Puluhan Miliar Rupiah Mubazir

Puluhan Miliar Rupiah Mubazir

  Selasa, 10 November 2015 08:25

Kemegahan Terminal Internasional di Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ternyata belum dimanfaatkan secara maksimal. Banyak fasilitas terkesan mubazir, tanpa fungsi dan tak terawat.IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

 Suasana di Terminal Antar Lintas Batas Negara (ALBN) Sungai Ambawang masih lengang, Senin pagi kemarin (9/11). Sekitar pukul 06.00 belum banyak aktivitas berlangsung di areal seluas sekitar tiga hektare tersebut. Di depan gerbang sudah ada dua orang petugas retribusi parkir yang menagih kendaraan masuk.Kawasan lobby juga masih sepi, hanya ada seorang petugas informasi dan beberapa penumpang yang baru datang. Sejak mulai dioperasikan tahun 2013 lalu, terminal megah ini hanya menampung angkutan antarnegara. Sesuai jadwal, keberangkatan pertama pada jam 07.00. Bus-bus mulai muncul sekitar 06.30, siap mengangkut penumpang tujuan Sarawak, Kucing dan Brunei Darussalam.

Salah satu penumpnag, Yanto (36 tahun) sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan. Dia adalah TKI asal Surabaya yang sejak lulus SMA bekerja di Brunei. “Saya baru pertama kali naik bus ke Brunei lewat sini,” ucapnya. Sering ke Brunai naik pesawat, kali ini dia mencoba jalur darat, itu pun karena sekalian mampir mengunjungi teman di Pontianak.Dari sana dia mengaku dikenakan biaya sebesar Rp700 ribu untuk sampai ke Brunai. Tiket langsung dibeli di tempat sebab penumpang memang tak ramai. Menurutnya jika dihitung-hitung ongkos tersebut tak jauh berbeda jika dibanding menggunakan pesawat dari Surabaya. “Ongkos pesawat Rp3 jutaan. Saya pikir sama saja kalau naik darat. Saya dengar juga ongkos taksi dari kota ke sini cukup mahal. Untung saya ada yang mengantar,” katanya.

Memang angkutan lanjutan menjadi salah satu kendala. Sampai sekarang belum ada angkutan khusus untuk mengantar penumpang dari wilayah kota ke terminal, juga sebaliknya. Di sana taksi gelap justru lebih banyak dibanding taksi resmi. “Banyak penumpang ngeluh, taksi gelap minta bayaran tinggi. Misalnya ongkos ke Bandara berapa? Dia bilang 50, orang pikir Rp50 ribu ternyata dia minta 50 ringgit,” tutur salah salah satu sopir Damri.

Selain itu Yanto juga merasa prihatin melihat kondisi terminal yang sepi. Dia menilai hal tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga tujuannya. “Di sini yang jual air minum saja tidak ada. Sayang kawasan luas dengan bangunan besar tidak dimanfaatkan,” katanya lagi.Secara umum aktifitas di terminal memang tak ramai. Jadwal keberangkatan dalam satu hari hanya dua kali saja, yaitu di jam 07.00 dan 21.00. Untuk yang datang dari jam 12.00 sampai jam 20.00. Bus-bus antar negara di sana, selain dikelola oleh Damri sebagian juga milik swasta. Sementara untuk bus antarkota dalam provinsi (AKDP) hanya wajib lapor, tidak menurunkan dan menaikan penumpang di sana. “Bus yang berangkat pagi lima sampai enam buah saja, malam agak ramai sekitar belasan bus,” terang petugas informasi.

Diketahui terminal ini dikerjakan sejak tahun 2002 secara multiyears dengan dana sharing antara APBN dan APBD Kalbar. Diperkirakan biaya pembangunan mencapai ratusan miliar rupiah. Terminal tersebut memiliki aula (hall) tiga lantai, beserta ruang kedatangan dan keberangkatannya. Terdapat pula gedung untuk bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan AKDP beserta ruang kedatangan dan keberangkatannya.Terminal itu juga memiliki ruang untuk antar jemput, kedatangan dan keberangkatan bagi penumpang. Dilengkapi mushola, poliklinik, lokakarya, toilet, menara air, kolam ikan, dan loker. Terdapat pula ruang untuk mesin generator set, gudang, ruang imigrasi, pos retribusi, traffic control dan area parkir yang luas.

Dari pantauan Pontianak Post, penggunaan fasilitas yang sangat lengkap ini memang belum maksimal. Sebagian TV LCD, pendingin ruangan dan jam dinding tak berfungsi. Dari 17 blok kantin di bagian belakang hanya empat yang berisi, itupun tak telihat ada yang berjualan. Ruang menyusui dan poliklinik belum difungsikan. Loker penjualan tiket tak semua terisi. Banyak ruangan lain juga masih kosong.Bahkan dari puluhan troli yang tersedia sebagian terlihat sudah rusak. Beberapa sudut ruangan juga kotor, hingga menimbulkan bau tak sedap. “Dulu sempat ada jaringan wifi id tapi sekarang sudah mati,” celetuk petugas informasi.