Pontianak Digital Week Dimulai

Pontianak Digital Week Dimulai

  Rabu, 10 Agustus 2016 11:28
PAPARKAN : Bapak Smart City Indonesia, Prof. Dr. Suhono H Supangkat memberikan pemaparan saat pembukaan Pontianak Digital Week (PDW), Selasa (9/8). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Untuk pertama kalinya di Kota Pontianak digelar event digital dan media sosial bernama Pontianak Digital Week (PDW). Saat pembukaan, Selasa (9/8), kegiatan ini turut menghadirkan bapak Smart City Indonesia, Prof. Dr. Suhono H Supangkat untuk berbagi pengetahuan. 

 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Mulai pukul 13.00 WIB, suasana di Taman Alun-alun kapuas mulai ramai dikunjungi. Berbagai kalangan hadir untuk mengikuti pembukaan PDW yang digagas oleh Pontianak Digital Stream (PDS). Mulai dari para pejabat dan pimpinan SKPD Pemkot Pontianak, para penggiat IT, kreator startup, industri kreatif digital dan siswa-siswi sekolah menengah atas terlihat memadati lokasi acara.

PDW merupakan sebuah event inisiatif lokal yang akan membahas bagaimana kekuatan teknologi dan media sosial dapat termanfaatkan dengan baik di masyarakat, membuat perubahan yang berarti dan kehidupan yang lebih produktif dan efisien. PDW sendiri akan berlangsung mulai 9-13 Agustus 2016 di Canopy Center, Jalan Purnama 2.

Ada yang spesial saat pembukaan kemarin, dimana dihadiri oleh pembicara utama yaitu Prof. Dr. Suhono H Supangkat sebagai penggagas ide smart city di Indonesia. Secara singkat, Suhono memaparkan konsep smart city yang ideal untuk diterapkan di seluruh kota.

Menurutnya dalam konsep smart city, yang penting adalah mindset (pola pikir) masyarakat. Intinya bagaimana mengelola sumber daya alam, sumber daya manusia, waktu, serta sumber daya lain yang dimiliki sehingga hidup kita aman, nyaman, dan bahagia. “Mulai dari bagaimana kita mengetahui persoalan, mempelajari, kemudian melakukan aksi dengan benar,” ujarnya.

Konsep smart city adalah mengelola kota dengan baik serta mengatur semuanya dengan benar. Namun bukan semata-mata semuanya harus dalam bentuk digital karena itu bukan tujuan dari smart city. Tujuan smart city yakni kesejahteraan masyarakat. “Aplikasi digital itu hanya sekadar alat bantu. Memang, digital itu penting akan tetapi bukan tujuan, yang jadi tujuan adalah kita hidup dengan benar dengan baik,” jelasnya.

Misalnya dia mencontohkan soal pengelolaan sampah kota dengan benar. Mulai dari masalah utama, di mana sampah berada hingga bagaimana penanganannya secara cepat. “Seperti Wali Kota Pontianak yang bisa dibantu dengan menggunakan WhatsApp, atau aplikasi lainnya sebagai alat bantu memberikan informasi,” katanya.

Dalam penerapan smart city, menurutnya kendala yang sering dihadapi antara lain masalah kemampuan dan niat seseorang. Infrastruktur memang bagian penting dari teknologi. Tapi yang lebih dulu mesti dibenahi menurutnya adalah SDM (sumber daya manusia).

“Karena kalau infrastrukturnya bagus tapi SDM jelek akan percuma. Pemerintah bisa membenahi infrastruktur dengan kerja sama pihak swasta. Yang penting orangnya dulu, menjadi pintar kemudian bisa menggunakan infrastruktur dengan benar,” pesannya.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengakui di Kota Pontianak sudah lama mulai menerapkan konsep smart city. Dia mengatakan kini ada hasil yang bisa dituai dari hal tersebut. “Hasilnya kini bisa dilihat dari disiplin masyarakat yang semakin baik. Areal taman misalnya, tak perlu banyak penjaga, masyarakat sudah tahu apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan,” ujarnya.

Taman bisa dijadikan media edukasi untuk kedisiplinan masyarakat. Dia menekankan pada masyarakat harus disiplin lebih dulu, baru segalanya bisa berjalan dengan baik. “Saya yakin Pontianak dua atau tiga tahun lagi bisa jadi kota yang paling tertib dan disiplin,” ucapnya.

Dia mencontohkan seperti dalam pengelolaan Taman Alun-Alun Kapuas. Setahun lalu, ada lebih dari 200 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di sana, namun kini semua bersih. Tak ada satu pun PKL yang mangkal.

“Bagaimana supaya mereka tidak berjualan lagi, tapi tidak bentrok. Di buat enam bulan direhab, tiga bulan taman buka sampai jam enam sore, tiga bulan sampai jam sembilan malam. Akhirnya sekarang sudah normal dan mereka sudah menerima,” jelasnya.

Menurutnya, smart city bertujuan untuk percepatan kesejahteraan dan kenyamanan bagi siapa saja yang tinggal di kota. Bagaimana mengajak masyarakat memiliki segala sesuatunya demi kenyamanan bersama. Teknologi apapun yang digunakan, jika tidak bisa menciptakan kesejahteraan maka tidak akan bermanfaat.

“Jadi manajemen yang baik, didukung dengan teknologi dan aplikasi yang benar, itu akan memberikan percepatan pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan,” katanya lagi.

Meski begitu, ia mengakui bahwa smart city kerap dihubungkan dengan pemanfaatan teknologi digital. Dalam hal ini, pemkot pun sudah berinovasi dengan mengeluarkan beberapa aplikasi digital, misalnya e-kelurahan. Tapi Sutarmidji menyebutkan aplikasi yang dibuat hanyalah sebatas alat bantu.

“Itu kan hanya alat bantu. Dan kita tidak bergantung pada itu. Menangani segala sesuatu untuk melayani masyarakat itu perlu langkah-langkah cepat dan tidak harus dengan aplikasi dan teknologi, tapi bisa saja dengan langkah bijak, bicara dari hati ke hati juga bisa dilakukan,” paparnya.

Menurutnya, pendekatan diskusi dengan mengubah mindset dan mengajak berpikir maju, juga termasuk dalam bagian smart city. Selama ini, dirinya memanfaatkan aplikasi WhatsApp untuk memperpendek dan mempercepat penanganan masalah kota. “Biasanya setiap ada masalah, misal tiap pagi saya keliling untuk memantau kota, ada daerah yang belum disapu, saya komunikasikan lewat WhatsApp. Dalam enam menit sudah direspon, jadi lebih efisien waktu,” pungkasanya.

Ketua Komisi A DPRD Pontianak Yandi yang juga hadir dalam kesempatan tersebut, berharap jangan sampai ke depan, konsep smart city dengan teknologinya membuat warga justru kesulitan. Ketika semua sudah diganti dengan sistem digital, jangan sampai banyak warga yang ketinggalan tidak bisa bersaing.

“Smart city itu kan yang penting adalah manusianya pintar, didukung dengan segala sesuatunya yang pintar juga. Jadi jangan hanya nanti kecanggihan teknologi, warganya tidak smart, jadi masalah,” ujarnya.

Dia menekankan agar sumber daya manusia di kota ini ditingkatkan lebih dulu baru berbicara teknologi. Manusia menjadi bagian terpenting dalam konsep segar ini, termasuk di jajaran pemerintahan. “Harusnya kemampuan aparatur bisa ditingkatkan untuk bisa mengikuti konsep tersebut,” katanya.

Secara pribadi, Yandi mendukung konsep tersebut. Hanya saja, ia mengingatkan agar konsep ini  jangan sampai menimbulkan persoalan baru. “Jangan sampai kotanya smart, malah masyarakatnya tidak, lalu ditinggal oleh zamannya, kasihan yang seperti itu,” tutupnya. (*)