Puding Ikan Bandeng Jadi Menu Favorit

Puding Ikan Bandeng Jadi Menu Favorit

  Selasa, 18 Oktober 2016 09:30
INOVATIF: Sonny Sondari (kiri) bersama Nining Herningsih, salah seorang pengemudi Omaba, saat ditemui di Bandung. Dinda Juwita/Jawa Pos

Berita Terkait

Sonny Sondari, Inisiator Ojek Makanan Balita, Layanan Terpadu Pengentasan Gizi Buruk

Empat tahun lalu, gerakan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Omaba atau Ojek Makanan Balita lahir. Diprakarsai Kepala UPT Puskesmas Riung, Bandung, Sonny Sondari, gerakan itu bertujuan mengentaskan persoalan gizi buruk.

Dinda Juwita, Bandung 

Berada di kawasan perumahan penduduk, UPT Puskesmas Riung terlihat cukup minimalis. Tak beda dengan puskesmas pada umumnya. Lokasinya yang berada di perumahan membuat akses angkutan umum terbatas. Angkot yang lewat di perumahan tersebut hanya beroperasi hingga magrib. Di puskesmas dua lantai itulah, Sonny Sondari enam tahun mengabdikan diri.

Ibu dua anak tersebut merupakan kepala UPT Puskesmas Riung. Menjadi penduduk asli kawasan Riung dan enam tahun memimpin puskesmas membuatnya sensitif terhadap isu-isu kesehatan di sekitarnya. Silih berganti dia menerima keluhan soal gizi buruk balita. Bahkan, ada pula ibu hamil yang datang ke puskesmas tempatnya bekerja yang juga terkena gizi buruk.

Kala itu, setelah mendapatkan laporan penimbangan balita yang rutin diadakan tiap Februari dan Agustus di Puskesmas Riung, Sonny melihat ada 22 balita yang mengalami gizi buruk. Keprihatinan tersebut mengetuk nuraninya sebagai ibu dan seorang dokter. Tak ingin tinggal diam, dia akhirnya menginisiatori program terpadu untuk penanganan gizi buruk pada akhir 2012.

”Ada rasa sense of belonging sebagai warga asli sini (Riung) saat melihat kondisi memprihatinkan tersebut. Kemudian, saya bikin program terpadu. Saya ajak juga ibu-ibu yang ada di sekitar sini untuk ikut,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos di Puskesmas Riung beberapa waktu lalu.

Tak lama kemudian, pada awal 2013, Sonny membentuk Omaba yang merupakan kependekan dari Ojek Makanan Balita. Ya, program terpadu itu memanfaatkan ojek sebagai sarana utama untuk menangani permasalahan gizi buruk. ”Awal terbentuk Omaba, belum ada konsep yang benar-benar terstruktur. Sebab, yang penting saat itu ada niat, gerak dulu, jalan dulu. Insya Allah nanti hasilnya kelihatan,” tuturnya.

Perempuan bersahaja itu lantas mengajak ibu-ibu PKK di kawasan Riung terlibat mengentaskan permasalahan yang ada di daerah tempat tinggalnya. Sonny dan ibu-ibu Omaba bergerak cepat. Secara swadaya, ibu-ibu bergantian merelakan dapur pribadi di rumahnya untuk digunakan meracik menu sehat. Lama-kelamaan, ruang serbaguna yang biasa digunakan untuk pertemuan PKK di kompleks perumahan tersebut disulap menjadi dapur untuk memasak makanan bagi pasien gizi buruk.

”Dalam setahun, ada dua kali program pengentasan gizi buruk yang dilakukan Omaba. Masing-masing program berlangsung selama 90 hari. Dalam waktu 90 hari itu, setiap hari Omaba melakukan tugasnya mendistribusikan makanan sehat,” terang perempuan 53 tahun tersebut.

Dengan tujuan mulia untuk mengentaskan gizi buruk, pagi-pagi buta ibu-ibu Omaba telah bergegas mengolah makanan di dapur sederhana itu. Ibu-ibu mengolah berbagai menu sehat yang nanti didistribusikan ke pasien gizi buruk. ”Dinamakan menu sehat karena memang kami tidak menggunakan bahan pengawet ataupun penyedap rasa buatan. Meski begitu, rasanya tetap enak dan tentunya sehat untuk pasien,” katanya.

Bolu wortel, nugget tempe, bakso singkong, cendol ikan, hingga puding ikan bandeng menjadi menu favorit yang siap disantap pasien gizi buruk. Dalam hal kreativitas, ibu-ibu Omaba memang terus-menerus melakukan inovasi menu agar variatif. Hal itu dilakukan agar pasien yang notabene balita tidak bosan dengan menu sehat tersebut.

Menu-menu sehat itu dikemas dalam wadah makanan kedap udara dan didistribusikan langsung menggunakan ojek yang dikendarai ibu-ibu Omaba. Nining Herningsih, salah seorang anggota Omaba, bertugas sebagai sopir ojek yang mengantar makanan tersebut satu per satu ke rumah pasien gizi buruk.

Di Omaba ada dua ibu yang bertugas sebagai ojek mengantarkan bekal makanan sehat dari dapur ke rumah-rumah penduduk. Nining salah satunya. ”Kedatangan Omaba ke rumah pasien gizi buruk selalu ditunggu. Malah ada juga yang nunggu di depan pintu rumahnya,” ujar dia.

Bahkan, Nining sering mendapat keluhan dari keluarganya karena kesibukannya wira-wiri menjadi sopir ojek. Hal itu tentu beralasan. Sebab, Nining tiap hari mendistribusikan makanan sehat ke empat kelurahan di dua kecamatan di kawasan Riung. Perempuan yang juga berprofesi guru PAUD tersebut juga dituntut cepat mendistribusikan makanan sehat. Sebab, balita gizi buruk bisa menikmati makanan dengan kondisi hangat dan segar. ”Jadi pernah ngalamin hujan-hujanan pas ngantar makanan. Badai, petir, juga pernah. Ditilang polisi juga pernah karena lupa nggak pakai helm,” ujarnya.

Namun, hal itu tak pernah memadamkan semangat Omaba. Sebab, orang tua pasien balita gizi buruk tiap hari bersemangat menyambut kedatangan Omaba. Bagi mereka, Omaba cukup istimewa. Sebab, dengan adanya Omaba, buah hati mereka dapat menikmati makanan sehat dengan cuma-cuma. Setelah mendapat kiriman makanan sehat tersebut, berat badan anak-anak berangsur naik. Dengan begitu, kasus gizi buruk pelan-pelan mulai berkurang.

”Waktu dikunjungi ibu Atalia (Atalia Praratya, istri Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Red), saya sedang ngantar 13 boks makanan. Ibu Atalia ikut saya boncengkan ngantar satu boks. Beliau nanya kok saya bisa ngantar 13 boks dan nggak kewalahan. Subhanallah, kalau sudah bergerak dengan niat dan cinta, capeknya nggak terasa kok,” tutur perempuan 48 tahun itu.

Hampir lima tahun berdiri, kehadiran Omaba membuahkan hasil. Sonny memerinci, di awal berdiri pada 2013, ada 22 balita gizi buruk di kawasan Riung. Jumlah tersebut berkurang menjadi 17 balita pada 2014. Kemudian menjadi 11 balita pada 2015 dan kini hanya ada 2 kasus balita gizi buruk.

Sonny menceritakan, sepanjang beroperasi, Omaba banyak dibantu dana corporate social responsibility (CSR) Pertamina. Selain itu, pemerintah setempat menyokong Omaba dengan dana dari APBD Kota Bandung. Di awal kegiatan ada pula program pemberian makanan tambahan (PMT) dengan memberikan susu formula.

”Tapi, secara teoretis, pemberian susu formula pada penderita gizi buruk itu memang bisa menaikkan berat badan dengan cepat. Tapi, setelah itu turunnya cepat. Jadi, pemberian makanan sehat dirasa lebih baik dan efektif,” kata Sonny. 

Sebagai pendiri Omaba, Sonny juga cukup bangga karena kegiatan terpadu tersebut kini mendapatkan banyak respons positif. Bahkan, berbagai apresiasi diberikan sejumlah pihak. Salah satunya muncul dari Wapres Jusuf Kalla yang menobatkan Omaba sebagai Top Inovasi Pelayanan Publik tahun ini. Selain itu, Wali Kota Ridwan Kamil secara langsung meresmikan dapur Omaba pada September lalu. ”Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil, Red) mengikutsertakan Omaba ke ajang lomba internasional di bidang inovasi pelayanan publik,” imbuhnya.

Kini Sonny dan ibu-ibu Omaba lainnya tengah membuat milestone agar nanti program tersebut bisa direplikasi di daerah lainnya di seluruh Nusantara. Bahkan, pemerintah pusat melalui kementerian terkait telah menyambut positif gagasan itu agar dapat menjadi contoh di daerah lain dan menjadi program nasional. ”Saya dan ibu-ibu Omaba lainnya juga nggak menyangka bahwa kegiatan yang kami lakukan atas dasar kepedulian akhirnya sekarang bisa mendapat apresiasi hingga sebesar ini,” katanya. (*/c9/oki)

Berita Terkait