Pukul Istri, WH Dibui

Pukul Istri, WH Dibui

  Selasa, 29 March 2016 09:43
PELAKU KDRT: WH (43), saat diperiksa di ruang Reskrim Polsek Sukadana, sebelum kasusnya dilimpahkan ke Polres Ketapang. Perantau asal Cilacap tersebut dilaporkan setelah melakukan tindak KDRT terhadap istrinya. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SUKADANA – Warga perantuan dari Cilacap, WH (43), terpaksa mendekam sementara di sel Mapolsek Sukadana, setelah dilaporkan akibat melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya, Rabu (23/3) pagi lalu. Kejadian tersebut berlangsung di rumah tempat dia mengontrak di Jalan Nirmala Laut, Sukadana. Kasus tersebut saat ini sedang ditangani Polsek Sukadana, untuk selanjutnya dilimpahkan ke Polres Ketapang, Senin (28/3) pagi.

Dari informasi yang dihimpun koran ini diketahui jika kejadian ini bermula dari cekcok adu mulut antara WH dengan istrinya, AT (33), terkait permasalahan ekonomi keluarga. WH menuduh istrinya mengambil uang miliknya. Tuduhan tersebut berujung kepada pemukulan terhadap AT, yang menyebabkan mata dan kaki bagian kanan perempuan tersebut lebam, setelah dipukul dan diinjak WH.

Diketahui jika WH dan AT merupakan sama-sama warga peratauan. Mereka bekerja pada salah satu proyek pembangunan di Kota Sukadana. Keduanya baru empat bulan bekerja di kabupaten ini.

Kepala Polsek (Kapolsek) Sukadana, AKP Hoerrudin, membenarkan informasi mengenai penahanan pelaku KDRT tersebut. “Iya, memang benar. Ada terjadi kekerasan dalam keluarga, yang membuat bagian mata dan kaki kanannya lebam. Membuat korban (AT, Red) melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisan. Dan saat ini telah dilimpahkan ke Polres Ketapang,” terang Kapolsek, Senin (28/3) di ruang kerjanya.

Dijelaskan dia, untuk di wilayah hukumnya, tindak kejahatan serupa tersebut telah terungkap kali keempat. Namun, untuk tiga kasus sebelumnya, menurut dia, dapat diselesaikan secara kekelurgaan, di mana korban mencabut laporannya. Namun untuk kasus kali keempat ini, dipastikan Kapolsek jika korban meminta agar kasus ini dapat dilanjutkan. “Sudah empat kali di Sukadana terjadi KDRT. Namun untuk yang tiga, laporannya dicabut, dan dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Dan jika untuk yang satu ini, istrinya meminta agar dapat ditangani terus oleh pihak kepolisian,” sambung Hoerrudin.

Kapolsek menyayangkan masih terjadinya tindak kejahatan KDRT di wilayah hukumnya. Bahkan, dia menambahkan, belum lalama ini pernah terjadi KDRT hingga menyebabkan tangan korban patah. Dia menilai perilaku seperti ini sudah sangat keterlaluan.

“Kalau memang ada masalah, sebaiknya dapat diselesaikan dengan baik, secara kekeluargaan. Dan jangan sampai berbuat kekerasan seperti itu, hingga berujung berurusan kepada pihak kepolisan. Selain itu, dapat meningkatkan keimanan kita, sesuai dengan keyakinan masing-masing,” tutupnya. (dan)

Berita Terkait