa mencapai 12 jam. Jadwal berangkat hanya seminggu sekali dan belum pasti, tergantung kondisi cuaca di laut.

Selama ini, kebanyakan masyarakat harus menumpang kapal nelayan untuk sampai ke kota. Paling dekat dari pulau ke Ketapang bisa memakan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam. “Ongkos untuk ke kota sangat mahal, jika harus carter kapal-kapal nelayan, biayanya minimal Rp5 juta,” keluhnya.

Pelaksana Tugas Dinas Kesehatan Kabupaten Kayong Utara Agus Rudi Sunandi membenarkan jika Dinkes Kayong Utara memiliki dua unit perahu motor cepat yang tidak dapat digunakan. Padahal perahu tersebut diperuntukkan menjadi puskesmas keliling untuk wilayah kepulauan. 

“Ya benar. Dua unit milik speedboat milik Dinas Kesehatan tidak dapat digunakan semua. Karena tidak sesuai dengan kondisi perairan di Kayong Utara,” katanya. 

Bantuan tersebut berasal dari Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kementrian RI dari APBN tahun 2012. Menurut Rudi, bantuan itu pun datang dengan tiba-tiba beberapa tahun lalu. Pemerintah pusat tidak terlebih dahulu meninjau ke lokasi (Kayong Utara) untuk melihat kondisi perairan di wilayah itu. Kementerian Kesehatan hanya mencoba di kawasan Perairan Ancol, Jakarta. “Ada bantuan ya kami terima. Bagimana mau ditolak,” ujarnya. 

Dirinya pun, turut menyangkan bantuan tersebut dapat digunakan. Sudah beberapa kali pihaknya mengujicobanya. Namun tetap saja gagal. Perahu itu memang tidak layak untuk perairan laut. “Spesifikasi speedboat ini untuk danau, tidak cocok untuk wilayah laut. Kalau kami pakai bisa membahayakan penggunanya,” tambahnya. 

Untuk mengganti speed tersebut, Pemkab Kayong utara saat ini sudah membeli perahu motor cepat lain. Perahu ini digunakan untuk puskesmas keliling di daerah kepulauan. 

Sebelumnya, layanan kesehatan puskesmas keliling bagi pulau terpencil menggunakan puskesmas apung. Namun kapalnya tidak dapat digunakan lagi karena kondisinya sudah tua.

Warga Kayong Utara, Abdul Rani menilai, jumlah puskesmas keliling untuk melayani daerah terpencil harus diperbanyak lagi. “Satu speed tentu tidak cukup. Kayong Utara ini kan banyak pulau. Belum lagi terhambat dengan sulitnya komunikasi. Karena itu harus ditambah lagi,” kata Mantan Camat Teluk Batang itu. (bar)

Berita Terkait