Pukulan di Dada Tewaskan Siyono

Pukulan di Dada Tewaskan Siyono

  Selasa, 12 April 2016 09:39
AUTOPSI: Hafi d Abbas, Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqodas, bersama Komisioner Komnas HAM Siane Indriani saat konpers terkait autopsi jasad Siyono, Jakarta, Senin (11/4). Tim forensik Muhammadiyah bersama dokter forensik Polda Jawa Tengah menemukan sejumlah luka akibat benda tumpul di tubuh Siyono. RICARDO/JPNN.COM

Berita Terkait

Polri Harus Evaluasi Densus Antiteror

JAKARTA – Otopsi oleh tim dokter forensik Muhammadiyah terhadap jenazah Siyono menghasilkan fakta baru. Pria yang dituduh teroris itu bisa dinyatakan meninggal setelah dieksekusi anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

Dokter Gatot Suharto, ketua tim forensik, menjelaskan, dari hasil otopsi terungkap bahwa luka di tubuh Siyono terjadi saat korban masih hidup. ’’Ada temuan-temuan luka bersifat intravital atau terjadi sewaktu hidup akibat kekerasan di tubuhnya,’’ jelasnya di kantor Komnas HAM, Jakarta, kemarin (11/4).

Namun, dia tidak bisa menjelaskan lebih terperinci hasil otopsi karena terbentur kode etik. Dia hanya menegaskan, meski sudah dikubur selama 21 hari, jenazah masih bisa diotopsi. Sebab, kondisi tanah yang basah membuat pembusukan melambat.

Penjelasan lebih detail diungkapkan Komisioner Komnas HAM Siane Indriani. Menurut dia, dari hasil otopsi diketahui bahwa Siyono mengalami luka parah di bagian dada. Tulang dadanya patah. Selain itu, ada lima tulang iga yang patah ke dalam dan satu lagi patah ke luar. ’’Ada yang mengenai ke arah jantung. Itu yang mengakibatkan kematian,’’ ungkapnya. Dari otopsi itu juga, dokter menyimpulkan bahwa Siyono dipukul dengan benda tumpul dalam posisi bersandar. Sebab, ada lebam bagian belakang di tubuh karena tekanan.

Fakta tersebut sekaligus membantah pernyataan kepolisian bahwa Siyono meninggal karena mengalami pendarahan di kepala. Meski terdapat luka, tim dokter tidak menemukan luka fatal yang bisa berujung pada kematian.

Selain itu, fakta adanya perlawanan dari Siyono tidak terbukti dalam otopsi. Hal tersebut terlihat dari tidak adanya bukti perlawanan seperti luka di lengan. ’’Tidak benar juga sudah dilakukan otopsi seperti yang disampaikan polisi. Tim dokter memastikan ini otopsi yang pertama,’’ tegasnya.

Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas yang menginisiatori otopsi memastikan objektivitas otopsi yang dilakukan 4 April 2016 tersebut. Sebab, selain sembilan dokter yang terverifikasi, otopsi melibatkan satu dokter dari Polda Jateng.

Busyro menegaskan, hasil otopsi bukanlah yang terakhir. Namun, saat ini pihaknya masih merumuskan langkah yang akan diambil dengan adanya fakta tersebut. ’’Kami ingin ini kasus yang paling terakhir terjadi,’’ ujar mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.

Sementara itu, Koordinator Kontras Haris Azhar meminta Kapolri memproses hukum anggotanya yang terbukti menganiaya Siyono. Apalagi ada peraturan Kapolri tentang hal tersebut. ’’Bukan etik atau indisiplinernya dulu, tapi penegakan hukum dulu,’’ katanya.

Selain itu, Polri dituntut mengevaluasi metode pemberantasan terorisme yang tidak profesional dan bermartabat. Sebab, dengan cara itu, pemberantasan terorisme tidak akan tuntas. ’’Kenapa terorisme terus ada? Karena penegakan hukum amburadul,’’ tegasnya.

Dia juga mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh. Tidak hanya di kepolisian, melainkan juga semua lembaga yang memiliki domain pemberantasan terorisme.

Bersama Muhammadiyah dan LSM lainnya, Haris berencana mengagendakan rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi III DPR. ’’Ini momentum untuk memperbaiki kinerja tim pemberantasan terorisme. Kami akan RDPU agar DPR serius melakukan pengawasan,’’ ujarnya.

Sebelumnya, kepolisian menegaskan bahwa Siyono meninggal karena berupaya melarikan diri. Polri mengklaim bahwa sempat ada perlawanan fisik oleh ayah lima anak tersebut. Terakhir, kepolisian memastikan tengah memeriksa anggota Densus 88. (far/c5/agm)

Berita Terkait