PT TMS Serap Ratusan Naker

PT TMS Serap Ratusan Naker

  Sabtu, 12 December 2015 09:53

SUKADANA--PT.Teluk Batang Mitra Sejati (PT. TMS)  menggelar sosialisasi terkait kegiatan pertambangan batu yang akan dilakukan di Gunung Tujuh Kecamatan Teluk Batang, di Mahkota Hotel Kayong, Selasa (8/12). Kegiatan ini dihadiri perwakilan masyarakat Desa Teluk Batang Selatan dan Desa Alur Bandung.

Selain itu, hadir pula Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid, Kepala Energi dan Sumber Daya Mineral, Abdul Halim HS, serta Kapolsek dan Koramil Teluk Batang. Bupati sengaja hadir pada sosialisasi ini guna melihat sejauh mana pihak perusahaan dan masyarakat bisa mencapai kata sepakat.

Soalnya, selama ini masih ada isu negatif yang berkembang dan sebagian masyarakat menolak masuknya perusahaan pertambangan di wilayah mereka. “Untuk semua perizinanya sudah layak, dan tidak ada masalah. Semestinya masyarakat bisa menerima keberadaan masuknya investor,” kata Hildi.

Hal yang menjadi persoalan, tambah dia, adalah kesalahpahaman terkait Gunung Tujuh. Sebetulnya, dari paparan pihak perusahaan, Gunung Tujuh tidak termasuk lahan yang akan ditambang. Selain itu, tidak semua areal tambang akan digali menggunakan bahan peledak.

  Sementara itu, Dinas ESDM,  Abdul Halim, menjelaskan bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh pihak perusahan, dalam rangka memaparkan terkait rencana pertambangan, sesuai aturan, dampak negatif dan positif, kepada para perwakilan masyarakat, yang nantinya bisa disebarluaskan.

Menurutnya, sejauh ini pihak perusahaan telah memenuhi aturan perundang-undangan. Ia menambahkan, saat ini memang masih ada sebagian masyarakat yang menolak sehingga perlu ada penjelasan transparan dari pihak perusahaan.

Sementara itu, Direktur PT. TMS, Nasri Aslian, menerangkan masalah yang menjadi isu selama ini antara lain persoalan sumber air, yang mana gunung tujuh merupakan salah satu sumber air untuk masyarakat Kecamatan Teluk Batang. Warga khawatir aktivitas pertambangan akan mengganggu sumber air tersebut.

“Ternyata setelah pihak perusahaan melakukan penelitian ditemukan sebuah sumber air, yang nantinya justru akan dimaksimalkan perusahaan untuk kepentingan masyarakat, melalui program CSR,” ujar Nasri menepis isu yang beredar.

Menurut dia, investasi yang dilakukan perusahaan, pada dasarnya untuk pembangunan Wilayah Kabupaten Kayong Utara. Terutama untuk pengadaan material dalam rangka pembangunan menjelang pelaksanaan kegiatan Sail Selat Karimata 2016.

Masuknya perusahaan pertambangan ini, kata dia, dapat membawa keuntungan  bagi Kayong Utara, antara lain dari segi retribusi untuk meningkatkan pendapatan daerah sehingga dengan sendirinya desa juga mendapatkan bagian.

Sebenarnya, lanjut Nasri, kalau melihat, masih adanya beberapa masyarakat yang belum setuju, hal ini terjadi karena belum adanya pemahaman serta komunikasi yang belum berjalan. Mereka masih melihat, pertambangan yang dilakukan ini, mengacu kepada pertambangan Free Port, yang dikelola perusahaan besar.

 “Masuknya perusahaan, akan membuka lahan pekerjaan yang besar sekali. Ada 145 tenaga kerja yang nantinya akan terserap. Sebanyak 90 untuk tenaga kasarnya, dan selebihnya untuk tenaga profesional, terutama lulusan S1 dan D3 nya,” ucapnya.

Jika semua persoalan telah bisa teratasi, ia berharapkan secepatnya pertambangan ini berjalan,terutama jika untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan sarana prasarana Sail Selat Karimata, Bulan Januari tahun depan, sudah bisa beroperasi.

Dijelaskannya pula bahwa, kontrak yang dilakukan hanya lima tahun. Setelah itu akan dilakukan perpanjangan kembali. Setelah selesai kontrak, pihak perusahaan juga tidak akan begitu saja menelantarkan lahan yang telah dikelola. Lahan tersebut akan dikembalikan, dan bisa dimanfaatkan, tergantung pemerintah daerah akan menggunakannya untuk apa.(dan)