Polri Belum Tergugah Tes Kejiwaan Berkala

Polri Belum Tergugah Tes Kejiwaan Berkala

  Sabtu, 27 February 2016 08:14
Foto Humas Polda Kalbar

Berita Terkait

JAKARTA - Kasus mutilasi yang dilakukan Brigadir Petrus Bakus pada dua anaknya diduga karena anggota Polres Melawi itu karena sakit jiwa, tepatnya skizofrenia. Prilaku keji karena sakit jiwa itu, sayangnya belum membuat Polri tergugah untuk melakukan tes sekehatan jiwa secara berkala. Padahal, beban kerja seorang anggota polisi begitu besar dan memicu stres.

            Merespon kejadian tersebut, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menegaskan, hingga saat ini anggota Polisi itu terus diperiksa. Dugaan penyebabnya karena sakit skizofrenia. ”Namun, ada laporan juga kalau kesurupan saat itu,” tuturnya.           

Apa yang akan dilakukan untuk mencegah kejadian yang sama pada anggota kepolisian? dia menuturkan bahwa sebenarnya tes kejiwaan telah dilakukan untuk memfilter setiap orang yang ingin bergabung dengan kepolisian. ”Namun, ternyata untuk pelaku ini memang sudah sejak beberapa tahun lalu terindikasi sakit jiwa,” ujarnya.

            Namun, sayang indikasi itu tidak diketahui oleh atasannya atau pejabat kepolisian. Sehingga, kejadian tersebut memang tidak bisa dicegah. ”Sejak empat tahun lalu, kalau sesuai laporan,” jelasnya.          Apakah ada rencana untuk melakukan tes berkala? Dia mengaku belum ada keputusan tersebut. Yang penting, saat rekrutmen itu sudah ada serangkaian tes, salah satunya soal tes psikologi dan kejiwaan. ”Kan sudah pernah, buat apa lagi,” ujarnya.

            Terkait pengawasan melekat yang seharusnya dijalankan atasannya, Badrodin juga mengelak. Menurutnya, pengawasan terus dilakukan, namun sakit semacam itu belum tentu terlihat gejalanya. ”Gejalanya muncul hanya saat ada masalah. Tapi saat kerja belum tentu kelihatan sakitnya,” paparnya.            Sementara Inspektorat Pengawas Umum (Irwasum) Polri Komjen Dwi Priyanto menjelaskan, tindakan yang dilakukan anak buahnya merupakan pidana. Tentunya, hal semua orang harus diproses secada adil di mata hukum. ”Kita akan hukum sesuai perbuatannya. Tapi tentunya dicek secara mendalam soal kesehatan jiwanya,” jelasnya. (idr/wan)

Berita Terkait