Prihatin Korban Perkosaan

Prihatin Korban Perkosaan

  Jumat, 12 Agustus 2016 09:28
KUNJUNGI: Anggota Komisi III DPR RI, Erma Suryani Ranik saat mengujungi AY, korban pemerkosaan di Kecamatan Rasau Jaya. Ashri Isanini/pontianak post

Berita Terkait

KUBU RAYA – Anggota Komisi III DPR RI, Erma Suryani Ranik, Kamis (11/8) mengunjungi AY (20) korban pemerkosaan di Desa Rasau Jaya I Kubu Raya. Selain memberikan dukungan moril kepada Ay, Erma juga menginginkan agar pihak kepolisian bisa memberikan hukuman berat bagi para pelaku.

 
“Tidak ada alasan untuk tidak bisa menangkap kedua orang pelaku ini, karena pihak kepolisian memiliki personel yang cukup banyak. Kalau memang anggota Polresta tidak mampu, bisa meminta bantuan ke pihak Polda dan kalau masih butuh bantuan bisa berkoordinasi dengan Mabes Polri,” kata Erma Surayani Ranik.

Selain sejumlah aparat kepolisian, dalam kunjungan tersebut, Erma Suryani Ranik juga ditemani Wakapolresta Pontianak,  AKBP Veris Septiansyah, Kapolsek, Danramil, Kades dan beberapa pihak terkait lainnya.

Politisi Partai Demokrat ini tampak gencar  mendorong aparat penegak hukum menuntaskan kasus pemerkosaan tersebut, lantaran saat ini, Komisi III DPR RI juga tengah membahas Perpu Nomor I tahun 2016 atau yang biasa disebut dengan istilah tentang Perpu Kebiri tentang kejahatan seksual.

“Saya menginginkan pihak kepolisian bisa menggunakan pasal maksimal untuk menghukum para pelaku agar memberikan efek jera. Diharapkan dengan hukuman yang berat tidak ada lagi orang yang berani melakukan kejatan serupa,” tegasnya.

Setelah berbincang dengan Ay, Erma mengatakan hingga saat ini AY masih mengalami sakit pada beberapa bagian organ vitalnya. “Dampak psikologis bagi korban juga perlu diperhatikan. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Pak Wakapolres tadi agar terus memberikan pendampingan bagi korban hingga kasus ini tuntas,” ungkapnya.

Agar kejadian serupa tidak kembali terulang, wanita yang sebelumnya menjabat sebagai Anggota DPD RI ini meminta dukungan masyarakat untuk sama-sama menjaga generasi muda agar terhindar dari kejahatan seksual.

Menurutnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengedukasi  anak agar terhindar dari kejahatan seksual seperti dengan mendidik anak untuk respon terhdap hal-hal yang mengarah pada indikasi menjadikannya korban kejahatan seksual.

Sementara itu, Wakapolresta Pontianak, Veris mengatakan hingga saat ini pihaknya telah melakukan penahanan terhadap 12 pelaku. “Penahanan bagi 12 pelaku ini sudah dilakukan selama 20 hari dan tinggal 2 pelaku lagi yang berlum tertangkap dan sudah kami jadikan DPO,” ucapnya.

Veris sendiri menargetkan, pihaknya akan secepat mungkin menemukan dua pelaku yang masih buron tersebut. “Bagi keluarga dua pelaku yang masih dalam pencarian ini kami harap bisa koperatif membantu pihak kepolisian, kalau memang mengetahui keberadaan pelaku bisa segera a memberikan informasi kepada kami,” ucapnya.

Disinggung soal ancaman hukuman bagi para pelaku, Veris menyatakan sejauh ini pihaknya akan berupaya memberikan hukuman maksimal bagi para pelaku. “Kalau mengacu pada pasal 285 KUHP itu ancaman hukumannya sekitar 12 tahun,” ungkapnya.

Agar kasus tersebut segera tuntas, Veris mengimbau kerjasama semua pihak terkait. “Intinya kami dari pihak kepolisian tidak akan tinggal diam, percayalah secepat mungkin akan kami upayakan menyelesaikan kasus ini dengan memberikan hukuman maksimal bagi para pelaku,” jelasnya.

Sinem-Ibu dari AY berharap agar aparat penegak hukum bisa memberikan hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku. “Akibat kejadian itu terkadang anak saya dihantui perasaan was-was. Bahkan kadang terbawa mimpi jika mengingat terus-terusan kejadian yang menimpanya,” ucapnya.

Sinem yang sebelumnya bekerja sebagai pengasuh bayi ini terpaksa sejak beberapa waktu lalu meninggalkan pekerjaannya, karena harus fokus mengurus kasus yang menimpa anak pertamanya itu. “Semoga saja pihak kepolisian bisa bergerak cepat menangkap dua pelaku yang masih buron dan bisa memberikan hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku,” pungkasnya. (ash)

Berita Terkait