Pondoknya Hampir Roboh, Rumah tak Kunjung Rampung

Pondoknya Hampir Roboh, Rumah tak Kunjung Rampung

  Senin, 18 April 2016 10:31
RUMAH IDAMAN: Japri hanya bisa berusaha sebisa mungkin untuk dapat membangun rumah idamannya. Sementara dirinya tinggal di rumah berukuran 4 x 6 meter yang nyaris roboh. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Japri (35), warga Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, kini hanya bisa bermimpi untuk memiliki rumah baru. Saat ini, rumah yang dihuninya bersama istri tercinta dan empat anaknya 10 tahun terakhir, kondisinya begitu memprihatinkan. Kediamannya tersebut hanya terbuat dari papan dengan beratap daun. Belum lagi di saat air pasang, maka lantai bangunan rumah berukuran 4 x 6 meter ikut tergenang air.

DANANG PRASETYO, Sukadana

SORE itu, dengan cuaca cukup cerah, saya mencoba menyambangi kediaman Japri. Dia baru saja pulang menghabiskan lelah, berkerja di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit. Terlihat lesu dari raut wajahnya, menggambarkan keputusasaanya untuk memiliki rumah baru yang telah didambakanya selama 10 tahun terakhir. Dia beserta keluarga hidup keseharian dengan serba keterbatasan di rumah yang hanya berukuran 4 x 6 meter tersebut. “Bagaimana mau meneruskan bangunan rumah, untuk makan saja susah,” singkatnya kepada Pontianak Post.

Saat ini, bagunan rumah barunya memang hampir rampung. Namun tahap pengerjaanya sudah terlantar selama tiga tahun lantaran minimnya biaya untuk meneruskan. Diakui dia, untuk mambangun rumah tersebut bukan semua dari kantong pribadinya, melainkan bantuan dari pemerintah.

Dia mengaku untuk bahan bantuan rumah (BBR) yang diberikan pemerintah daerah Kabupaten Kayong Utara melalui Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertras) tidaklah cukup. Akibatnya, rumah yang mulai dibangunnya sejak 2012 silam, belum bisa ditempatinya, lantaran belum memiliki lantai.

“Saya mendapatkan bantuan pasir satu truk, semen 8 sak, dan uang 3 juta (rupiah) untuk upah tukangnya. Dan total semua, dari bahan material dan upah tukang senilai 5 juta rupiah. Bisa dilihat dari dana segitu yang dibantu tidaklah cukup untuk mendirikan sebuah rumah. Tetapi ya sudahlah, mugkin masih ada jalan lain untuk menyelesikan rumah itu,” ujar Japri.

Pria yang memiliki empat anak ini beralasan sampai sekarang belum pindah karena rumah yang sedang dikerjakannya belum berlantai. Sedangkan penghasilannya hanya pas-pasan untuk makan sehari-hari, sehingga memaksanya untuk tetap tinggal di rumah yang  sudah ditempati 10 tahun lamanya.

“Kayu, seng, dan sebagian semen itu harus saya penuhi dengan menggunakan uang sendiri. Sudah berapa lama saya menyicil membeli bahan-bahannya, tetapi sampai sekarang belum juga bisa ditempati, karena belum layak untuk dihuni,” akunya.

Rumah tempatnya bernaung kini kondisinya sangat memprihatinkan. Terlebih, rumah tersebut jika air pasang sering terendam air. “Tongkat rumahnya aja menggunakan kayu bulat. Atap daun dan papan seadanya. Dengan penghasilan satu juta (rupiah) perbulan, tidak mungkin rasanya saya bisa melanjutkan pembangunan rumah saya,” ucapnya.

Untuk saat ini, dia hanya bisa berusaha sebisa mungkin, secara perlahan dapat membangun rumah baru miliknya. “Ya pelan-pelan sajalah. Dengan (penghasilan) satu juta (rupiah) dan empat anak saya, saya coba berusaha sebisa mungkin dapat menyelesaikan bagunan rumah dambaan saya itu,” katanya. (*)

Berita Terkait