Program 1000 Start up Digital di Pontianak Tak Sesuai Harapan

Program 1000 Start up Digital di Pontianak Tak Sesuai Harapan

  Senin, 13 November 2017 10:18
BELUM SESUAI HARAPAN: Pertemuan para peserta Gerakan 1000 Start up, kemarin. SITI SULBIYAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – CEO Kibar sekaligus pencetus gerakan 1000 Start up Digital, Yansen Kamto, mengaku sedikit kecewa dengan hasil yang dicapai oleh peserta Pontianak yang terdaftar dalam program 1000 Start up Digital. Program yang disambut dengan antusias pada saat diresmikan Maret 2017 lalu nyatanya belum menunjukkan keseriusan peserta untuk menjadi start up digital.

Yansen menyebut pastisipasi Kota Pontianak terhadap program 1000 Start up Digital masih cukup rendah, meskipun apabila dibandingkan dengan kota lainnya tidak terlalu buruk. Program hanya mampu diikuti oleh 11 peserta yang bertahan hingga tahap akhir.  “ Ada 112 start up yang berhasil memasuki tahap ke-enam, Pontianak hanya 11,” ungkapnya dalam pertemuannya dengan sejumlah media, Minggu (12/11) di Pontianak.

Dari total tersebut, lanjutnya, hanya ada 30 peserta yang berkesempatan mendapatkan  bimbingan di Jakarta oleh 22 mentor berkelas internasional. Dari total 30 peserta tersebut, hanya satu yang berasal dari Pontianak. “Padahal di tahap ini, mereka akan mendapatkan bimbingan dan menimba ilmu secara langsung dari 22 mentor yang ahli dibidang ini,”  sebutnya.

Padahal, putra asli Pontianak ini berharap Pontianak menjadi salah satu kota yang melahirkan banyak start up. Apalagi menurutnya, start up digital mampu menghasilkan peluang-peluang ekonomi baru. Ditambah kebutuhan zaman memang sudah menuntut masuknya era digital.

Sementara itu, Harry Ronaldi selaku Kabid Ekonomi Kreatif, Disporapar Pontianak mengatakan Pontianak memiliki potensi anak muda kreatif yang mampu mengasilkan produk-produk digital.  Hal itu sudah terbukti dengan lahirnya sejumlah aplikasi digital karya pemuda Pontianak. “Anak-anak muda Pontianak yang membuat aplikasi sudah banyak, contohnya Gencil, Angkuts, Bujang Kurir dan lain sebagainya,” sebutnya.

Hanya saja, kata dia kelemahannya ada pada kolaborasi yang masih kurang. Menurutnya membangun kolaborasi bukan hanya dengan sesama pelaku start up tetapi juga degnan subsektor lainnya di ekonomi kreatif. Ia meyakini jika kolaborasi terjadi, baik sesama start up ataupun dengan subsektor lain di ekonomi kreatif. (sti)

Berita Terkait