Potensi Besar Usaha Pandai Besi

Potensi Besar Usaha Pandai Besi

  Senin, 15 Agustus 2016 08:57
MENEMPA: Seorang pandai besi Desa Mensiau, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu sedang mengerjakan alat pesanannya. Menempa besi secara tradisional adalah potret umum para pandai besi di Kalbar. Produksi pun tak rutin dan hanya berdasarkan pesanan di lingkungan tempatan saja. MEIDY/PONTIANAK POST

 
Kalimantan Barat adalah salah satu daerah yang perekonomian sangat tergantung dari komoditas perkebunan, utamanya karet dan kelapa sawit. Kendati demikian, pasokan alat-alat pertanian, bahkan yang sederhana sekalipun masih didatangkan dari luar. Ada potensi besar untuk berkembangnya pembuatan alat pertanian di provinsi ini.

Aristono, Pontianak

DESA Pasir Mayang, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang terlihat sepi pada siang hari, saat Pontianak Post berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Hampir semua kaum lelaki dan peremuan dewasa di desa itu pergi ke ladang. Namun beberapa orang memilih aktivitas lain. Seperti yang dilakukan Inus (54), satu-satunya pandai besi di kampung yang ratusan kilometer jaraknya dari ibukota kabupaten.

Dia adalah pemasok alat pertanian sederhana di desa itu, seperti parang, pisau, cangkul dan alat sederhana lainnya. Selain membuat alat perkakas rumah tangga dan pertanian, dia juga pandai membuat alat musik gambang; sebuat alat musik bernada lima mirip gamelan dari lempengan besi. Kepada penulis dia menunjukan sebuah keris penuh ukuran. "Kalau bikin keris hanya hobi saja. tidak ada yang mau beli di sini,” ungkap dia.

Namun alat pertanian yang dibuatnya hanya berdasarkan pesanan saja. Pekerjaan utamanya adalah berladang.  “Kalau ada yang pesan baru saya bikin. Selama ini tidak pernah kirim ke luar. Paling kampung tetangga saja. Selain itu tidak harus bayar pakai uang. Biasa kami tukar saja dengan beras atau ternak,” ucapnya.

Kondisi serupa juga terjadi nun di ujung tenggara Kalbar; tepatnya Desa Mensiau, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu.  Di perkampungan Dayak Iban tersebut penempaan perkakas dari besi, seperti parang, arit, pisau, dan cangkul juga hanya dibikin sesekali. Pilai salah satu pandai besi mengatakan, semua kebutuhan perkakas besi di kampung ini dibuat sendiri oleh warga kampung secara manual. “Sekarang harga karet masih murah. Saya cari tambahan dari membuat dan menjual parang. Lumayan untuk tambahan lauk di dapur,” kata pria paro baya ini.  

Banyaknya pesaing di era modern seperti saat ini terutama buatan pabrik, tak menyurutkan perajin atau pandai besi tradisional untuk tetap eksis. Di Kalimantan Barat walaupun hanya mengunakan peralatan manual, namun tidak menyurutkan nyali para perajin pandai besi untuk bersaing membuat alat pertanian, kendati hanya jadi pekerjaan sampingan.

Kendati kondisi tersebut sangat umum di hampir semua wilayah Kalbar, tidak sedikit pula orang yang menjadikan pandai besi sebagai pekerjaan utama. Sebaian sukses dalam usahanya. Salah satunya adalah Hadi dari Desa Terusan, Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah. Dia kini sudah memiliki perusahaan PD Sigma Hadi Karya yang memproduksi rata-rata 1.200 keping alat pertanian dan pertukangan sederhana perbulan.

Dituturkan dia, usaha ini dimulainya sejak tahun 2010. Saat itu pembukaan lahan perkebunan dan pertanian marak di Mempawah. Namun perlatan hanya dipasok dari luar dan harganya cukup tinggi. Lalu dia bersama beberapa rekannya membuat terobosan dengan mendirikan kelompok pandai besi yang memasok kebutuhan alat pertanian.

“Awalnya kami hanya menjual ke petani-petani setempat saja. Barangnya seperti alat toreh, prang, pisau, cangkul, linggis utuk sawit, dan alat sederhana lainnya. Namun beberapa bulan kemudian banyak yang memesan, dan kami juga mendapat orderan dari beberapa toko besar di Mempawah,” sebut dia.

Belakangan pesanan semakin banyak, bahkan hingga dari luar daerah. Demi meningkatkan kapasitas produksi, dia pun merekrut karyawan sampai 8 orang. Kini barang buatannya sudah terkenal, lantaran kualitasnya yang baik dan harganya yang bersaing. Harga alat pertanian miliknya berkisar antara Rp20.000-85.000 perkeping, tergaung jenisnya.

Kendati demikian, dia merasa belum puas. Dia ingin membuat peralatan-peralatan yang lebih canggih dan modern. Untuk hal tesebut, para pandai besi seperti dirinya tidak bisa bekerja sendirian. Melainkan harus bermitra dengan ahli-ahli lainnya. Paling utama tentu saja dukungan pemerintah daerah, perbankan.

Menurutnya, para pandai besi di Kalbar harus diberdayakan agar mampu sejahtera. Apalagi kata dia, Kalbar adalah pasar besar untuk industri alat pertanian. “Kebun sawit, karet dan sawah sangat luas di sini. Tentu saja membutuhkan alat pertanian. Kenapa harus beli atau impor dari luar, kalau pandai besi di sini bisa membuat barang yang kualitasnya baik dan harganya bersaing,” pungkas dia.

Selama ini, banyak orang yang menganggap remeh dan enggan menggeluti usaha pandai besi. Boleh jadi, tak banyak yang tahu berapa potensi penghasilan dari pekerjaan menempa besi ini. Kebanyakan orang mungkin menganggap usaha ini adalah ikhtiar yang kuno dan tidak memiliki peluang bisnis pada zaman sekarang. Padahal, usaha pandai besi masih memiliki peluang bisnis yang menjanjikan. Setidaknya, hal itu dibuktikan oleh Hadi. (**)