Puji Kondisi Sekolah, Setujui Kebijakan Sekolah

Puji Kondisi Sekolah, Setujui Kebijakan Sekolah

  Rabu, 28 Oktober 2015 13:28
SAPA SISWA: Penjabat Bupati Ketapang Kartius meninjau langsung proses belajar mengajar di SMPN 5 Ketapang, Senin (27/10) lalu. Dalam kesempatan tersebut, Kartius menyempatkan waktu berbincang-bincang dengan siswa. ISTIMEWA

KETAPANG – Penjabat (Pj) Bupati Ketapang Kartius melakukan peninjauan ke SMPN 5 Ketapang, Senin (27/10). Peninjauan tersebut dilakukan kepala daerah terkait pemberitaan mengenai pungutan Rp400 ribu kepada para orang tua murid, guna pembangunan WC dan fasilitas lain di sekolahan tersebut. Kedatangan Pj Bupati didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) M Mansyur, Kepala Dinas Pendidikan H Jahilin, Komite SMPN 5 Uti  Aliansyah tersebut, langsung disambut Kepala SMPN 5 Rosita serta para guru. Dalam kesempatan tersebut Kartius mengecek kondisi dan proses belajar mengajar di sekolah yang berlokasi di Jalan Karya Tani, Kelurahan Mulia Baru, Kecamatan Delta Pawan tersebut.

Kepala SMPN 5 Ketapang, Rosita, dalam keterangan persnya menyatakan jika berita itu benar. Akan tetapi pihaknya telah mengacu kepada sistem pendidikan nasional, di mana penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tangung jawab masyarakat. Dipaparkan Rosita jika program penambahan WC tersebut dilakukan karenakan selama ini, dengan hanya mengandalkan satu WC untuk 55  siswa, sangat kurang sehat. Inilah yang menjadikan alasan, selaku kepala sekolah, dia mengajukan kepada program kepada pengurus Komite. Kemudian, diceritakan Rosita, Komite mengadakan rapat dengan orang tua siswa, di mana hasil kesepakatan tersebut menyetujui sumbangan sebesar Rp400 ribu tersebut. Angka tersebut, dipastikan dia, telah menjadi kesepakatan para orang tua siswa dan Komite, untuk pembangunan empat ruang WC, dua kamar ganti, dan perbaikan rolling door sebanyak dua pintu. "Untuk kamar ganti sangat diperlukan, karena selama ini anak-anak menganti pakai olahraga di dalam kelas," terangnya.

Meskipun begitu, Rosita juga memastikan jika pungutan sebesar itu tidak dibebankan kepada semua anak. Bahkan terhadap mereka yang yatim piatu, dibebaskan dari dana tersebut. Sementara untuk orang tua yang  tidak mampu, menurut dia, tidak harus bayar sebesar Rp400 ribu tersebut. "Sampai saat ini tidak ada orang tua murid yang menyatakan keberatan atas pungutan 400 ribu (rupiah) tersebut," timpalnya.

Sementara itu, ketua Komite SMPN 5 Ketapang, Uti Aliansyah, juga menjelaskan jika program pembangunan WC tersebut diajukan seperti program tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, dia menambahkan, pembangunan telah dilaksanakan seperti penimbunan dan pemasangan paving block untuk halaman sekolah dan garasi. "Ini semua dibangun atas partisipasi orang tua murid," kata Aliansyah sambil menunjukkan hasil pembangunan tahun lalu berupa halaman dan garasi sekolah.

Dia yakin telah terjadi miskomunikasi hingga mencuat pemberitaan di media massa yang menyudutkan Komite dan SMPN 5 Ketapang. miskomunikasi itu sendiri, menurut dia, terjadi lantaran wali murid yang memunculkan polemik ini tidak menghadiri rapat, untuk mendengarkan penjelasan Komite dan pihak sekolah.

Sementara itu, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, H Jahilin, mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, Ketua Komite, serta para orang tua murid yang telah berpartisipasi dalam dunia pendidikan, dengan menyumbangkan pembangunan layanan pendidikan yang sangat dibutuhkan para siswa SMPN 5 Ketapang. "Sumbangan Rp400 ribu orang tua murid untuk pembangunan WC dai SMPN 5 Ketapang ini atas dasar kesepakatan bersama," kata dia memastikan.

Bahkan, menurut dia, para orang tua murid yang tidak mampu pun tidak dipaksa untuk menyumbang. Penarikan sumbangan seperti ini, diakui Jahilin, dikarenakan pemerintah belum mampu untuk memenuhi semua kebutuhan sekolah yang ada di Kabupaten Ketapang. "Jadi sumbangan yang dipukul rata dan penggunaan tidak semestinya itu tidak benar, tetapi memang untuk kepentingan siswa kita yang riil untuk pembangunan," kata Jahilin.

Penjabat (Pj) Bupati Ketapang Kartius sendiri langsung memeriksa situasi kelas, ruang perpustakaan, taman, kantin sekolah, dan WC sekolahan. Sebelumnya pun dia sempat berdialog dengan murid-murid SMPN 5 Ketapang yang sedang belajar.

"Setelah saya lihat keyataan di lapangan bahwa proses belajar dan mengajar di SMP 5 ini, baik dari lingkungannya, kebun, taman, penataan ruang kelas, semuanya baik " kata Kartius. Dijelaskan dia, harus ada tiga komponen yang bisa memajukan dunia pendidikan di negeri ini, yaitu pemerintah, masyarakat, dan pihak ketiga atau swasta. "Kalau memang keuangan pemerintah belum bisa memenuhi kebutuhan sekolah, tidak ada salahnya masyarakat dan pihak ketiga berkontribusi," ajak dia.

Pj Bupati sempat mengutip pernyataan Wamen Perdagangan bahwa setiap satu perkebunan kelapa sawit wajib memberikan beasiswa kepada mahasiswa di lingkungan kebun tersebut. Hal ini, disayangkan dia, belum ditindaklanjuti kabupaten dan provinsi. Terkait pungutan Rp400 ribu tersebut menurut Kartius sudah merupakan hasil kesepakatan orang tua dan Komite Sekolah. "Dunia pendidikan dan kesehatan sekarang sedang disorot. Kita kerja baik, dikatakan tidak baik, apalagi memang kerja tidak baik," kata Kartius mengingatkan para guru.

Kartius juga mengimbau kepada insan pers agar memberikan informasi yang benar tidak menyesatkan, sehingga dapat merusak dunia pendidikan yang sedang berjalan. Bahkan dia memberikan apresiasi kepada SMPN 5 Ketapang dalam menjaga lingkungan kebersihan sekolah yang sangat baik."SMPN 5 ini kondisi WC-nya bagus, tidak kotor, ruang kelasnya bagus, siswanya paling hebat lagi, tidak pakai HP dan tidak pakai motor," puji dia. (afi/ser)