Prihatin Kondisi Madrasah

Prihatin Kondisi Madrasah

  Rabu, 3 Agustus 2016 09:41
BERLUBANG: Lantai sekolah yang terlihat berlubang, karena papan patah. Kondisi ini terlihat di ruang belajar MIS Nurul Islam Dusun Simpati. ISTIMEWA

Berita Terkait

SAMBAS – Orang tua siswa MIS Nurul Islam di Dusun Simpati Desa Serumpun Kecamatan Salatiga prihatin mendapati kondisi bangunan sekolah tempat anaknya menempa ilmu, jauh dari kata layak.

 
Meski, dinding telah menggunakan semen. Lantai sekolah yang terbuat dari papan, banyak yang patah sehingga berlubang. Kemudian atap seng, bocor.

Hal tersebut disampaikan, Aliansori. Orang tua siswa yang bersekolah di MIS Nurul Islam. Dirinya mengetahui kondisi bangunan ketika mengambil tanda kelulusan anaknya. “Biasanya urusan ke sekolah itu dilakukan istri. Karena saya bekerja di Kota Sambas. Dan saat saya melihat kondisi sekolah ketika mengambil kelulusan anak, ternyata kondisinya banyak kerusakan di sekolah tersebut,” kata Aliansori.

Hal tersebut dibenarkan Kepala MIS Nurul Islam, Rokhim. Ketika dikonfirmasi wartawan Kepala MIS yang juga mengajar ini mengakui kondisi yang disampaikan orang tua mantan siswanya tersebut. Hal ini dikarenakan, belum adanya sumber dana untuk melakukan perbaikan gedung maupun prasarana lain di Madrasah tersebut.

“Kalau ditanya kondisi, memang betul apa yang disampaikan. Lantai sekolah banyak yang bolong, karena papan lantai patah. Bahkan kondisi ini menyebabkan siswa banyak yang kakinya terperosok ke lubang lantai,” kata Rokhim.

Jika dinding, sebutnya, baru-baru ini memang ada yang sudah diganti menggunakan semen. Namun untuk atap maupun dek, banyak juga yang bocor.

Pihak Madrasah sebenarnya tidak membiarkan kondisi ini. Hanya saja, dana yang sedikit. Tidak bisa memperbaiki sekaligus kerusakan-kerusakan yang terjadi.

“Sekolah ini sudah ada sejak 1977. Lantai dengan atap yang sering diganti. Sementara untuk dinding, alhamdulillah sudah menggunakan semen kawat,” katanya.

Untuk meja kursi, sebutnya, sudah ada. Artinya tidak sampai siswa duduk dilantai. Namun kondisinya juga memperihatinkan.

“Satu bangku, kalau dihitung sudah berapa kilogram paku yang digunakan untuk memperbaiki agar tetap kuat dipakai siswa,” katanya.

Saat ini, MIS Nurul Islam memiliki jumlah siswa sebanyak 66. Mulai dari kelas 1 hingga enam. Dengan hanya tiga lokal bangunan, pihak madrasah pun membuat sekat agar semuanya bisa melaksanakan proses belajar mengajar.

“Tiga ruang belajar. Kita sekat. Kemudian ada jarak antara ruang guru dengan kelas, kita jadikan dijadikan lokal juga yang memang lantainya berpatahan. Sementara siswa kelas 1 dan 2 bergantian,” katanya.

Ditanya mengenai bantuan. Selama ini, siswa madrasahnya menerima BOS, yakni masing-masing Rp800 ribu per tahun per siswa. Kemudian ada juga bantuan swadaya masyarakat. Hanya saja, berkaitan dengan bantuan untuk pembangunan gedung maupun sarana pendukung lainnya dirasakan belum diterimanya.

“Karena ini madrasah, kami bernaung di bawah Kementerian Agama. Dan memang ada kunjungan dari pegawai kemenag Sambas. Hanya saja untuk bantuan berupa dana untuk pembangunan belum diterimanya,” katanya.

Padahal, sesuai keinginan masyarakat setempat. Jika bangunan MIS memadai. Mereka akan menyekolahkan ke Madrasah. Hanya saja, itu belum terealisasi. “Dulu pernah ada rencana pembangunan gedung yang bersumber dari ADD. Karena disampaikan dalam aspirasi warga. Namun karena aturan, hal tersebut batal dilaksanakan. Sempat ada peningkatan siswa yang ingin ber sekolah ke MIS,” katanya.

Bahkan karena keterbatasan sarana. Pihak MIS Nurul Islam, sempat menolak calon siswa yang orang tuanya ingin menyekolahkan anaknya. “Tahun ini, kita hanya menerima 20 siswa baru. Kami sempat menolak beberapa siswa karena keterbatasan MIS,” katanya.

Rokhim, untuk proses belajar mengajar ada enam guru honorer dan dua PNS di Madrasah. Siswanya terbanyak dari Dusun Simpati, namun ada juga dari Sungai Toman dan Dusun Baru. Kemudian Sekolah terdekat adalah SDN 6 Parit Lintang yang jaraknya sekitar 300 meter. (fah)

Berita Terkait