Potret Toleransi dalam Kemeriahan Ko Ngian di Pulau Bangka

Potret Toleransi dalam Kemeriahan Ko Ngian di Pulau Bangka

  Selasa, 9 February 2016 09:09
HARMONI: Kue keranjang dan jeruk bali disiapkan menyambut imlek di Kelenteng Kong Fuk Miau, Muntok. Umat melakukan sembahyang di Kelenteng Pasar Sungailiat. HUSNI/BABEL POS

Berita Terkait

Kerukunan di Bangka dibangun di atas prinsip ”Tionghoa-Melayu Sama Saja, Saudara”. Saling bertandang dan mengucapkan selamat tiap kali Imlek atau Lebaran.TIAP kali Imlek tiba, Ahyung tak pernah lupa memesan makanan di warung milik seorang tetangganya yang Melayu. Tak semata karena masakannya lezat. Tapi juga karena dijamin halal.

 
Ahyung memang nonmuslim. Tapi, dia memiliki banyak teman muslim. Dan mereka selalu tak pernah lupa bertandang tiap kali Ko Ngian –sebutan Imlek di kalangan warga keturunan Tionghoa di Bangka–tiba.”Jadi, setiap Ko Ngian saya sengaja minta dibuatkan warung langganan saya itu,” ungkap salah seorang tokoh keturunan Tionghoa yang tinggal di Desa Riding Panjang, Kabupaten Bangka, tersebut.

Ahyung tak sendirian sibuk menjamu tamu non-Tionghoa kala Ko Ngian tiba. Hampir di semua rumah yang penghuninya Imlekan, selalu bisa ditemukan tetangga, teman, atau kenalan dari etnis lain yang bertamu.

Berbincang akrab menikmati jeruk Tiongkok atau kue keranjang. Atau hidangan khas muslim seperti yang disediakan Ahyung tadi. ”Wajib bagi kami yang Melayu menyampaikan selamat Ko Ngian,” ujar Syamsu, seorang warga Pangkalpinang.

Pulau Bangka yang masuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu sekarang terbagi dalam lima kabupaten/kota. Khusus di Kabupaten Bangka, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, dari 450 ribu jiwa penduduk, 35 persen di antaranya merupakan keturunan Tionghoa. Terbesar kedua setelah etnis Melayu.

Mengutip chunghwahweekoan.wordpress.com, penulis sejarah W.P. Groeneveldt dalam buku Historical Notes on Indonesia and Malaya: Compiled from Chinese Source menyebutkan, pembahasan tentang Pulau Bangka pernah ditulis dalam kitab klasik Tiongkok Hsing-cha Sheng-lan (1436). Diceritakan, Bangka dan Belitung yang sama-sama kaya timah merupakan wilayah kepulauan dengan tradisi khas dan pemandangan indah.

Sumber lain menyebutkan, komunitas Tiongkok mulai menetap di Pulau Belitung pada 1293. Imigrasi besar-besaran dari Tiongkok ke Kepulauan Bangka Belitung terjadi pada awal abad ke-18, persisnya 1710, sebagai buruh kontrak penambangan timah.

Para buruh itulah yang kemudian kawin-mawin dengan penduduk setempat. Pembauran pun bersemi secara alami, tanpa dipaksakan. Mungkin karena itulah awet sampai kini.

Sampai-sampai muncul istilah Fan ngin Tong ngin Jitjong di kalangan warga Bangka. Artinya, Tionghoa-Melayu Sama Saja, Saudara. Tak heran, saat Lebaran, kalangan etnis Tionghoa, muslim maupun nonmuslim, akan berbondong-bondong mendatangi tetangga, teman, atau kenalan Melayu yang tengah merayakan hari raya umat muslim itu. Sama seperti yang dilakukan kalangan Melayu ketika Ko Ngian.

Kelenteng Kung Fuk Miau di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, juga menjadi saksi lain kukuhnya toleransi di pulau kaya timah itu. Kelenteng tertua di Bangka tersebut biasanya ramai dikunjungi warga Tionghoa pada malam Imlek hingga Hari Imlek.

Sebagai hiburan, biasanya ada pertunjukan barongsai. Tapi, karena kelenteng bersebelahan dengan masjid jamik, pertunjukannya akan disesuaikan dengan jadwal salat. Saat waktu salat tiba, pertunjukan akan berhenti dulu. ”Itu (toleransi) sudah turun-temurun. Jadi, kami saling menghormati,” kata Sak Hoi, salah seorang pengurus kelenteng berumur 192 tahun tersebut.

Harmonisasi kerukunan umat di Bangka juga bisa dilihat dari barongsai itu sendiri. Tiap kali memainkan pertunjukan saat Imlek seperti hari ini, pemainnya tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa, tapi juga kalangan Melayu.

”Bangka itu memang miniatur Indonesia yang ideal. Di sini semua suku rukun. Apa pun masalahnya selesai didiskusikan di atas meja,” kata Agung Setiawan, tokoh Tionghoa lain asal Sungailiat, Bangka.

Kendati secara esensial tak banyak perbedaan dengan daerah lain, besarnya jumlah warga keturunan Tionghoa di Bangka dan Belitung membuat Imlek terasa sangat meriah di sana. Perayaan Imlek biasa dimulai dengan berbagai persiapan. Misalnya menata rumah dan lingkungan dengan berbagai pernik lampion dan atribut merah lainnya sesuai kemampuan. Ahyung, misalnya, hari ini akan melepaskan spanduk sepanjang 6 meter berisi ucapan selamat Imlek.

Juga akan ada perayaan Cap Go Meh yang untuk Kabupaten Bangka berlangsung di Putri Tri Agung, Pantai Rebo, dan Sungailiat. Kalau dari segi makanan, jenisnya relatif sama dengan makanan dari berbagai daerah lainnya di Indonesia yang merayakan Imlek.

Selain spanduk, Ahyung akan melakukan pelepasan lampion. Tapi, kali ini dilakukan pagi hari. Tak seperti biasanya di kala malam. Tradisi lainnya yang tidak lepas adalah memainkan kembang api sebagai pengganti mercon. Memainkannya satu malam sebelum Imlek.

Perayaan menjadi semakin meriah karena mereka yang merantau juga beramai-ramai mudik. Termasuk yang dari Hongkong dan Tiongkok. Menurut Agung, potensi itulah yang semestinya ke depan bisa dijual sebagai semacam daya tarik wisata.

Sejauh ini memang telah ada agenda tahunan seperti Ceria Imlek. Tapi mungkin perlu digenjot lagi. ”Tidak semua tahu Imlek ini berjalan seperti apa di Bangka. Perlu dipublikasikan lewat berbagai media, termasuk melalui website, agar lebih baik, lebih gencar,” tuturnya. (*/JPG/c9/ttg)

 

 

Berita Terkait