Power vs Easy Riding , Tes Sepang Tiga Hari Lagi

Power vs Easy Riding , Tes Sepang Tiga Hari Lagi

  Kamis, 28 January 2016 08:32
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

SEPANG--Tiga hari lagi mesin-mesin motor balap terbaik sejagad akan menderu-deru di Sepang. Uji coba pra musim perdana MotoGP bakal digelar mulai 1 Februari dan berakhir setelah tiga hari. Ada banyak hal yang ditunggu karena musim ini terjadi perombakan regulasi terbesar sejak musim 2010 saat kubikasi mesin kembali dari 800 cc ke 1000 cc.

Tahun ini Bridgestone telah benar-benar pergi. Penggantinya adalah Michelin yang pada uji coba usai musim lalu membuat banyak pembalap pening. Cengkeraman roda depan yang menyusut jika dibandingkan pendahulunya mengakibatkan para joki harus mengubah gaya membalapnya kalau tidak ingin terlempar dari motor.Kabar baiknya adalah stabilitas roda belakang. Cengkeraman lebih baik dari Bridgestone dan katanya membikin bagian buritan motor anteng saat masuk atau keluar tikungan.

Soal ban ini, juara bertahan Jorge Lorenzo girang. Menurutnya, performanya akan semakin terkerek dengan baru ini. Tahun lalu, dengan ban Bridgestone, pembalap Majorca itu memenangi tujuh seri dan merebut gelar juara dunianya yang ketiga. ’’Michelin lebih pas dengan gaya balapku,’’ katanya percaya diri.Bukan tanpa alasan jika Lorenzo begitu yakin. Saat musim debutnya di MotoGP 2008 silam rider 29 tahun tersebut menggunakan Michelin. Dia mengaku tak ingat lagi feeling-nya saat itu. Tapi memang berbeda dengan Bridgestone. ’’Kau harus menunda waktu pengeremannya dan membuka rem sedikit lebih cepat. Itu adalah gaya balap yang lebih baik untuk saya,’’ tandasnya.

Perubahan besar lainnya adalah penyeragaman ECU. Pembalap kelas pabrikan sudah tidak bisa menggunakan software yang mereka kembangkan sendiri. Ini akan sedikit menguntungkan Ducati dan Suzuki karena musim sebelumnya sudah menggunakan ECU standar karena turun di kelas Factory 2.

Yang paling ditunggu dari Sepang nanti tentu saja hasil pengembangan motor-motor baru sepanjang jedah musim dingin. Jika ingin dikelompokkan karakter mesin dan motor MotoGP bisa dipecah menjadi dua grup besar. Motor powerful diwakili Honda dan Ducati. Sedangkan motor easy riding adalah Yamaha dan Suzuki. Untuk kasus Aprilia musim ini mereka baru turun sebagai konstruktor penuh. Jadi musim lalu pengembangannya belum maksimal.

Baik Honda maupun Yamaha memang tidak bisa lepas dari karakter motor mereka. Wakil Presiden Honda Racing Corporation (HRC) Shuhei Nakamoto awal musim lalu mengatakan, timnya sudah membangun motor yang lebih mudah dikendalikan seperti karakter YZR-M1. ’’Tapi waktu dijajal, baik Marc (Marquez) dan Dani (Pedrosa) tidak menyukainya,’’ katanya.

Tapi RC213V musim lalu memang kelebihan power. Di saat yang sama motor semakin susah dikendarai. Bukan cuma rider top macam Marquez yang belingsatan harus pindah ke chassis lama untuk mendapatkan ritme balapnya kembali. Tapi Scott Redding, yang musim lalu membela Marc VDS, sampai memutuskan hengkang ke Pramac karena frustasi dengan RC213V.

Motor yang membawa Marquez menjuarai MotoGP dua musim beruntun itu seperti kuda liar musim lalu. HRC mengaku sudah menemukan solusinya, tapi aturan engine freeze selama semusim membuat mereka tidak bisa berkutik. Dan begitu arah pengembangan mesin ditemukan, mereka harus berbelok karena ada urusan yang lebih penting. Mengejar defisit power karena harus beradaptasi dengan perubahan ECU. Menarik melihat RC213V yang baru nanti mengaspal?

Di kubu Yamaha, Rossi dan Lorenzo sudah menitip pesan kepada mekanik untuk menambah top speed. Meski dominan di musim lalu sudah menjadi mahfum bahwa power mesin Yamaha kalah dengan para rivalnya. Sebagai komparasi saja top speed yang dicatat rider Ducati Andrea Iannone di balapan penutup di Valencia tahun lalu adalah 335,9 kilometer per jam. Sedangkan pembalap terbaik Yamaha di balapan tersebut Rossi membukukan top speed 323,7 kilometer per jam.

’’Kami akan mencoba meningkatkan sedikit saja top speed di trek lurus karena tahun lalu cuma di sana kelemahan kami,’’ kata Rossi saat peluncuran motor 2016 di Barcelona pekan lalu. Pendapat itu diamini Lorenzo.Sedangkan Ducati yang memang powerful memilih untuk mempertahankan karakter tersebut. Dengan perombakan besar-besaran yang terjadi di Desmosedici GP15 motor pabrikan Italia itu memang jauh lebih mudah dikendalikan.

Iannone juga enggan power mesinnya dikepras. Jadi mereka memilih menyasar memperbaiki sisi aerodinamika dan bemain-main dengan winglet untuk membuat motor lebih lincah. Semua penggila MotoGP menunggu seperti apa bentuk GP16 nanti.Suzuki juga datang dengan senjata baru. Ya, di dalam GSX-RR 1000 kini sudah tertanam seamless shifts gearbox. Fungsinya juga sudah penuh, baik untuk menambah atau mengurangi gigi percepatan. Suzuki juga butuh power mesin lebih besar untuk mengejar ketertinggalan di area top speed. Bahkan kebutuhan itu jauh lebih mendesak dibandingkan dengan Yamaha. (cak)

Berita Terkait