Proyek Mupa Sudah Sedot Puluhan Miliar

Proyek Mupa Sudah Sedot Puluhan Miliar

  Kamis, 31 March 2016 09:55
TERBENGKALAI: Proyek jembatan Mupa, Kapuas Hulu yang merana. Sudah habiskan anggaran puluhan miliar toh tak kunjung rampung. Warga tetap menggunakan rakit untuk menyeberang. MUSTA’AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU—Meski telah menelan dana puluhan miliar, proyek pembangunan jembatan Mupa di dusun Mupa desa Pala Pulau Kecamatan Putussibau Utara belum tuntas. Proyek yang awalnya bekerja sama dengan Pemprov Kalbar untuk pengadaan  bentangan rangka baja, belakangan malah dicuekin. Semestinya ada pengawasan ketat terutama pengerjaan kontraktor pelaksana.

 Jembatan dengan 140 meter ini dibangun diatas sungai Benusiu telah menelan dana dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kapuas Hulu enam tahun anggaran berturut-turut. Tahun anggaran 2011 Rp 4,4 miliar, tahun 2012 Rp 1,9 miliar, tahun 2013 Rp 4,9 miliar, tahun 2014 Rp Rp 7,7 miliar, tahap kelima tahun 2015 Rp 9,2 miliar dan tahap keenam tahun 2016 Rp 3,2 miliar.

Menurut Seketaris Desa (Sekdes) Padua Mendalam Antonius Trisno, proyek pembangunan jembatan Mupa sudah dimulai sejak lima tahun lalu, tetapi sampai saat ini belum selesai karena pengerjaannya dilakukan secara bertahap.

"Kami berharap jembatan ini segera selesai, jembatan ini sangat penting untuk kelancaran transportasi dan perekonomian masyarakat beberapa desa,"paparnya Rabu (30/3).

Dijelaskannya, jembatan Mupa menghubungkan enam desa yang ada di kecamatan Putussibau Utara seperti  Desa Sambus, Ariung Mendalam,  Datah Dian, Padua,Tanjung Karang dengan desa Pala Pulau menuju ibu kota kabupaten Putussibau. Karena jembatan Mupa belum selesai, sementara ini warga desa menggunakan jasa penyeberangan untuk menyeberang, setip menyerang membayar Rp10 ribu.

Artinya, setiap berpergian harus mengeluarkan uang Rp 40 ribu, tentu sangat berat bagi masyarakat, apalagi disaat perekonomian masyarakat yang sedang sulit saat ini. Dikatakannya, jumlah Kepala Keluarga (KK) yang berada di enam desa tersebut tidak kurang dari seribu KK, setiap desa jumlahnya diperkirakan sekitar 100-200 KK.

"Kami berahap pembangunan jembatan ini dipercepat,” harapnya.

Terpisah, warga Desa Semangkok yakni Akiong mengatakan, pada saat menyeberang tak jarang ada sepeda motor terjatuh ke sungai. Ia mengaku khawatir saat menyeberang sungai, mengingat kondisi air sangat deras, sementara perahu tambang yang digunakan kecil dan rawan karam dan terseret air.

Sama seperti  Sekdes Padua Mendalam, Akiong juga berharap pembangunan jembatan Mupa segera selesai. Pemerintah Provinsi juga komitmen dengan janjinya untuk membantu pengadaan bentangan rangka baja sepanjang 140 meter.

“Saya berharap kepada pemerintah kabupaten dan Provinsi sama-sama berkomitmen menyelesaikan membangun jembatan yang sudah lama ini," harapan ia kemarin.

Ketua DPRD Kapuas Hulu Rajuliansyah mengatakan untuk membangun Jembatan Mupa dibutuhkan dana yang sangat besar, Pemda harus menginvestasikan dana bisa mencapai ratusan miliar.

"Saya kira Pemda tidak mampu kalau hanya mengharap APBD kabupaten yang hanya Rp 1.5 triliun. Kalau difokuskan bangun jembatan itu saja, bagaimana dengan 22 kecamatan lain," paparnya Rabu (30/3).

Untuk itu Rajuli meminta DPRD Provinsi agar membantu mendorong Pemprov Kalbar yang sudah berjanji untuk pengadaan bentangan rangka baja sepanjang 140 meter direalisasikan, tidak hanya janji-janji belaka.

“Jembatan itu juga ada janji politik dari Provinsi, tetapi sampai sekarang belum di realisasi. Mestinya masyarakat juga menuntut provinsi merealisasikan janjinya,” terang polisi PPP ini.

 "Pengerjaan tak selesai dikarenakan kontraknya habis, kontraktor kesulitan mengerjakan jembatan itu karena tergantung pada kondisi alam, baru bisa dikerjakan saat musim kemarau," jelasnya. Untuk itu kedepan, jembatan Mupa akan terus diperjuangkan DPRD Kapuas Hulu untuk pembangunannya, mengingat jembatan tersebut menjadi urat nadi perekonomian masyarakat enam di desa daerah itu.

 Kontraktor yang mengerjakan pembangunan jembatan Mupa Edi membantah tudingan masyarakat yang menyatakan jika pengerjaan pada pondasi tengah jembatan tak sesuai ketentuan yang tertuang dalam kontrak kerja."Yang dituduhkankan itu sudah berulangkali diperiksa, kenyataannya tidak ada temuan, saya tau yang mengatasnamakan masyarakat itu pengusaha," jelasnya melalui seluler (Hp).

Dikatakannya, pihaknnya mengerjakan pengerjaan jembatan tersebut sudah sesuai prosedur dan tidak sembarangan, di kondisi ketatnya pemerintahan dan pengawasan tidak ada kontraktor yang berani main-main dalam pengerjaan proyek pemerintah. "Kami juga sudah diawasi oleh pengawas, konsultan, bagaimana saya bisa main akal-akalan dalam mengerjakan jembatan tersebut," paparnya.

Dijelaskannya, dirinya baru mengerjakan pembangunan tersebut pada tahap ke enam, khusus untuk pemandangan pada tiang tengah dan pengerjaannya sudah putus kontrak pada 28 Desember 2015 lalu. "Kalau saya menang tender saya kerja lagi, tapi kalau saya kalah tender nanti bukan saya lagi yang mengerjakannya. Tentu pemenang tender berikutnya," tutur kontraktor asal Embaloh ini.(aan)

Berita Terkait