Pontianak Selangkah Menuju Smart City

Pontianak Selangkah Menuju Smart City

  Kamis, 17 March 2016 13:59   2,441

MENJADIKAN Kota Pontianak sebagai Smart City adalah sebuah keniscayaan. Hal ini bukanlah hanya sekedar wacana, mengingat akhir – akhir ini pemerintah kota Pontianak bahu membahu menggalakkan pembangunan infrastruktur dan  peningkatan kualitas sumber daya manusia baik pejabat pemerintahnya sendiri maupun seluruh lapisan masyarakat.

Smart City secara harfiah mempunyai makna yaitu Kota Pintar, adalah suatu konsep pengembangan, penerapan dan implementasi teknologi yang diterapkan untuk suatu wilayah ( khususnya perkotaan )  sebagai suatu interaksi yang kompleks di antara berbagai sistem yang ada di dalamnya ( I Putu Agus E Pratama : 2013).  Kata City  adalah merujuk pada kota sebagai pusat dari sebuah negara atau wilayah, dimana semua pusat kehidupan berada di dalamnya ( pemerintahan, perdagangan, pendidikan, kesehatan, pertahanan, pusat pemukiman penduduk  dan lain – lain ).

Kota menjadi daya tarik untuk menetap, sehingga setiap tahun jumlah pertambahan penduduk yang tinggal di kota semakin meningkat. Smart City diharapkan mampu menjadi solusi dalam mengatasi segala permasalahan kota dan memberikan dampak positif bagi pemerintahan, kehidupan, transportasi, kualitas hidup, persaingan yang ketat di segala bidang, tentunya dengan memanfaatkan teknologi dan komunikasi yang ada.

Kota Pontianak merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Kota dengan julukan sebagai kota khatulistiwa ini memiliki beragam faktor pendukung yang bisa dijadikan modal untuk menuju Smart City. Pontianak dengan segala pernak pernik kehidupan di dalamnya membutuhkan sistem yang terpadu dalam pelayanan dan aksesbilitasnya, sehingga kesejahteraan dapat dirasakan bersama. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh bapak wakil wali kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, bahwa tata kelola pemerintahan bisa dipadupadankan dengan kecanggihan teknologi yang tentunya lebih memudahkan dan memberikan kenyamanan kepada masyarakat dalam pelayanan (Pontianak Post, 6 Januari 2016).

Konsep Smart City awal mulanya diterapkan di negara Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Awalnya, Smart City bertujuan untuk menciptakan kemandirian daerah dan meningkatkan kualitas layanan publik. Segala konsep dan implementasinya pun sampai sekarang masih berkembang dengan evaluasi dan masukan dari para ahli yang berkompeten di bidang Smart City. Penerapan Smart City mencakup pada berbagai bidang, diantaranya adalah pendidikan, kesehatan, pariwisata, pemerintahan dan lain sebagainya. Smart City dapat dikatakan sebagai konsep kota masa depan untuk kualitas hidup yang lebih baik, dengan berbasis teknologi komputer dan komunikasi.

10 Elemen Smart City

Smart City memiliki 10 elemen penting di dalamnya, yakni meliputi : infrastruktur, modal, aset, perilaku, budaya, ekonomi, sosial, teknologi, politik, dan lingkungan. Kesepuluh elemen ini harus terintegrasi dengan baik satu sama lain di sebuah kota kota, yang merupakan pusat dari segalanya di suatu negara atau wilayah. Peran serta pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, pihak swasta dan akademisi, sangatlah diperlukan dalam mewujudkan Smart City. Diharapkan dengan adanya Smart City ini, tidak hanya pemerintah kota saja yang aktif dalam mengelola sumber daya yang tersedia, tetapi seluruh elemen yang ada di kota tersebut juga ikut berperan aktif dalam mewujudkan “kota yang pintar”, guna meningkatkan taraf hidup yang lebih baik bagi semuanya.

6 Jenis pembagian Smart City

Para ilmuwan tata kota sepakat membagi Smart City menjadi 6 jenis, diantaranya adalah Smart Economy, Smart Mobility, Smart Governance, Smart People, Smart Living, dan Smart Environment. Berikut akan dijelaskan garis besar dari masing-masing pembagian Smart City tersebut. Smart Economy menjadi syarat mutlak yang dimiliki dari sebuah kota apabila disebut sebagai Smart City. Ekonomi merupakan salah satu pilar penopang daerah. Pengelolaan ekonomi hendaknya dilakukan dengan baik, terstruktur dan terkomputerisasi. Ekonomi tidak hanya berkaitan dengan barang dan jasa yang disediakan, akan tetapi juga inovasi, kemampuan daya saing, pendidikan dan kewirausahaan. Kota Pontianak memiliki jumlah penduduk yang besar, serta potensi yang baik berupa infrastruktur, sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Pemerintah kota melalui semua instansi yang terkait hendaknya mengelolanya dengan baik dan maksimal, agar predikat Smart Economy dapat terwujud.

Jenis Smart City yang kedua adalah Smart People, yakni masyarakat cerdas yang mendiami suatu perkotaan. Pada dimensi ini terdapat kriteria proses kreatifitas masyarakat dan modal sosial yang dimiliki masyarakat perkotaan. Kriteria dari Smart People contohnya adalah : tersedianya jenjang pendidikan formal dalam bentuk sekolah dan perguruan tinggi yang merata serta berbasis IT, misalnya penerapan e-learning di dalam sistem kegiatan belajar mengajar ( KBM ), pemanfaatan sistem informasi sekolah, pembelajaran dengan sarana komputer atau laptop serta penyediaan fasilitas internet melalui area hot spot pada fasilitas umum agar bisa diakses para siswa dan mahasiswa. Kriteria yang lainnya misalnya adalah adanya komunitas IT sebagai wadah kreatifitas masyarakat berbasis Teknologi Informasi (IT). Peran komunitas IT ini sangat penting di dalam mewujudkan Smart People,  sehingga diharapkan masyarakat akan semakin melek IT. Apabila kondisi masyarakat telah menjadi smart, maka pondasi untuk mewujudkan Smart City akan mudah tercapai.

Yang ketiga, adalah Smart Governance, yakni bagian atau dimensi Smart City yang mengkhususkan pada tata kelola pemerintahan. Smart Governance meliputi segala syarat, kriteria dan tujuan untuk proses pemberdayaan partisipasi dari masyarakat dan pemerintah secara bersama – sama.  Adanya kerja sama ini diharapkan dapat mewujudkan tata kelola dan jalannya pemerintah yang bersih, jujur, adil dan berdemokrasi, serta kualitas dan kuantitas pelayanan publik yang lebih baik.  Contoh dari penerapan Smart Governance antara lain : disediakannya portal yang terkait dengan informasi terkini dari pemerintahan yang dapat diakses oleh masyarakat baik melalui perangkat komputer maupun mobile. Contoh lainnya adalah penyediaan sistem informasi berbasisi web untuk pelayanan publik, seperti pembuatan KTP, SIM, wajib pajak dan lain sebagainya.

Keempat, adalah Smart Mobility, yakni bagian dari Smart City yang mengkhususkan pada tersedianya transportasi dan mobilitas masyarakat. Dengan adanya Smart Mobility ini diharapkan tercipta layanan publik untuk transportasi dan mobilitas yang lebih baik serta menghapus permasalahan umum di dalam transportasi , misalnya macet, pelanggaran lalu lintas, polusi dan lain sebagainya. Contoh penerapan Smart Mobility pada Smart City adalah : tersedianya pengelolaan lampu trafik di jalan raya yang lebih baik memanfaatkan komputer dan IT, sistem pelayanan transportasi berbasiskan aplikasi android ( seperti yang sudah diterapkan aplikasi ojek online yang sudah ada di beberapa kota besar di Indonesia ), dan lain sebagainya.

Kelima, adalah Smart Environtment, yakni bagian atau dimensi pada Smart City yang mengkhususkan kepada bagaimana menciptakan lingkungan ( environtment ) yang pintar. Untuk mewujudkan Smart Environtment, perlu adanya beragam terapan aplikasi dan komputer dalam bentuk Sensor Network dan Wireless Sensor Network, jaringan komputer, database sistem, mobile computing, sistem operasi, dan beragam teknologi lainnya yang saling terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup dan manusia itu sendiri.

Yang terakhir, yakni Smart Living, yakni cakupan dari Smart City yang menitikberatkan pada terciptanya kehidupan masyarakat yang pintar. Smart Living memiliki syarat, kriteria dan tujuan untuk proses pengelolaan kualitas hidup ( quality of life ) dan budaya ( culture ) yang lebih baik dan pintar. Untuk mewujudkan  Smart Living, perlu adanya beberapa faktor yang harus dipenuhi. Diantaranya adalah : tersedianya fasilitas – fasilitas pendidikan yang memadai bagi masyarakat perkotaan dengan memanfaatkan IT ( education facilities ), contohnya adalah penyediaan sarana internet gratis dan sehat ( bebas dari konten pornografi, kekerasan, bulliying, dll ) bagi masyarakat umum yang ditempatkan di tempat – tempat umum dalam bentuk wifi / wireless. Selain itu, juga tersedianya CCTV yang terpasang menyebar di titik umum, yang memungkinkan terpantaunya aktifitas masyarakat serta pengawasan dari hal – hal yang tidak diinginkan seperti kejahatan atau kecelakaan berlalu lintas. Sistem informasi tentang pariwisata kota juga tersedia, sehingga dengan mudah dapat diakses melalui website atau aplikasi mobile yang compatible. Di bidang fasilitas penginapan, juga terintegrasi sistem online sehingga memudahkan para wisatawan atau turis asing untuk memesan kamar hotel ( reservasi ) baik melalui website atau mobile

Implementasi Smart City

Berkaca pada kota – kota besar di Indonesia yang sudah lebih dahulu menerapkan Smart City, seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, Bandung, Cimahi, Manado danYogyakarta, tidak menutup kemungkinan kota Pontianak akan melangkah mengikuti jejak kota – kota besar tersebut di atas. Berbagai faktor pendukung terwujudnya Smart City  sedang digalakkan oleh pemerintah kota Pontianak. Jumlah penduduk yang demikian besar, pengelolaan sumber daya manusia yang terarah dan terstruktur, serta didukung peningkatan infrastruktur penunjangnya, adalah sebagai modal awal kota Pontianak dalam mewujudkan Smart City. Sekali lagi, hal ini perlu kesamaan visi dan kerja sama, baik pemerintah ( pusat maupun daerah ), pihak swasta, akademisi maupun  seluruh elemen lapisan masyarakat kota Pontianak. Semoga terwujud.

Faisal Riza

wiraswasta, blogger dan traveller