Presiden Joko Widodo Bisa Marah Besar?

Presiden Joko Widodo Bisa Marah Besar?

Selasa, 22 December 2015 09:56   1

Oleh: Leo Sutrisno

PONTIANAK POST, 8 Desember 2015 halaman 1, menyajikan Headline dengan judul “Jokowi Marah besar”. Digambarkan “Wajah Jokowi yang awalnya kalem,  akhirnya langsung terlihat menegang. Aura kemarahan pria asal Solo itu terlihat membuncah. Tangan Jokowi yang mengacung bahkan sampai bergetar”.  Tidak hanya itu, saya melihat (LS), begitu pernyataannya selesai diucapkan Presiden Joko Widodo langsung memutar badan meninggalkan para wartawan tanpa senyuman sema sekali. Tidak ada sebersit keramahannya.  Presiden Joko Widodo memang sungguh marah.
Mengapa orang yang sejak kemunculannya di panggung papan atas para petinggi negara ini tampak santun, murah senyum, ramah kepada siapa pun mendadak bisa marah seperti itu? Mari kita lihat sepenggal sejarah masa kecil hidupnya menurut versi “Film Jokowi” (2010). Sebagai catatan, kabarnya  Presiden Joko Widodo tidak setuju kehidupan dirinya difilmkan. Jadi, film itu sungguh interpretasi produsernya tentang sejarah hidup Presiden Joko Widodo.
Diawali dengan perjalanan ayahnya, Pak Noto Miharjo bersepeda pancal bergegas menuju rumah sakit karena istrinya akan melahirkan anak pertamanya. Itu terjadi pada tahun 1961. Ketika sedang melintas di sekitar pasar kaki lima, ia ditahan oleh Satpol-PP karena dikira juga sebagai pedagang kaki lima yang akan kabur.
Begitu melangkah di ruang depan rumah sakit, terdengar suara ketus seorang karyawati “Tahu istrinya mau melahirkan, datang terlambat. Administrasinya belum diurus”. Ketika sedang menimang anak yang baru lahir itu ada pertanyaan dari seorang perawat “Akan diberi nama siapa, pak?” Pak Noto sedikit termangu, kemudian menjawab dengan mantab “Joko Widodo!”
Belum lama di rumah kontrakannya, keluarga Pak Noto ditagih uang kontrakan yang harus dibayar hari itu juga. Tetapi, mereka belum siap sama sekali. Segera, Pak Noto bergegas pergi ke pasar akan menjual piring antik hadiah mertuanya, atas kelahiran Joko.  Tetapi, celaka sepeda tergelincir di jalan menanjak, piring-piring pecah semua. Dengan berat hati, pak Noto menggadaikan jam tangannya, pemberian ayahnya sebesar Rp 1.650.
Kelak ketika Pak Jokowi sudah sukses menjadi pengusaha kerajinan kayu, jam ini ditebusnya (oleh anak keturunan juru gadai dikembalikan begitu saja tanpa uang tebusan). Tetapi, pada saat jam akan dimasukkan ke saku, Pak Jokowi menerima panggilan HP yang mengabarkan bahwa Pak Noto meninggal. Jam jatuh di lantai keramik di samping tempat duduknya. Ia pun bergegas pulang tanpa membawa pulang jam tersebut.
Uang sebesar Rp 1.650 itu tidak cukup untuk membayar kontrakan. Pok Noto menggunakan gerobak membawa barang-barangnya.  Baji Jokowi berada dalam dekapan ibunya yang berjalan kaki di belakang gerobak menyusuri jalan-jalan kampung mencari rumah kontrakan yang murah. Mereka, karena hujan, singgah di warung makan membeli semangkuk soto untuk berdua. Tetapi, mbakyu pemilik warung kurang berkenan, dan mengomel “Beli semangkok soto saja, menghalangi jalan!”. Syukurlah ada orang yang menawari pinjaman rumah kecil berlantai tanah tanpa harus membayar uang kontrakan lebih dahulu.
Kelak, ketika berumur sekitar lima tahun, di awal Gestapu,1965,  di sebuah ujung jalan kampung jalan Jokowi kecil melihat orang yang baik hati itu (Pak Dhe Suroso, Jokowi memanggilnya) diciduk tentara. Tidak tahu dibawa kemana.
Di rumah kecil itu, si kecil Jokowi belajar sifat-sifat takoh wayang, dari kakeknya. “Semar itu hanya orang kecil, Le. Ia menjadi abdi, pengasuh,  para kesatria Pandawa. Walaupun begitu, semua kesatria yang diasuhnya selalu menaruh hormat kepada Semar.  Menjadi orang hebat bermartabat itu, Le,” Kata kakeknya. “Tidak perlu mentereng. Tidak perlu mewah. Tetapi kebaikan hatinya.”
Karena menghindari keributan pasca ‘pembersihan’ PKI, Pak Noto sekeluarga pindah ke kampung lain, Kampung Kali Anyar. Sebenarnya, mertua pak Noto meminta agar pindah ke rumahnya. Tetapi, Pak Noto berkeras menolak bergabung di rumah mertua. Si kecil Jokowi menangis karena dalam hatinya ia ingin pergi ke embahnya tetapi dipaksa harus turut ayahnya.
Di kampung Kali Anyar, kampung pinggir sungai ini, keluarga Pak Noto  ditampung oleh keluarga Bu Harjo, keluarga Katolik. Di rumah baru itu, si bocah Jokowi belajar hidup damai dengan orang-orang yang tidak seiman. Ketika pergi belajar mengaji di surau, misalnya, ia sering diboncengkan oleh putri bu Harjo yang juga akan pergi ke gereja.
Pada suatu hari, ia memergoki tiga orang kawannya yang ‘kabur’ dari pelajaran mengaji. Dalam perjalanan pulang, Jokowi dicegat mereka itu  karena disangka akan melaporkan  kepada ustad. Agar tidak melapor, ia disogok dengan dua keping uang logam. Tetapi, Jokowi menolak. Karena tidak mau menerima sogokan itu ia pun dihajar kawan-kawannya itu.
Sesampai di rumah, Pak Noto menyangka Jokowi berkelai dengan teman-temannya. Karena marahnya, Pak Noto memukuli dirinya sendiri sambil berkata, “Kita memang melarat, Le. Tetapi, kita bukan keturunan brangasan. Kita punya martabat!”.
Cukup lama, mereka tinggal di kampung Kali Anyar ini. Adik-adiknya lahir di sini. Ketika sedang memancing di kali untuk lauk adik-adiknya, ia dipanggil pulang adiknya karena rumahnya dibongkar paksa oleh Satpol-PP. Ia menangis protes. Tetapi, justru mendapat bentakan seorang petugas dan tiga ekor ikan hasil pencingannya pun diinjak petugas itu.
Mereka ditampung di rumah Pak Dhe Wiyono, abang Bu Noto. Di rumah itu, Jokowi membangkang. Dia tidak mau membereskan kamar barunya. Karena, bukan rumah sendiri.
Dengan nada protes ia berkata kepada bapaknya, “Pak, katanya keturunan  priyayi. Tetapi, kenapa hidup kita susah. Saya ingin punya rumah sendiri. Tidak mau selau dikejar-kejar petugas”. “Priyayi itu bukan kekayaannya, tetapi hatinya, Le. Priyayi itu orang yang punya martabat,” jelas Pak Noto. “Priyayi itu orang yang hidupnya benar”, sambungnya.  
Sepenggal kisah ini (dari lahir hingga sekitar kelas lima SD) tentu dapat menjelaskan mengapa Pak Jokowi marah besar. Fenomena “Papa minta saham” telah menusuk ulu hatinya. Martabat dirinya tersinggung dan terinjak-injak. Hidup yang telah dijalani dari kecil yang menjunjung tinggi harkat dan martabat diri serta  keluarganya dengan jalan hidup yang benar tiba-tiba ditusuk dan dirobek-robek. Fenomena ini sungguh menyinggung harga dirinya. Presiden Joko Widodo memang pantas untuk murka.**

 

Leo Sutrisno