Puasa dan Pertobatan

Puasa dan Pertobatan

  Rabu, 10 February 2016 09:44   1

Oleh: Paulus Mashuri  Hari ini (Rabu/10 Maret 2016), umat Katolik di seluruh dunia memulai masa puasa (selama 40 hari) sebagai titik awal peziarahan pertobatan. Masa ini merupakan saat untuk mengoreksi diri, bercermin pada kelakuan kita masa lalu.

Dalam Gereja Katolik pembukaan masa puasa selalu diawali pada Hari Rabu atau lebih dikenal dengan “Rabu Abu”.  Pada hari ini umat Katolik akan memakai abu. Abu berasal dari daun palem yang sudah diberkati pada Minggu palem tahun lalu (2015). Pada hari Rabu Abu tahun 2016 ini, daun palem itu dibakar. Abu itulah yang dipakai. Abu mengungkapkan: yang tanpa harga, kerendahan diri di hadapan Allah, perasaan sedih karena berdosa. 

Dalam upacara Hari Rabu Abu, Pastor menandai dahi umatnya dengan abu, sambil berkata: “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu.” Atau kata-kata lain: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Dengan demikian, abu memberi gambaran kelabu mengenai kelemahan dan dosa manusia. Abu dipilih untuk menandai permulaan masa puasa yang disebut hari-hari tobat.

Tujuan dan makna puasa ialah agar kita menanggapi ajakan Tuhan untuk bertobat. Puasa barulah mempunyai arti yang sebenarnya bila dihubungkan dengan tobat. Puasa akan memiliki makna bila terjadi penyesalan dan pertobatan. Bila ada orang dengan rajin berpuasa tetapi kalau tidak ada pertobatan, puasa itu sendiri kurang bermakna.

Kita tahu, carut-marutnya negeri ini karena ulah kita sebagai umat manusia yang tidak bisa menghargai kejujuran, keadilan, melanggar martabat orang lain,. Penyelesaian masalah atau konflik yang berlarut-larut. Pelanggaran HAM di mana-mana. Pembabatan dan pembakaran hutan menjadi bencana tiap tahunnya. Ancaman bom (terorisme) terus menghantui negeri ini dan telah banyak memakan korban jiwa,  harta, rumah-rumah warga sipil, bahkan tempat-tempat ibadah pun tak jarang juga jadi sasaran. Konflik antar warga masih saja terjadi. 

Duka sepertinya menjadi bagian dari kehidupan rakyat kita – yang semakin hari semakin terpuruk. Kasus buruh yang tak pernah tuntas. Belum lagi kasus dugaan korupsi yang melibatkan para elit di negeri ini. Ada ratap tangis anak bangsa yang tidak memiliki tempat tinggal karena terusir dari daerahnya serta bahaya aksi berbau SARA. Kesemuanya bisa menjadi bom waktu yang tak terduga.

Rangkaian persoalan di atas membuat kita perlu bercermin diri. Melihat wajah seperti apakah kita. Kita pun perlu mengoreksi bathin; apakah masih ada kejujuran, martabat yang baik, serta nurani yang bersih.

Apakah kita masih memiliki nilai-nilai kemanusiaan, memiliki rasa keadilan dan memandang orang lain sama dengan kita. Kita tahu, kejujuran membuat orang lain percaya pada kita. Keadilan membuat orang merasa terayomi, merasa dilindungi. Namun, bisakah kita berbuat seperti itu?

Karena itu, di masa puasa, umat Katolik Indonesia perlu berbenah diri. Membenahi iman kepercayaan kita. Menyadari makna kehidupan ini bahwa manusia adalah makhluk yang lemah – yang mudah tergoda hal keduniawian.

Sejak 1970, umat Katolik di Indonesia memulai Aksi Puasa Pembangunan (APP). Kata pembangunan dalam aksi puasa yang dimulai tahun 1970 merupakan bentuk partisipasi atau solidaritas umat Katolik terhadap pembangunan Indonesia. Umat diberdayakan dalam bentuk solidaritas. Tobat tidak hanya untuk diri sendiri. Puasa dan mati raga tidak hanya untuk diri sendiri saja tetapi juga untuk sesama.  Maka diadakan gerakan solidaritas nasional yang saat ini di kalangan Gereja Katolik Indonesia disebut : “APP”.

Maksud dan tujuan APP, Gereja mengundang dan mengajak umat Katolik Indonesia untuk mengadakan rekonsiliasi. Berpuasa dan berpantang, sebagai mati raga, merupakan cara untuk membantu kita menghindari segala bentuk ketagihan yang membelenggu diri kita. Hasil penghematan dari puasa dan pantang itu, yang sungguh terasa oleh kita sendiri, dipersembahkan kepada Tuhan demi membantu sesama kita yang berkekurangan.

Hendaknya kita hayati masa puasa sebagai masa bertobat; kesempatan baik untuk memperbaiki diri dengan bantuan Tuhan. Melakukan perbuatan-perbuatan baik dan  amal dengan motivasi yang murni. Ikut aktif dalam memperjuangkan keadilan, kejujuran, HAM serta kelestarian lingkungan alam ciptaan Tuhan. “Maka Bapa-mu yang melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu.”

Dengan pertobatan kita akan dipulihkan, dibangkitkan dari lumpur dosa dan dibebaskan dari belenggu kenistaan. Selamat menunaikan Masa Puasa 2016. (*)