Pulangkan Wakil Kepala Daerah Gafatar , 1.281 eks Gafatar Tinggalkan Ketapang

Pulangkan Wakil Kepala Daerah Gafatar , 1.281 eks Gafatar Tinggalkan Ketapang

  Kamis, 28 January 2016 10:01
DIPULANGKAN: Kapolres Ketapang AKBP Hady Poerwanto saat memberikan pengarahan dalam pengamanan pemulangan eks anggota Gafatar dari Kabupaten Ketapang, Selasa (26/1) lalu. FOTO AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Ketapang AKBP Hady Poerwanto mengatakan jika mereka telah berhasil memulangkan salah satu eks Gafatar. Menariknya, dia menambahkan jika yang bersangkutan diduga sebagai petinggi organisasi terlarang tersebut.

Dari data yang didapat Kapolres, orang yang dipulangkan tersebut merupakan wakil kepala daerah (wakada). "Tapi tidak tahu wakil kepala daerah mana?" katanya.Orang tersebut, diungkapkan Kapolres, adalah Faza Ananda yang umurnya diperkirakan masih berusia sekitar 30 tahun. Namun, Kapolres menambahkan jika yang bersangkutan diketahui telah bergabung bersama Gafatar sejak tujuh tahun lalu. "Kita ketahui setelah kita telusuri kediamannya di Jalan Matan, Kelurahan Mulia Baru, Kecamatan Delta Pawan. Setelah kita cek komputernya, ada dokumen yang menunjukkan kalau dia merupakan wakil kepala daerah," ujarnya.

Pelacakan Faza ini setelah kepolisian mendapatkan informasi orang hilang dan diperkirakan berada di Ketapang. Pihaknya pun langsung melakukan pencarian. "Kita sudah pulangkan orangnya. Sementara terkait buku-buku atau pedoman Gafatar, saya masih belum menemukan," pungkasnya.Sementara itu, pascadipulangkannya 1.281 eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Selasa (26/1) pagi, Polres masih melakukan penyisiran ke sejumlah tempat yang terindikasi keberadaan eks Gafatar. Namun, hingga saat ini, mereka masih belum menemukan keberadaan para pendatang yang masih berada di Ketapang tersebut.

Kapolres menjelaskan jika daerah yang disisir mereka meliputi empat kecamatan, yaitu Kecamatan Delta Pawan, Benua Kayong, Muara Pawan, dan Kecamatan Matan Hilir Selatan. "Kita hanya memastikan, apakah masih ada eks Gafatar di Ketapang?" kata Kapolres kepada wartawan, kemarin (27/1).Ia menjelaskan, penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi anggota eks Gafatar yang berada di wilayah Ketapang. Harapan dia, hal-hal yang tidak diinginkan jangan sampai terjadi. "Kemarin kita lakukan penyisiran ulang di empat kecamatan, namun memang tidak ditemukan lagi eks Gafatar. Hanya saja ada aset-aset mereka yang masih tertinggal dan dititipkan ke pihak desa atau warga sekitar," jelasnya.

Kapolres juga menjelaskan, pada saat pemulangan menggunakan kapal Dharma Ferry 2 kemarin, terjadi selisih angka. Namun, dia menambahkan, setelah dicocokkan, jumlah eks Gafatar yang dipulangkan mencapai 1.281 orang. "Datanya sudah fixed (sebanyak) 1.281 orang. (Sebanyak) 1.274 dipulangkan menggunakan kapal Dharma Ferry 2 dan tujuh orang pulang menggunakan pesawat Kalstar tujuan semarang, jadi totalnya fixed (sebanyak) 1.281 orang," ungkapnya.

Ia juga mengklarifikasi terkait tujuh orang yang diduga menghilang. Jumlah tersebut, menurut dia, hanya kesalahan penghitungan saja pada saat mereka masuk ke dalam kapal. Pasalnya, dia menambahkan, kondisi pada saat itu begitu ramai. "Tidak ada yang menghilang. Bahkan, yang tidak berada di dalam kamp dan tidak masuk hitungan juga ikut datang ke penampungan dan ikut pulang," papa Kapolres.

Lebih lanjut Kapolres mengungkapkan jika jumlah eks Gafatar yang terdata sebelum dipulangkan, melonjak drastis pada saat pendataan ulang di penampungan. Jika sebelumnya hanya terdata sekitar 9 ratusan, namun saat pendataan ulang di penampungan, diakui dia mencapai 1.281 orang. Melonjaknya jumlah eks Gafatar tersebut, diprediksi dia lantaran banyaknya eks Gafatar yang berada di luar kamp atau tinggal di rumah kontrakan, yang berada di Kecamatan Delta Pawan. "Sebelumnya data yang masuk kepada kami, di Delta Pawan itu hanya 13 kepala keluarga dengan jumlah 30 jiwa. Namun saat di pelabuhan, jumlahnya lebih dari 400 orang," paparnya.

Menurutnya, ada beberapa alasan yang membuat eks Gafatar di luar data, memutuskan ikut pulang menggunakan kapal. Salah satunya, diakui dia, karena kekhawatiran mereka terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, jika mereka tetap bertahan di Ketapang. "Bisa saja mereka berfikiran seperti itu, makanya mereka ikut pulang," ujarnya.

Sementara untuk mengantisipasi kembalinya eks Gafatar ke Ketapang, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Pihaknya hanya berupaya memeriksa kelengkapan dokumen kependudukan terhadap orang luar yang datang ke Ketapang. "Untuk di pelabuhan, paling kita hanya memeriksa KTP orang yang masuk ke Ketapang. Untuk melarang orang datang ke Ketapang, (kami) tidak bisa," tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga mengharapan kepada seluruh perangkat desa hingga tingkat RT, untuk proaktif mendata setiap orang luar yang masuk ke wilayah mereka masing-masing. Karena, menurut Kapolres, orang yang pertama mengetahui kedatangan orang luar di wilayah mereka adalah pengurus RT. "Orang luar yang datang itu harus wajib lapor ke RT setempat," ucapnya. "Masyarakat juga kami minta agar ikut mengawasi lingkungan sekitarnya. Jika ada orang tak dikenal atau mencurigakan, silakan lapor kepada pihak RT atau kelurahan setempat. Jika semua pihak terlibat, hal-hal yang tidak diinginkan bisa dicegah sejak dini," imbau Kapolres. (afi)

 

Berita Terkait