Pupus Comeback Manis

Pupus Comeback Manis

  Jumat, 25 March 2016 11:18

Berita Terkait

Brasil vs Uruguay

RECIFE – Tidak ada sahabat sepenting Neymar da Silva Santos Jr. Karena Neymar, Luis Suarez melejit sebagai pencetak gol terbanyak di Barcelona. Ketimbang Lionel Messi, 21 persen bantuan assist dari keseluruhan 43 gol El Pistolero – julukan Suarez – pada musim ini datang dari Neymar.

Akan tetapi, di Itaipava Arena Pernambucano, Recife, besok pagi arti sahabat itu tidak akan ada lagi. Sudikah Neymar menggelarkan karpet merah di Arena Pernambuco untuk menandai laga comeback-nya dalam pentas internasional di kualifikasi Piala Dunia 2018 zona CONMEBOL?

Matchday kelima kualifikasi Piala Dunia 2018 zona CONMEBOL jadi penanda tuntasnya sanksi sembilan laga internasional kepada Suarez. Hukuman tersebut diberikan FIFA pasca insiden gigitan Suarez di bahu bek Italia Giorgio Chiellini, di Piala Dunia 2014 silam.

Neymar tahu kali ini dia berbeda bendera dengan Suarez. Bukan lagi Barca. Tapi membela Selecao – julukan timnas Brasil. Sedangkan Suarez di kubu seberang. Makanya, demi mengkudeta Uruguay dari posisi kedua klasemen sementara kualifikasi Piala Dunia 2018 zona CONMEBOL, Neymar harus memupus comeback manis Suarez.

Sebagai penjaga gawang yang pernah menghadapi Suarez bersama Valencia di La Liga, Diego Alves menyebut sudah saatnya defense Brasil menyalakan alarmnya. ’’Tentu kami harus berhati-hati dengannya (Suarez, Red). Sedikit saja lepas, maka siap-siap saja ada momen spektakuler darinya,’’ ujar Alves, sebagaimana dikutip dari Goal.

Menurutnya, defense Brasil harus dalam konsentrasi yang tinggi. Di antara negara penghuni top four klasemen sementara kualifikasi Piala Dunia 2018 zona CONMEBOL, defense Brasil yang paling banyak kebobolan, empat gol. Artinya, per pertandingannya Brasil bisa kebobolan satu gol.

Apalagi, dari rekam jejak golnya bagi La Celeste – julukan timnas Uruguay – tiga tahun terakhir, 35 persen gol Suarez tercipta pada rentang waktu antara menit ke-76 dan 90. ’’Dan pertahanan Brasil harus ada dalam kualitas terbaiknya untuk membendung Suarez,’’ lanjutnya.

Bukan hanya Alves yang waswas. Bek tengah Brasil, Gil, pun dilanda kecemasan untuk membendung Suarez. Dalam wawancaranya dengan sebuah media Brasil bernama Granja Comary di Teresopolis, pemain bernama asli Carlos Gilberto Nascimento Silva itu mengakui defense Brasil bakal kesulitan menutup pergerakan Suarez.

’’Akan jadi seperti skema bunuh diri apabila kami terlalu membatasi marking ke hanya satu pemain. Padahal seharusnya yang mesti kami hentikan adalah keseluruhan tim ini. Yang terpenting harus kami siapkan adalah apapun itu cara terbaik untuk menjaga pertahanan,’’ tutur pemain berusia 28 tahun tersebut.

Tidak adanya David Luiz bisa jadi handicap bagi defense Brasil. Sekalipun ketika dimainkan tidak pernah memberikan efek kemenangan bagi armada Dunga, Luiz punya pengalaman mengisolasi ruang gerak Suarez. Di timnas, Suarez pernah dibuat frustasi di saat Brasil mengalahkan Uruguay 2-1 pada Piala Konfederasi 2013 silam.

Tanpa Luiz, Dunga kemungkinan besar mempercayakan dua spot di jantung lini pertahanannya kepada Gil dan Joao Miranda. Kolaborasi bek ini memang tidak memiliki pengalaman menghadapi Suarez, setidaknya dengan duet ini Brasil pernah mencatatkan satu-satunya cleansheet di kualifikasi Piala Dunia 2018 ini melawan Peru (18/11).

’’Yang kami butuhkan sekarang adalah bermain lebih konfiden. Kami sudah tahu laga ini nanti akan berjalan dengan level yang sangat sulit. Dari sesi latihan kami sudah paham apa yang harus kami lakukan, sehingga target bermain dengan performa terbaik bisa kami lakukan,’’ lanjut bek yang bermain di klub Tiongkok, Shandong Luneng itu.

Faktor non teknis akan menolong upaya Neymar membuyarkan pesta comeback-nya Suarez. Sepanjang kualifikasi Piala Dunia, tidak pernah sekalipun Brasil terpeleset di kandang sendiri. Bandingkan dengan buruknya performa anak buah Oscar Washington Tabarez begitu melakukan laga tandang.

Dari sepuluh laga tandang terakhirnya di kualifikasi Piala Dunia, hanya tiga kali Suarez dkk memetik kemenangan. Persentase 30 persen kemenangan tandang bukanlah statistik yang patut dibanggakan. ’’Tapi kami tidak perlu bertahan menghadapi Brasil,’’ koar Tabarez, kepada Ovacion.

Dalam analisisnya, Tabarez menyebut peran Neymar tidak akan meledak seperti di Barca. Selain posisinya yang berbeda – di Barca bermain sebagai winger kiri, lalu di Brasil sebagai striker, di Brasil tidak ada Suarez dan Messi yang mendampinginya. Di Brasil hanya ada Willian, Douglas Costa dan Philippe Coutinho yang menyokongnya.

Bermain tanpa bek tengah andalan sekaligus kaptennya Diego Godin yang terkena akumulasi kartu, Tabarez tidak merencanakan man to man marking pada Neymar. ’’Kami sudah mengadaptasi berbagai situasi. Hanya, yang kami siapkan bukan Brasil yang 100 persen tergantung kepada Neymar,’’ ungkapnya.

Pandangannya kepada Neymar itu sama seperti kepada Suarez. Tabarez tidak perlu memasang target sebagai pembeda hanya kepada mantan bomber Liverpool dan Ajax Amsterdam itu. Statistik selama kualifikasi Piala Dunia 2018 membuktikan bahwa 60 persen pembeda Uruguay adalah bek. (ren)

Berita Terkait