Predator 6 Anak Divonis 9 Tahun

Predator 6 Anak Divonis 9 Tahun

  Jumat, 20 May 2016 09:30

Berita Terkait

KEDIRI – Hari penghakiman bagi Sony Sandra, 63, akhirnya tiba. Kemarin (19/5) terdakwa kasus pencabulan anak itu hanya bisa terduduk lesu di kursi pesakitan saat para pengadil membacakan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri. 

Oleh majelis hakim, pria dari Kelurahan Kombespol Duryat, Kediri, tersebut divonis hukuman penjara sembilan tahun dengan dikurangi masa tahanan. Sony juga dikenai hukuman denda Rp250 juta. Jika denda tidak dibayar, hukuman ditambah empat bulan penjara. 

”Terdakwa secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal 81 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2014 atas perubahan pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 65 ayat (1) KUHP,” ujar Purnomo Amin selaku ketua majelis hakim dalam sidang terbuka.

Putusan tersebut jauh lebih ringan daripada tuntutan para jaksa penuntut umum (JPU). Jaksa menuntut pengusaha konstruksi dan aspal itu dengan hukuman penjara 13 tahun dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan penjara.

Seperti diberitakan, Sony Sandra, pemilik PT Triple S, dilaporkan tiga siswi setingkat SMP dan SMA pada 4 Juli 2015. Tiga remaja itu berinisial Ae, 17; Ag, 16; dan Me, 18. Mereka mengadu telah disetubuhi Sony secara paksa ke Polres Kediri Kota. 

Empat hari kemudian dua remaja lain mengadukan hal serupa. Mereka adalah El, 17, dan In, 18. Dari laporan itu, polisi akhirnya menangkap Sony pada 13 Juli 2015. Dia dijemput dari Bandara Juanda, Surabaya, kemudian ditahan di Mapolresta Kediri.

Diduga, gara-gara kekuatan uang dan jaringan Sony, proses hukum berjalan lambat. Bahkan, Sony sempat akan bebas karena masa tahanan sudah habis. Namun, lima menit setelah keluar dari lapas, Sony ditangkap lagi oleh polisi untuk kasus yang sama dengan pelapor yang berbeda.

Terkait dengan vonis kemarin, majelis hakim memberikan beberapa pertimbangan. Pertimbangan yang memberatkan, perbuatan Sony jelas telah merusak mental dan masa depan para korban. Yakni In, 18; AK, 17; dan Nv, 17. Sedangkan pertimbangan yang meringankan, Sony menderita penyakit jantung dan selalu mengikuti proses sidang, kecuali saat sakit. ”Dengan hadir di persidangan saja sudah berdampak kepada psikologis terdakwa,” tambah hakim Rachmawaty dalam sidang.

Semula, sidang akan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Empat JPU, yakni Teguh Warjianto, Yudi Hermawan, Sigit Artantojati, dan Tatik Herawati, sudah siap dengan menempati meja JPU. Hanya, untuk barisan penasihat hukum (PH), tinggal Agus Manfaluthi dan Ridwan.

Saat majelis hakim mengetuk palu tanda sidang dibuka, Sony meminta waktu untuk menunggu dua PH lain yang belum datang, yakni Moch. Arifin dan Sudiman Sidabukke. Mereka masih berada dalam perjalanan menuju PN Kota Kediri. ”Sidang ditunda sampai pukul 11.15 WIB,” terang Purnomo, kemudian mengetuk palu sekali.

Sesuai dengan kesepakatan, sidang lantas dilanjutkan. Sony dikawal petugas kepolisian dan penjaga tahanan kejaksaan untuk menuju ruang sidang. Meski ruang sidang penuh, proses sidang berjalan lancar selama sekitar empat jam.

Selama itulah majelis hakim membacakan surat putusan setebal 150 halaman. Selama pembacaan tersebut, Sony memegangi dada dengan kepala tertunduk dan mata terpejam. Karena itu, majelis hakim sesekali menanyai terdakwa, apakah masih sanggup untuk mengikuti sidang. ”Apakah terdakwa masih kuat? Jika tidak, akan kami panggilkan dokter,” terang Purnomo di sela pembacaan putusan.

Sony hanya mengangguk, tanda bersedia mengikuti kelanjutan sidang. Setiap keterangan saksi yang dibacakan kembali oleh majelis hakim ditanggapi Sony dengan gelengan lirih. Hingga akhirnya putusan akhir disampaikan oleh majelis hakim. Atas putusan tersebut, Sony hanya menanggapi dengan singkat untuk pikir-pikir. Sedangkan empat JPU, yakni Teguh, Yudi, Sigit, dan Tatik, juga menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut. ”Masih kami pikir-pikir karena tetap harus mempertimbangkan dua sisi, yakni pelaku maupun korban,” ujar Teguh, mewakili para JPU.

Sedangkan tim penasihat hukum melalui Sudiman Sidabukke menjelaskan bahwa pihaknya akan menentukan langkah sesuai dengan yang diinginkan Sony. Meski Sony menyatakan pikir-pikir, penasihat hukumnya akan mengusulkan untuk mengajukan banding.

”Tapi, tetap nanti kami sesuaikan dengan keinginan Sony,” terang pria berkacamata tersebut.

Terkait dengan isi putusan, Sudiman sempat berkomentar bahwa isu yang beredar secara nasional sangat liar. Tidak ada unsur pemaksaan dan pemerkosaan seperti yang digembar-gemborkan media nasional. ”Ternyata fakta persidangan jauh dari isu yang didesas-desuskan,” terangnya.

Bukan hanya itu, pihaknya setuju bahwa perbuatan tersebut dikategorikan sebagai perbuatan berlanjut. Hanya, ada perkara lain yang saat ini diproses di Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri dengan modus operandi yang sama. ”Mengapa tidak digabung menjadi satu karena masuk dalam perbuatan berlanjut?” ucap dia.

Sudiman juga merasa bahwa ada kesan jor-joran di antara PN kota dan kabupaten. Jika kota +menuntut hukuman penjara 13 tahun dengan denda Rp 250 juta, kabupaten seakan tidak mau kalah dengan memberikan tuntutan hukuman penjara 14 tahun dengan denda Rp 300 juta.

Padahal, sesuai dengan hukum yang berlaku, masa hukuman maksimal 15 tahun. Jika kejahatan dilakukan berulang, ditambahkan pemberat sepertiga dari hukuman maksimal. Tapi, bila perkara tersebut dipisah, total hukuman Sony bisa sampai 27 tahun. ”Ini yang saya sayangkan dari penegakan hukum, dalam hal ini proses penyidikan yang kesannya diecer-ecer,” keluh dia. (dna/c11/kim)

Berita Terkait