Produksi Melimpah

Produksi Melimpah

  Jumat, 7 Oktober 2016 09:10

Berita Terkait

Perajin Batik Kesulitan Pasarkan Produk

Para perajin batik banyak mengalami suka duka. Apalagi sejak keran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dibuka, persaingan menjadi semakin berat. Salah satu kendala yang dihadapi adalah lesunya pasar batik. Padahal produksi batik terus melimpah setiap tahun tetapi sulitnya pasar membuat perajin ikut lesu.

“Kontribusi sumber daya sentra batik sudah ada. Ada pelatihan dimana-mana. Namun sejak ekonomi menurun agak lesu. Sejak 2 tahun terakhir,” kata Perajin Batik asal Pekalongan di Depok Town Square, Nova Kurniawan, kemarin.

Nova menyebutkan penurunan penjualan mencapai 10-20 persen. Ia mendorong Badan Ekonomi Kreatif yang digawangi Triawan Munaf untuk lebih membuka pasar bagi para perajin batik. “Kami kesulitan marketing. Pasar ada tetapi lesu, terutama bagi UMKM. Untuk ekspor harus diwadahi, harus ada pelatihan. Ini kritik kami kepada pemerintah agar kanal yang mampet bisa diatasi,” jelas pemilik gerai batik Seno Sampono ini.

Menurut Nova, Badan Ekonomi Kreatif dapat menumbuhkan motif-motif kontemporer para perajin batik. “Karena motif batik tak butuh pakem. Itu yang harus dilakukan adalah memunculkan ide-ide kreatif,” ungkapnya.

Para perajin batik juga mempersilahkan konsumen untuk menyampaikan keinginan dan selera dalam memilih batik. Perajin batik di Bali lebih kreatif karena dituntut sesuai keinginan pasar. “Misalnya mau warna soft atau bright. Silahkan apa maunya konsumen seperti di Bali itu pasar yang ingin produksinya seperti apa. Kalau soal produksi kami sudah melampai, hanya kesulitan marketing,” tegasnya.

Semangat pemerintah untuk memajukan para perajin dan pedagang kain batik memang masih terganjal dengan persaingan produk impor.  Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) membuka keran produk impor membanjiri pasar Indonesia.

Diketahui, produk impor asal Tiongkok menjadi salah satu pesaing yang dikeluhkan produsen batik lokal.  “Kalau produk impor dari Tiongkok itu kan gulungan hanya motif batik yang diaplikasikan. Beda dengan kain batik tulis asli Indonesia yang memang pakai proses pembuatannya,” kata Wulan pengelola Liani Batik di Thamrin City, Jakarta, Minggu (2/10).

Persaingan tidak hanya soal kuantitas dan corak tetapi juga soal harga. Produk impor dinilai masyarakat lebih murah ketimbang produk lokal.  “Masyarakat bilang kain kita lebih mahal, impor berani jauh lebih murah,” tukasnya.

Wulan menuturkan harga batik tulis umumnya mencapai jutaan rupiah karena membutuhkan proses yang lama dan modal yang tidak sedikit. 

Ia juga mengungkapkan bahwa  batik yang ditenun kualitasnya jauh lebih bagus. Pengunjung biasanya paling banyak membeli kain batik Pekalongan dan Cirebon di tokonya.  “Kami berharap di Hari Batik Nasional membuat masyarakat lebih cinta produk Indonesia. Agar lebih menghargai kain asli tanah air yaitu batik. Mungkin selama ini masih kurang penyuluhan atau sosialisasi,” tandasnya. (cr1/JPG)

Berita Terkait