Puluhan Tahun Menjadi MC Istana Kepresidenan

Puluhan Tahun Menjadi MC Istana Kepresidenan

  Selasa, 9 Agustus 2016 09:30
Oetari Noor Permadi

Berita Terkait

Istana Kepresidenan Republik Indonesia bukan tempat yang asing bagi Oetari Noor Permadi. Puluhan tahun ia menjadi Master of Ceremony (MC) di sana. Ia membawakan acara kenegaraan sejak zaman Presiden Soeharto hingga Joko Widodo saat ini. 

Oleh: Marsita Riandini

Oetari begitu cantik ketika ditemui Tim For Her. Ia mengenakan busana hijau. Suaranya lembut, khas seorang presenter. 

Oetari pun dengan ramah berbagi cerita mengenai pengalamannya sebagai MC di Istana Kepresidenan. 

“Dulu zamannya Pak Soeharto, hampir setiap hari (menjadi MC). Lalu muncul teman-teman yang lain. Meskipun demikian, saya masih dipercaya sebagai MC di Istana Kepresidenanan hingga saat ini,” ungkapnya seusai mengisi acara Workshop Energi Baru dan Terbarukan yang diselenggarakan P3E Kalimantan dan Kementerian Lingkungan Hidup di Hotel Kapuas Palace, Selasa (2/8).

Menjadi MC di Istana Kepresidenan memiliki tantangan tersendiri. Oetari harus mengikuti aturan yang telah ditentukan. Apalagi acara di sana melibatkan banyak negara. Ia juga harus memahami situasi acara yang berlangsung.

“Sebagai MC kami juga harus memahami situasi. Terakhir saya membawa acara jamuan makan dengan Pak Jokowi. Beliau ini kan ingin cepat, sehingga tidak boleh panjang-panjang bicaranya,” tutur Oetari.

Pada 1990-an, wajah Oetari tak asing di mata pencinta Televisi Republik Indonesia (TVRI). Ia pernah menjadi pembaca berita dan reporter di sana. Ia tertarik bergabung dengan TVRI karena bisa memberikan informasi bagi banyak orang. Apalagi ketika itu masyarakat memerlukan pemberitaan yang bisa diandalkan. Salah satunya melalui TVRI.

Untuk bergabung di TVRI, Oetari mengikuti seleksi yang ketat. Saat itu ada lima ribu orang yang mendaftar. Beruntung ia lolos seleksi. 

“Saya mulai menjadi reporter itu sejak tahun 1987 hingga tahun 2006. Awalnya dari TVRI Jogja, lalu berlanjut ke TVRI Jakarta,” ujar Oetari yang juga pernah sebagai penyiar radio ini.

Ketika itu tak mudah menjadi reporter. Penyampaian berita diatur dengan ketat. Bahkan, hingga lima kali pengecekan. Gaya bicara juga tak boleh dibuat-buat. Pakaian dan make up harus mengikuti aturan, sehingga bisa meyakinkan masyarakat terhadap berita yang disampaikan. 

“Jika membandingkan gaya dan penampilan reporter ataupun pembawa berita zaman dulu dengan sekarang, tentu berbeda. Selain belum banyak stasiun TV yang bermunculan, zaman dulu terikat dengan aturan yang ketat,” tutur Oetari.

Oetari berpendapat saat ini cara penyampaian berita mengarah ke dalam bentuk entertainment. Ini dikarenakan zaman sudah berbeda dan media televisi harus menyesuaikan perkembangan zaman. 

Banyak pengalaman menarik dan unik yang dialami Oetari. Ia meliput jamuan kenegaraan, mewawancarai Sultan Yogyakarta, dan kegiatan KTT (Konferensi Tingkat Tinggi). 

Bagi Oetari, semua tugas yang diberikan  adalah penting, baik besar maupun kecil. Ketika akan melaksanakan tugas, banyak persiapan yang dilakukannya. Ia harus persoalan dari berita yang disampaikan. Contohnya ketika akan berbicara tentang politik luar negeri, ia pun bertanya pada ahlinya agar mendapat masukan dan wawasan. 

Sebagai perempuan yang bekerja di lingkungan media, Oetari juga menghadapi tantangan lainnya. Ia pernah diremehkan oleh rekan sendiri, yakni kameraman. 

“Dia mengatakan kalau reporter itu hanya bermodalkan suara dan pensil. Saya diamkan. Saya buktikan bahwa hasil liputan kami bagus itu karena saya berhasil menyusun kata-kata dan memahami perspektif persoalan dengan baik. Akhirnya dia salut karena saya tidak patah hati dengan kata-katanya,” kata Oetari, yang memilih mundur setelah 19 tahun berkiprah di media yang telah membesarkan namanya itu. **

Berita Terkait