Potret Anak Punk yang Dibina Polsek Singbar

Potret Anak Punk yang Dibina Polsek Singbar

  Senin, 20 June 2016 10:34
KAPOLSEK: mantan anak punk sedang mendengarkan tausyiah. SUTAMI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dulu kelompok mereka boleh dibilang jauh dari agama. Berkelana dari kota ke kota lainnya. Dengan rambut bergaya punk yang diwarnai. Plus tindakan nyeleneh lain. Sekotak lem biasanya menyertai perjalanan mereka. Kini, semua berubah.

HARI KURNIATHAMA, Singkawang

SIANG hari cerah dan panas. Kapolsek Singkawang Barat Kompol Sunarno dan dua anggota polisi lainya dari Mapolsek Singkawang Barat Jalan Alianyang menuju ke wilayah Selatan, tepian pantai tapi wilayah pegunungan.

Mereka menuju wilayah perbukitan itu. Jalannya berliku penuh tanjakan dan tikungan.

Sekitar kurang lebih 20 menit, kami sampai di halaman masjid Muthalibin yang beralamat di Jalan Malindo RT 39 RW 07 Teluk Karang Kelurahan Sedau Kecamatan Singkawang Selatan. Masjid ini tampak asri, dari kejauhan hiasan dinding bata berbentuk balok berwarna kuning menyambut kami.

Begitu turun dari mobil, kami mendengar orang ceramah, begitu di pintu masjid ada ternyata ada makmum yang diminta memandu pembacaan buku buku hadis, dengan dikelilingi sejumlah remaja yang diketahui masih dibawah umur.

Inilah tujuan kedatangan kami. Dari 14 anak yang ada, 9 diantaranya merupakan anak-anak punk, anak jalanan yang ditangkap oleh jajaran Polsek Singkawang Barat, baik karena suka ngelem hingga melakukan tindak pidana pencurian.

Saat koran ini masuk lalu mengerjakan tahiyatul masjid, mata ini tertuju satu per satu wajah anak anak punk ini. Tak satu pun dari mereka yang sama persis kita temukan kebanyakan saat mereka di jalanan. Mereka tampak bersih, wangi hingga dari gaya pakaian. Tak ada lagi baju atau celana compang camping, dekil, bau apalagi sambil menenteng kantong plastik berisikan lem. Berubah, itulah kalimat pertama wartawan ini melihat mereka.

Meski pun ada satu dua yang masih menyematkan anting di telinga dengan sedikit tato di bagian tangan maupun leher. Mereka heran dengan kedatangan awak media dan polisi, namun tetap fokus mendengarkan isi tausiyah menjelang zuhur.

Satu per satu anak ini wajahnya tampak bersih meski layu karena menjalani puasa. Baju mereka yang kita lihat di jalanan compang camping kini diganti dengan baju busana muslim, ada juga memakai jubah putih panjang hingga mengenakan sorban. Bahkan tangan mereka yang dulu menenteng kantong plastik berisikan lem kini dikelilingi tasbih.

Minimal secara fisik mereka berubah.

Lalu bagaimana mental mereka, tentunya tidak bisa dibuat kesimpulan, karena ini butuh waktu, penempaan dan penataan pengajaran agama.

Pembinaan anak anak funk ini merupakan salah satu wujud upaya penyadaran kelompok remaja jalanan ini ke arah lebih baik melalui kegiatan agama. Dimana pembinaan ini kerjasama Polsek Singkawang Barat, Kantor Kementerian Agama dan Jamaah Tabliq selaku pengampu mereka.

"Alhamdulillah saya disini ngaji, sholat lima waktu, puasa dan bertahajud," ungkap Aji, salah satu anak funk yang ikut kegiatan pembinaan ini.

Usianya masih 15 tahun, namun putus sekolah, padahal ia merupakan anak pensiunan lurah. Anak keenam dari enam bersaudara ini ikut ikutan "ngelem" karena kawan kawan. Meski pernah berulang kali diingatkan orang tua, namun Aji tetaplah dengan dunianya, saat dilarang ia terus ngelem bersama kawan kawannya. Bahkan setiap hari bisa setengah kaleng menghabiskan lem. "Rata rata setengah kaleng setiap hari tapi itupun biasanya berbagai dengan kawan atau saya yang minta dengan kawan," katanya.

Gara gara lem ini, ia sering ber halusinasi. " Saya biasa mengkhayal seperti main kung fu," katanya. Padahal ia pernah mengenyam pendidikan pesantren, namun pengaruh lingkungan berteman lebih kuat ketimbang kehidupan sekolah dan orangtua.

Kini ia merupakan salah satu yang terkesan masuknya program ini. Ia merasa ada hikmah dibalik kejadian yang dialaminya. "Menyesal pasti, tapi saya mau berubah," ungkapnya. (*)

Berita Terkait